Self Lifehacks

Makna Kepercayaan

Terkadang kita mungkin tidak sadar ketika fokus pada ritual keagamaan seringnya kita malah punya keinginan untuk lebih religius dari orang lain. Kemudian kita malah melupakan sisi spiritual dari ritual keagamaan itu sendiri. Bahkan kita bisa sampai lupa pada hubungan personal kita dengan Tuhan. Tapi memang penemuan sisi spiritualitas seseorang bisa berbeda-beda. Gue sendiri mengalami transformasi spiritual baru setelah mengalami breakdown. Seperti juga yang ditulis oleh Brene Brown dalam bukunya The Gift of Imperfection bahwa ketika seseorang mengalami breakdown di saat yang sama ia bisa mengalami spiritual awakening atau kesadaran spiritual. Jadi ketika kekayaan yang dimiliki selama ini tidak bisa menyelamatkan dia, teman-teman serta keluarga yang ada dalam hidup tidak bisa menyelamatkannya, akhirnya ia akan menghadirkan satu sumber yang bisa menyelamatkannya yaitu Tuhan. Itu juga yang gue alami. Ada satu masa kelam di hidup gue yang akhirnya mempertemukan dengan kesadaran spiritual itu. Gue sempat mengalami depresi ringan yang menaruh gue pada titik breakdown tersebut. Tapi setelahnya gue justru menemukan sebuah landasan untuk menaruh keyakinan lebih dalam pada Tuhan.

Terkadang kita mungkin tidak sadar ketika fokus pada ritual keagamaan seringnya kita malah punya keinginan untuk lebih religius dari orang lain. Kemudian kita malah melupakan sisi spiritual dari ritual keagamaan itu sendiri. Bahkan kita bisa sampai lupa pada hubungan personal kita dengan Tuhan.

Jujur dulu gue tidak punya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Bahkan bisa dibilang tidak mencari. Gue cuma mengikuti apa yang diajarkan nyokap tentang Tuhan. Sehingga gambaran gue tentang Tuhan adalah Tuhan yang diciptakan nyokap. Lama kelamaan pun gue jadi sadar bahwa ada dua konsep Tuhan yaitu Tuhan yang menciptakan manusia dan Tuhan yang diciptakan oleh manusia. Sayangnya Tuhan yang diciptakan manusia seringnya seolah digambarkan sebagai Tuhan yang suka menghukum, yang akan mengantar manusia ke neraka kalau melakukan kesalahan. Sebaliknya, kalau kita punya hubungan yang intim dengan Tuhan, mengenal karakternya lebih dalam, Tuhan yang menciptakan manusia adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Tuhan yang selalu memaafkan. Pemahaman ini pun baru hadir di dalam diri saat gue punya hubungan yang dekat dengan-Nya. 

Ibaratnya begini, kalau kita melihat Ahmad Dhani di media atau di acara televisi tanpa kenal karakter aslinya seperti apa kita bisa merasa dia adalah seseorang yang dingin, galak dan lain-lain. Padahal gambaran tersebut bisa jadi sengaja diciptakan oleh media atau oleh para kru televisi saja. Ahmad Dhani yang gue kenal baik dan dekat adalah Ahmad Dhani yang sama sekali berbeda dengan gambaran di televisi itu. Ini karena gue menjalin kekerabatan dan hubungan pertemanan yang baik dengan dia. Begitu juga dengan Tuhan. Kadang karena tidak punya hubungan yang baik dan dekat dengan Tuhan, kita hanya punya gambaran Tuhan yang diberitahu oleh pemuka agama atau orang tua. Padahal belum tentu semuanya benar.

Saat punya pemahaman sendiri tentang Tuhan kita jadi bisa mengenal diri sendiri juga. Bisa tahu apa misi kita hidup di dunia. Gue sendiri percaya kalau gue ada di dunia adalah untuk menjadi “microphone” atau pengeras suara Tuhan dalam menyebarkan cinta, suka cita dan kedamaian. Kenapa gue bisa sepercaya diri itu? Ini kembali ke refleksi diri gue yang menemukan bahwa selama 17 tahun berkarier di dunia hiburan ternyata secara sadar atau tidak sadar memang tiga hal itulah yang selalu gue bawa. Lewat Damn! I Love Indonesia, gue menyebarkan cinta kepada negara. Begitu juga waktu jadi produser film Susi Susanti: Love All.  Lewat acara televisi, gue menyebarkan suka cinta. Misalnya saat menjadi pembawa acara Indonesian Idol dengan menghadirkan candaan dan hiburan selama acara. Terakhir adalah kedamaian yang berusaha gue sebarkan lewat tindakan atau pemikiran sehari-hari. Seperti misalnya baru-baru ini gue mengucapkan Idul Fitri lewat Instagram dengan mengutip hadits Nabi Muhammad. Gue memang bukan orang Muslim. Tapi gue merasa tidak ada salahnya untuk tahu atau belajar apa yang diajarkan agama lain. Sebab sebenarnya hanya agama kita saja yang beda Tuhannya cuma satu. 

Saat punya pemahaman sendiri tentang Tuhan kita jadi bisa mengenal diri sendiri juga. Bisa tahu apa misi kita hidup di dunia.

Menurut gue manusia punya kecenderungan untuk takut sama sesuatu yang kita tidak tahu. Seperti kalau kita tidak tahu apa yang diajarkan agama lain. Apalagi dengan adanya politisasi agama yang memunculkan isu-isu keagamaan sampai memecah belah dan membuat kita seperti merasa terancam oleh agama lain. Padahal pesan dari semua agama sebenarnya sama. Ajarannya saja yang berbeda. Sempat beberapa waktu lalu gue berdiskusi panjang dengan Ahmad Dhani tentang Islam. Di diskusi itu gue mendapatkan satu benang merah antara kepercayaan di Islam, di agama gue sendiri dan di agama-agama lain yaitu tentang berserah. Ya, semua ajaran agama sebenarnya mengajarkan kita untuk berserah pada Tuhan. Melepaskan segala upaya untuk berusaha mengendalikan apa yang ada di luar kendali kita dan membiarkan Tuhan untuk mengendalikannya. Jadi kenapa kita harus mendebatkan hal-hal lain sampai melupakan kedamaian antar umat beragama hanya karena cara menjalaninya saja yang berbeda?

Semua ajaran agama sebenarnya mengajarkan kita untuk berserah pada Tuhan. Melepaskan segala upaya untuk berusaha mengendalikan apa yang ada di luar kendali kita dan membiarkan Tuhan untuk mengendalikannya.

Seperti yang gue bilang di awal, pemahaman spiritual seperti ini baru bisa didapatkan kalau kita mau fokus pada Tuhan ketimbang ritual keagamaan itu sendiri. Dari pengalaman pribadi, ketika menjadi seseorang yang lebih spiritual gue lebih jarang panik, khawatir, cemas, bahkan sudah tidak lagi pernah mengalami panik attack tengah malam dan buat pikiran kacau. Semua itu karena gue mengenal karakter Tuhan yang menciptakan gue dan percaya rasa sayang-Nya begitu besar untuk menyelamatkan gue. Sehingga gue cuma perlu berserah dan yakin Dia-lah yang akan mengurus semuanya. Gue pun berharap siapa saja yang membaca artikel ini semoga bisa mencoba untuk punya hubungan intim dengan Tuhan yang menciptakan kalian bukan Tuhan yang diciptakan oleh orang di sekitar kalian. 

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021