Self Health & Wellness

Makan Untuk Hidup, Hidup Untuk Makan

Perbincangan mengenai topik eating disorder rasanya memang masih belum banyak dibahas terlebih di Indonesia. Saat ini saya sedang bekerja sebagai seorang ahli gizi yang sudah teregistrasi dan fokus dalam pembahasan mengenai eating disorder dan disordered eating. Saya juga memberikan konsultasi mengenai nutrisi, baik untuk perorangan maupun corporate wellness. 

Awal mula mengapa saya ingin mendalami ilmu nutrisi dengan spesialisasi eating disorder adalah karena memang hal ini pernah saya alami sendiri. Berawal dari perundungan yang terjadi saat saya masih di bangku SD karena badan saya yang lebih besar daripada teman-teman lainnya. Saat memasuki kelas 6 dan bersiap untuk naik ke SMP, mulai muncul pikiran untuk menjalani diet agar bisa memiliki tubuh yang kecil seperti anak-anak lain. 

Diet yang saya lakukan waktu itu juga hanya berdasarkan pencarian di internet, media sosial, serta berita artis atau influencer yang sudah menjalani program diet. Mulai dari jus detox, diet rendah karbohidrat, hingga makan sekali sehari juga pernah saya coba. Upaya menurunkan berat badan ini terus berlanjut hingga saya kuliah, lalu muncul pertanyaan apakah saya selama-lamanya akan seperti ini? Apakah ini normal? Akhirnya saya memutuskan mengambil pendidikan gizi karena memang lebih fokus pada pola makan dan gaya hidup. Saat mengambil course nutritionist di Inggris, saya juga sedang mengalami eating disorder. 

Eating disorder sendiri adalah gangguan kebiasaan makan yang tidak sehat, tapi memang untuk seseorang bisa didiagnosis eating disorder juga perlu melalui beberapa tahapan. Umumnya dimulai dari diet ketat yang kemudian berubah menjadi obsesi karena menganggap hasilnya memuaskan. Setelah diet ketat kemudian muncul keinginan untuk melakukan berbagai cara untuk mempercepat hasil yang diinginkan. Di tahap ini biasanya muncul kebiasaan makan yang tidak sehat yang biasa disebut dengan istilah disordered eating. Ini adalah sebuah istilah untuk menjabarkan sebuah fase dalam gangguan pola makan, jadi tidak ada diagnosa secara klinis.

Pada dasarnya kita bisa tau kalau memang kita sedang mengalami kebiasaan makan yang tidak sehat. Tanda-tanda dari eating disorder dan disordered eating sebenarnya sama, tapi frekuensi, intensitas, dan durasinya akan menjadi lebih tinggi pada tahap eating disorder dan ini butuh diagnosa secara medis. 

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan eating disorder, secara internal maupun eksternal. Secara internal, eating disorder bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi, orang yang memiliki riwayat keturunan eating disorder atau disordered eating memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami hal serupa. Saat menjalani diet ketat, sulit untuk bisa menjanjikan bahwa seluruh keperluan nutrisi harian seseorang terpenuhi dengan tepat. Jika seseorang kelebihan atau kekurangan nutrisi, ini juga berpengaruh pada keseimbangan hormon dalam tubuh.

Selain itu, eating disorder juga erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang. Permasalahan umum yang memicu eating disorder sebenarnya bukan berakar dari pola makan tetapi bisa juga karena trauma atau depresi yang dialami oleh individu. Mungkin ia pernah kehilangan pekerjaan atau bahkan orang yang ia sayangi, hal ini juga bisa menjadi faktor penyebab eating disorder.

Berikutnya faktor eksternal. Pertama adalah lingkungan, bagaimana cara pandang teman atau keluarga kita dalam melihat penampilan atau makanan. Kedua internet, media sosial sekarang adalah salah satu tempat kita memeroleh pemahaman akan bentuk tubuh yang dianggap ideal. 

Sebetulnya hal ini juga bisa kita cegah dengan mengetahui tanda-tanda awal eating disorder. Pertama, program diet ketat yang menimbulkan rasa cemas atau bersalah ketika kita makan terlalu banyak atau mengonsumsi makanan-makanan yang dianggap tidak sehat. Kedua, berat badan yang bisa sangat berfluktuasi. Ketiga, kebiasaan makan kompulsif atau yang biasa disebut dengan binge eating. Jadi mereka menjadikan makan sebagai coping mechanism. Keempat, merasa harus membayar rasa bersalah setelah makan dengan olahraga, puasa, atau purging.

Setelah memahami dan menemukan tanda-tanda ini pada kebiasaan makanmu, cobalah untuk konsultasi dengan profesional untuk memastikan apakah dirimu memiliki eating disorder atau tidak. Selama ini kita mungkin hanya fokus pada tujuan diet, biasanya untuk menurunkan berat badan atau gula darah tanpa menyadari prosesnya. Padahal proses diet yang salah bisa menimbulkan pengaruh negatif secara jangka panjang ke tubuh kita. Jadi, sebaiknya stop diet ketat dan sesuaikan program diet dengan pola hidup kamu. Jangan hanya fokus pada tujuan akhir tapi juga proses yang harus dijalankan. 

Selama ini kita mungkin hanya fokus pada tujuan diet, biasanya untuk menurunkan berat badan atau gula darah tanpa menyadari prosesnya. Padahal proses diet yang salah bisa menimbulkan pengaruh negatif secara jangka panjang ke tubuh kita.

Setiap orang akan punya waktu yang berbeda untuk kembali pulih. Saat mendapat diagnosa eating disorder dari psikolog di Inggris, saya butuh 10 tahun untuk pulih, karena mungkin harus menjalankan ini sendiri. Saya selalu menyampaikan tiga hal yaitu thoughts, emotional, dan behaviour.

Semua berawal dari pola pikir kita yang kemudian membentuk emosi dan kita tunjukkan dengan cara kita berperilaku. Jadi, cara kita hidup sebenarnya didasarkan pada apa yang kita pikirkan dan respon yang kita berikan dalam situasi yang sedang dihadapi.

Selama proses pemulihan eating disorder yang tentunya harus didampingi oleh tenaga ahli, coba cari hal lain yang bisa membuatmu tenang selain makanan. Ada banyak hal lain dalam dirimu yang bisa kamu banggakan dan coba beraktivitas tanpa terus menerus memikirkan makanan atau bentuk tubuhmu. Dengarkan tubuh kita, kapan kita lapar atau kenyang.

Kalau kamu punya teman atau keluarga yang didiagnosis eating disorder, kita bisa memberi dukungan dengan mendengarkan mereka. Jangan hakimi penampilan fisik mereka, apa yang mereka makan, atau apa yang mereka suka makan. Sebaiknya jangan buka percakapan mengenai penampilan fisik dan makanan karena ini adalah masa-masa sensitif mereka. Aku selalu bilang bahwa makan untuk hidup dan hidup untuk makan. Budaya diet saat ini sering kali membuat banyak orang merasa harus makan makanan sehat saja, karena makanan sehat memberikan energi dan menyembuhkanmu secara fisik. Betul, tapi secara mental juga perlu diperhatikan. Hasil akhir yang diharapkan saat seseorang pulih dari eating disorder adalah kebebasan untuk bisa memilirkan hal lain selain makanan.

Budaya diet saat ini sering kali membuat banyak orang merasa harus makan makanan sehat saja, karena makanan sehat memberikan energi dan menyembuhkanmu secara fisik. Betul, tapi secara mental juga perlu diperhatikan.

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024