Self Lifehacks

Makna Kebaikan

Sejatinya, tidak ada seorang pun di dunia ini diciptakan untuk menjadi manusia yang tidak baik. Semua orang pasti memiliki kebaikan di dalam dirinya. Biasanya ketika bertumbuh dan berperilaku tidak baik, banyak faktor yang memengaruhi perilakunya itu. Bisa karena faktor internal yaitu sesuatu yang tidak bisa dikendalikan olehnya. Misalnya orang tersebut mengalami gangguan mental sampai menjadi sosiopat. Akhirnya, dia melakukan tindakan yang mengganggu norma sosial dan merugikan orang lain. Sebaliknya, ada faktor eksternal yang memengaruhi seseorang berperilaku buruk yaitu pola asuh atau lingkungan yang memengaruhinya untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri sehingga melakukan tindakan yang merugikan atau menyakiti orang lain. Saya percaya setiap manusia pada dasarnya punya sisi baik, namun karena adanya faktor eksternal tersebut, akhirnya berperilaku buruk. Pada akhirnya terserah kita, apakah mau mengendalikan atau tidak.
 
Jadi kalau ditanya kebaikan artinya apa? Menurut saya, kebaikan adalah perilaku yang membawa dampak positif bagi orang lain, entah mereka yang ada di sekeliling kita atau masyarakat luas. Kita melakukan sebuah tindakan yang berasal dari niat untuk membawa perubahan yang positif  bagi diri sendiri, lingkungan, komunitas, dan bagi kita semua. Lalu bagaimana jika ada seseorang yang berbuat baik tapi niatnya untuk pamer? Kita tidak akan pernah tahu niat dalam hati seseorang. Daripada mencoba untuk mencari tahu dan justru menuduh yang belum tentu benar, kita hakimi saja apa yang kelihatan. Lagi pula, lebih baik ada semakin banyak orang yang berbuat baik walaupun karena pamer, ketimbang tidak ada orang yang melakukan kebaikan sama sekali.

Kebaikan adalah perilaku yang membawa dampak positif bagi orang lain, entah mereka yang ada di sekeliling kita atau masyarakat luas.

Berbuat baik pada diri sendiri juga merupakan kewajiban kita sebagai umat manusia. Kita perlu menjaga diri sendiri dari bahaya dan hal-hal yang menimbulkan dampak negatif dalam kehidupan kita. Contohnya mengkonsumsi nutrisi yang menyehatkan tubuh, tidur dan istirahat cukup, belajar hal-hal positif, serta berinteraksi dengan cara yang baik dengan sesama, lingkungan dan semesta. Ini adalah tugas kita sebagai manusia, apalagi sebagai umat beragama atau makhluk yang punya sistem kepercayaan ( believer) untuk mengamalkan atau mengimplementasikan sifat-sifat ketuhanan. Sifat-sifat ketuhanan adalah memelihara apa yang ada di diri, sekitar, dan semesta dengan cara berperilaku baik. Artinya kita bisa berguna bagi orang lain dan tidak membawa dampak negatif bagi orang lain. Tidak menggunakan indera yang kita punya untuk menyakiti orang lain, alam dan makhluk hidup lainnya. Soal tujuannya mulia atau hanya sekadar pamer, yang penting berbuat baik dulu. Bahkan dalam agama yang saya anut, ditekankan bahwa orang yang baik adalah orang yang bisa membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya. 
 
Tentu akan lebih ideal jika seseorang melakukan kebaikan dengan niat yang tulus, ingin membuat perubahan yang baik bagi orang lain, lingkungan sekitar bahkan dirinya sendiri. Semua kebaikan yang kita lakukan adalah investasi hidup. Kalau niatnya tulus, ada tambahan pahala, dicatat oleh malaikat. Sedangkan yang niatnya hanya karena ingin mendapat pujian sosial atau agar tidak dihukum, insentif untuk dirinya tentu akan berbeda. Ketika tulus melakukan kebaikan, kita bisa mengalami kepuasan batin dan merasakan kebahagiaan. Perasaan bahagia ini nantinya mengalirkan hormon serotonin dan dopamine dalam diri kita. Pada akhirnya ada penghargaan diri dan motivasi yang terus tumbuh. Maka, kebaikan yang tulus bisa membuat kita terhindar dari pikiran negatif yang bisa berdampak membahayakan  diri karena bisa membuat kita  terjebak dalam pikiran dan perilaku negatif.

Ketika tulus melakukan kebaikan, kita bisa mengalami kepuasan batin dan merasakan kebahagiaan.

Bentuk kebaikan pun bermacam-macam. Seringnya kebaikan erat dikaitkan dengan perilaku memberi. Saya pun  setuju kalau ada yang mengatakan  “Orang baik adalah orang yang suka memberi”. Akan tetapi memberi tidak memiliki batas yang sempit. Memberi tidak hanya sekadar soal materi. Menurut saya, memberi perhatian jauh lebih sulit daripada memberi materi. Begitu pula dengan memberi waktu. Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli. Kalau sudah hilang, ia tidak bisa kembali. Sehingga waktu nilainya amat berharga untuk diberikan pada orang lain. Memberi senyum juga bernilai tinggi. Senyum sama seperti kita bersedekah. Kita membagikan kebahagiaan pada orang lain, memancarkan energi positif dan kehangatan kepada orang lain. Terlebih lagi tenaga. Nilainya sangat berharga. 

Saya pun cukup setuju kalau ada yang bilang “Orang baik adalah orang yang suka memberi”. Akan tetapi memberi tidak memiliki batas yang sempit. Memberi tidak hanya sekadar soal materi.

Pemberian materi, bagi saya, memiliki nilai paling kecil dibandingan dengan waktu dan tenaga yang memerlukan pengorbanan. Seperti misalnya donor darah. Kita memberikan sesuatu dari tubuh kita untuk orang lain. Sama luar biasanya dengan mereka yang sudah meninggal dan menyumbangkan organ-organ tubuhnya pada lembaga ilmu pengetahuan agar para ilmuwan bisa meneliti cara tubuh manusia bekerja. Pemberian semacam ini nilainya amat mahal dan kita harus berterima kasih pada mereka yang bersedia melakukan itu. 

Berkata begini, saya tidak juga mengecilkan mereka yang memberikan materi. Seperti contohnya Bill Gates. Ia menyumbangkan hampir 90% dari hartanya untuk umat manusia. Ini bukan soal jumlah uang yang didonasikan tapi presentase sumbangan yang diberikan sangat besar dibanding dengan harta yang dimiliki. Dibutuhkan ketulusan hati dan kebijaksanaan untuk dapat melakukan itu.

Kemudian di Indonesia juga ada seorang tukang becak bernama Syamsudin asal kota Banjarmasin. Dalam satu hari ia mendapat penghasilan sebesar Rp.20.000,-. Dari penghasilannya, ia membeli bibit pohon sejumlah lima ribu rupiah kemudian menanamnya di seluruh pelosok kota secara sukarela. Bayangkan, seorang yang sederhana, tidak punya tingkat pendidikan tinggi, namun punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Ia rela membagikan 25% penghasilan yang didapatkan dengan tenaga, keringat, dan susah payah untuk diberikan kepada masyarakat. Saya justru sangat malu dengan bapak ini dan menurut saya dia lebih luar biasa lagi dari Bill Gates. Seseorang yang bisa tetap berbagi dengan orang lain walaupun dengan segala kesulitan dan kekurangannya, dialah orang yang layak disebut orang baik. 

Seseorang yang bisa tetap berbagi dengan orang lain walaupun dengan segala kesulitan dan kekurangannya, dialah orang yang layak disebut orang baik. 

Related Articles

Card image
Self
On Marissa's Mind: Digital Minimalism

"Di dunia yang banjir informasi tidak relevan, kejernihan berpikir adalah kekuatan", kata Yuval Noah Harari. Maka itu saya jadi digital minimalist. Menurut penulis buku Digital Minimalism, Cal Newport, Digital minimalism adalah filosofi penggunaan teknologi dimana seseorang memusatkan waktu online-nya hanya pada segelintir aktifitas yang telah ia pilih dengan cermat dan membawa manfaat optimal bagi dirinya. 

By Marissa Anita
20 February 2021
Card image
Self
Sensasi Nostalgia

Nostalgia dalam dosis dan konteks yang tepat merupakan sesuatu yang menyenangkan. Nostalgia dapat membuat kita mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, apa yang telah kita lalui, dan membuat kita menghargai proses kehidupan.

By Dewi Lestari
20 February 2021
Card image
Self
Bercakap Bersama Muhammad Khan: Meninggalkan Smartphone

Saya bercakap bersama seniman Muhammad Khan, mendengarkannya berbagi tentang keuntungan dan kerugian meninggalkan smartphone; fenomena pertemanan yang nyata dan tidak nyata di medsos; pencitraan manusia secara virtual; dan bagaimana ia merebut kembali waktu yang dulu terbuang di dunia maya untuk hal-hal yang membawa kenikmatan nyata dalam hidupnya.

By Marissa Anita
13 February 2021