Self Health & Wellness

Makan Tak Hanya Untuk Kenyang Sesaat

Sedari kecil kita dipupuk dengan kebiasaan makan sekali tiga hari dengan menu ideal 'empat sehat lima sempurna'. Dari generasi ke generasi kita mengikuti kebiasaan itu tanpa memikirkan betul apakah yang terletak di atas piring itu baik untuk tubuh kita atau tidak. Kita bahkan seringkali tidak menyadari mengapa makan hidangan tersebut. Seringkali yang kita tahu hanyalah bahwa makanan tersebut rasanya enak dan mengenyangkan. Padahal dampak baik dan buruknya santapan tersebut belum diketahui secara pasti. Lucunya, untuk hal-hal lain kita lebih memperhatikan. Misalnya saja ketika pilih baju. Pasti kita pilih karena nyaman digunakan atau yang membuat kita cantik. Tapi mengapa saat makan yang notabene dimasukkan ke dalam tubuh tidak hanya digunakan di luar saja, kita tidak sebegitu perhatiannya?

Kita seringkali tidak menyadari mengapa makan hidangan tersebut. Seringkali yang kita tahu hanyalah makanan tersebut enak dan mengenyangkan. Padahal dampak baik dan buruknya belum diketahui pasti.

Faktanya, apa yang ada dihasilkan di atas piring kita telah melalui proses panjang yang melibatkan banyak aspek termasuk lingkungan, sumber daya manusia di bumi hingga orang sekitar kita. Apa yang dihidangkan di sana pun dapat memengaruhi banyak hal di mana dalam skala besar bumi termasuk di dalamnya. Makan adalah salah satu hal terpenting yang punya porsi besar dalam keberlangsungan manusia, tidak hanya untuk kenyang sesaat. Seringkali kita hanya mempedulikan rasa dan kuantitas makanan tersebut hanya di masa itu saja. Tidak memikirkan lebih jauh efeknya yang mungkin timbul di masa depan. Padahal makanan sangat menentukan kualitas hidup di masa depan.

Keputusanku untuk beralih pola makan ke plant-based atau vegan awalnya ditimbulkan oleh adanya sejumlah video yang membuatku enggan memakan produk hewani. Banyak sekali praktik pembunuhan hewan massal yang begitu sadis hanya untuk alasan mengenyangkan perut manusia. Dari munculnya kesadaran tersebut, aku pun melakukan banyak riset tentang vegetarian di mana membuatku cukup yakin untuk tidak lagi memakan daging. Pernah sekali waktu setelah enam bulan menjadi vegetarian aku hendak memakan daging untuk merayakan sebuah momen. Tapi ternyata aku sudah tidak bisa. Rasa pusing yang tak karuan menyerang seketika menelan daging. Aku pun berpikir kalau memang daging baik untuk tubuh mengapa efeknya bisa seperti itu? Dari kejadian ini aku membulatkan tekad untuk meneruskan perjalanan menjadi vegetarian sampai satu setengah tahun kemudian beralih menjadi vegan.

Lagi-lagi terprovokasi dengan berbagai tayangan dokumenter serta buku-buku yang menceritakan tentang pola makan vegan, aku merasa banyak hal di dunia ini yang mungkin dibuat untuk alasan tertentu. Bukan terbukti sehat atau baik untuk tubuh kita. Bermula dari keingintahuanku apakah aku bisa bertahan hidup tanpa produk susu dan telur, aku jadi mengulik lebih dalam tentang industri yang melibatkan kedua bahan makanan ini. Logikanya, semua makhluk menyusui hanya meminum susu dari induknya saja. Mereka juga minum susu hanya ketika masih kecil. Tapi mengapa kita manusia saat beranjak dewasa masih minum susu dan minum susu dari ibu sapi yang adalah spesies berbeda dari kita? Dasar pemikiran yang sederhana ini sebenarnya menunjukkan betapa manusia seringkali tidak mindful dan tidak sadar akan apa yang masuk ke dalam tubuh. Hanya karena propaganda empat sehat lima sempurna, dikatakan bagus untuk tulang dan tubuh, kita jadi teryakini bahwa itulah satu-satunya fakta yang benar. Merasa dibohongi, akhirnya aku semakin gigih untuk beralih menjadi seorang vegan.

Makanan sangat menentukan kualitas hidup di masa depan.

Tentu tidak hanya itu saja. Dari riset dan observasi yang aku resapi, pola makan ini pun memberikan dampak yang amat positif tidak hanya pada diri sendiri tapi terhadap lingkungan. Bagi diri sendiri, aku merasa metabolisme tubuh lebih lancar, stamina lebih baik. Ini aku sangat rasakan ketika bernyanyi di panggung karena merasa badan lebih ringan. Terhadap mental juga amat berpengaruh. Mungkin untuk masalah emosi, terkadang aku masih bisa merasa kesal dan marah juga. Tapi selama menjadi vegan aku merasa lebih sensitif dan memiliki empati yang tinggi pada orang lain. Mungkin dikarenakan pengetahuanku yang semakin mumpuni tentang makhluk hidup di bumi menjadi satu kesatuan, aku lebih dapat menghargai nilai keberadaan makhluk hidup. Sehingga empatiku bukan hanya ke binatang tapi juga ke sesama manusia. Kini kalau aku merasa ada kondisi atau situasi yang salah, berpotensi memunculkan krisis, aku pasti langsung mengambil tindakan. Tidak hanya diam saja. Sebisa mungkin membantu.

Vegan membuatku secara perlahan-lahan juga lebih present. Berada dalam waktu saat ini dan detik ini. Membuatku bisa memilih dan mengambil keputusan dengan kondisi kesadaran penuh. Dulu dari hal sekecil memilih makanan saja aku tidak peduli. Asal enak dan asal kenyang. Sehingga apapun keputusan aku ambil entah pekerjaan, hubungan, aku merasa "Ya sudahlah, yang penting aku senang." Tapi karena sekarang dari hal kecil saja aku menggunakan kesadaran penuh, duduk, lihat hidangan apa yang akan aku konsumsi, manfaatnya apa untuk tubuh, pengaruhnya apa untuk hari esok, aku jadi menerapkan analisa ini ke hal lebih besar. Sekarang aku mendasari setiap keputusan dengan pemikiran yang sama. Termasuk dampak positif atau negatif yang akan dihadapi ketika memutuskan suatu hal besar. Tidak impulsif dalam menentukan sesuatu.

Related Articles

Card image
Self
Jujur dalam Bersyukur

Rasa syukur adalah perasaan berterima kasih atas apa yang telah kita terima. Tetapi, kecenderungan kita adalah untuk bersyukur dengan membandingkan diri akan apa yang kita alami terhadap kemalangan yang terjadi pada orang lain. Sehingga, alih-alih rasa syukur membantu membebaskan diri dari perbandingan sosial, kebutuhan akan rasa syukur malah menjebak kita dalam perbandingan.

By David Irianto
04 July 2020
Card image
Self
Perempuan Punya Pilihan

Pembekuan sel telur di Indonesia belum banyak diperbincangkan di masyarakat. Padahal pembekuan sel telur sebenarnya dapat menjadi sebuah pilihan bagi para perempuan untuk merencanakan masa depannya. Terlepas sudah atau belum menikah.

By Andini W. Effendi
04 July 2020
Card image
Self
Mengarungi Naik Turun Kehidupan

Dunia terus berputar layaknya roda kehidupan kita. Terkadang ketika kita sedang berada di atas bisa saja tiba-tiba harus berada di bawah karena kondisi yang tidak bisa dihindari. Wajar jika berbagai emosi hinggap dan memicu pertempuran batin. Namun pada akhirnya apapun keputusan yang diambil kita harus belajar menerima dan mensyukuri prosesnya. Sebab bisa saja di situasi tersulit yang dihadapi kita justru menemukan misi hidup yang sebenarnya. 

By Yan Budi Nugroho
04 July 2020