Self Art & Culture

Makna Sebuah Hidangan

Arimbi Nimpuno

@arimbinimpuno

Chef

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Saya seorang ibu, home maker, chef, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bagaimana membuat suasana rumah lebih akrab dan membetahkan. Almarhum ibu saya adalah seorang anak tunggal. Jadi semasa hidupnya, beliau selalu senang bila rumahnya ramai dikunjungi teman-teman baik teman pribadi beliau maupun teman-teman anak-anaknya. Sudah pasti kalau ada teman saya atau kakak-kakak bertamu, beliau akan mengajak mereka ngobrol. Suasana rumah pun selalu terasa hangat. Ruang tamu keluarga kerap diisi dengan percakapan politik (ini jaman dulu, ya), canda tawa, berbagi cerita kehidupan, concern beliau pada kejadian yang sedang berlangsung, dan lain sebagainya. Beliau tidak bisa memasak, tetapi ia selalu memastikan ada makanan camilan tersedia. Kulkas kami tidak pernah kosong, ada saja bahan makanan yang bisa diolah seketika. Sederetan toples antik berwarna-warni yang diisi aneka kerupuk tersusun rapi di meja khusus. You name it, mulai dari kerupuk udang, emping, keripik tempe, rempeyek, kerupuk ikan, dan lain sebagainya. Food has always become a part of me.

Singkat cerita, tahun 2009 saya memulai karir di dapur dan lifestyle. Semua ilmu dan teknik kuliner saya serap dalam sekejap. Setiap bulan selalu ada saja kontribusi saya di beragam majalah gaya hidup. Mengajar memasak juga merupakan salah satu passion saya. Dan tentunya, setiap kali dapat kesempatan untuk mencoba masakan chef berbintang Michelin, saya tidak pernah melewatkannya. Foto makanan demi makanan saya kumpulkan dan dengan bangga saya tebarkan di arena sosial media saya. Ada kepuasan batin dan ego tersendiri bilamana saya bisa membuktikan bahwa “saya mampu, saya juga bisa” melakukan apa yang dilakukan idola-idola saya waktu itu seperti Martha Stewart, Donna Hay, Nigella Lawson, Thomas Keller, David Chang, dan beberapa rentetan nama lainnya. Cerita lama!

Foto makanan demi makanan saya kumpulkan dan dengan bangga saya tebarkan di arena sosial media. Ada kepuasan batin dan ego tersendiri bilamana saya bisa membuktikan bahwa saya mampu dan saya juga bisa.

Kisah bergulir cepat hingga pada tahun 2017, saya mulai bosan dengan segala bentuk makanan yang terkesan mewah dan kompleks. Saya pun mulai merasa terganggu melihat foto-foto makanan di sosial media. Tersentak akan betapa dangkalnya persepsi manusia terhadap makanan. Seolah, kebanyakan orang lupa keberadaan makanan itu sebenarnya untuk apa. Saya mulai melakukan sebuah pencarian, “Makanan apa sih yang sebenarnya lekat di kepribadian saya?” Karena memang pada dasarnya saya lebih menguasai teknik masakan barat, proses pencarian dimulai dengan makanan fusion, lalu Indonesia. Selang berapa waktu beralih ke makanan Timur Tengah. Sempat juga ke makanan sehat. Dan akhirnya, saya tiba di ruang dan waktu di mana selera dan citarasa saya sekarang – jauh lebih sederhana.

Tersentak akan betapa dangkalnya persepsi manusia terhadap makanan. Seolah, kebanyakan orang lupa keberadaan makanan itu sebenarnya untuk apa.

Dua tahun terakhir ini, saya banyak belajar tentang pendekatan diri ke Sang Pencipta. Perjalanan yang tidak mudah dan banyak tantangannya. Satu prinsip yang bisa saya pegang dan saya anggap, sesuatu yang sangat nyata, bahwa hubungan saya dengan Tuhan layaknya hubungan saya dengan ayah. Saat bertumbuh dewasa, sosok ayah amat dekat dengan saya. Tuhan, layaknya seorang ayah yang selalu ingin menyediakan anaknya dengan segala sesuatu yang menurutnya adalah yang terbaik. Kalau sebelumnya, bahan makanan yang terdengar asing dan jarang digunakan akan mengundang perhatian saya, sekarang ini saya lebih tertarik dengan bahan makanan yang tersedia di sekeliling saya. Am I going organic? Maybe. Am I going holistic? Maybe. Am I leaning more to spiritual approach to food?

Tuhan, layaknya seorang ayah yang selalu ingin menyediakan anaknya dengan segala sesuatu yang menurutnya adalah yang terbaik.

Sekarang ini banyak bahan makanan rumahan, organik, dan diproduksi secara lokal. Saya belajar lagi untuk menghargai rasa dan bentuk dari bahan itu sendiri tanpa banyak embel-embel bumbu yang sebenarnya menutupi rasa aslinya. Misalnya, sayur yang tidak mengandung pestisida akan terasa lebih manis dan segar. Ikan salmon yang tidak disuntik dengan pewarna salem (ya, mereka melakukannya di peternakan ikan) akan terasa lebih ‘berisi’. Foie Gras? Siapa yang masih akan memakannya kalau tahu bagaimana angsa-angsa tersebut dijejali makanan sedemikian rupa sehingga hati mereka menggelembung secara tidak alamiah. Smoothies dan minuman ‘sehat’ lainnya, yakin akan kadar gulanya? Bagi saya, sekarang ini, segala sesuatu saya lakukan dengan penuh kesadaran. Makna dari makanan itu menjadi apa yang dapat menunjang kesehatan jasmani dan rohani saya. Bukan mendewakan sebuah kreasi makanan, tapi lebih menghargai arti dari kehidupan yang selebihnya lewat makanan. Tuhan memberikan segala sesuatu di bumi ini untuk kita, layaknya seorang Ayah yang menyediakan sandang pangan untuk kelangsungan hidup kita. Treat your food with respect and love maka alam semesta akan menyediakan kita dengan apa yang memang sudah menjadi rancangan Tuhan.

Hubungan saya dengan makanan perlahan mulai saya perbaharui. Memang, kadang saya masih pergi ke restoran kelas Michelin, tapi bukan lagi untuk memamerkan bahwa ‘saya mampu’ namun saya mencoba benar-benar menikmati satu persatu bahan makanan yang ada di piring itu. Dari bahan makanan utama, sampingan, sampai saus dan seringkali garnish-nya. Dan dengan tidak terlalu seringnya saya melewati momen tersebut, makin saya bisa menghargai hadiah yang Tuhan berikan kepada saya, citarasa yang bisa merasakan, serta pengetahuan dan keahlian di dapur.

Makna dari makanan itu menjadi apa yang dapat menunjang kesehatan jasmani dan rohani saya. Bukan mendewakan sebuah kreasi makanan, tapi lebih menghargai arti dari kehidupan lewat makanan

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021