Self Art & Culture

Makan Sendiri

Kevindra Soemantri

@kevindrasoemantri

Penulis Kuliner

Fotografi Oleh: Erol Ahmed

Saat bicara soal makan, tentu paling asyik kalau dilakukan beramai-ramai. Apalagi jika nikmatnya suapan diselingi candaan teman dan senyum orang tua – bahkan katanya walaupun meja riuh dengan perdebatan, selama dilakukan beramai-ramai, tetap lebih baik dari pada sendirian. Proses makan sejak lama memang berkaitan dengan proses sosialisasi antar manusia: mulai dari berkenalan dengan rekan kerja, hangout santai di malam Sabtu bersama sahabat, atau sarapan dim sum Minggu pagi dengan keluarga. Rasanya hangat dan bersahaja. 

Saya sendiri sebagai seorang penulis kuliner juga senang betul kalau makan beramai-ramai, saling bertukar ide dan percakapan. Namun ada kalanya datang sebuah masa di mana kesendirian adalah yang diperlukan. Akan datang waktunya ketika diri ini hanya mau berkasih dengan rampai boga di atas meja seorang diri. Saya yakin, bukan hanya saya saja yang pernah merasakan keinginan makan sendirian, atau bahkan menemukan kebahagiaan saat melakukannya.

Kapankah awalnya saya bisa merasa senang saat makan sendiri? Hal ini terjadi sekitar saat saya SMP. Dapur rumah sejak lama selalu jadi tempat yang identik dengan kenyamanan. Mungkin banyaknya keseruan seperti bercanda di meja makan, ayah yang mengajarkan membuat burger, mama yang suka bergosip dengan bibi – semuanya punya andil besar. Namun ketika saya mengalami saat-saat menuju perceraian kedua orangtua, saya melihat dapur dan meja makan sebagai tempat di mana saya bisa rehat dari keributan rumah tangga keduanya. Dengan nasi hangat di piring, ikan tumis dengan daun salam dan lengkuas yang aromatik, serta pikiran yang tidak diganggu keluhan kiri-kanan, duduk sendirian, inilah surga.

Makan sendiri membuat saya bisa berpikir tenang dan mengevaluasi diri. Makan sendiri membuat saya bisa melihat dari luar – dan lebih dalam – tentang apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kami.

Kegiatan makan seorang diri memang terdengar pathetic; menyedihkan. Namun saya rasa kita perlu sesekali melakukannya. Saat saya menjadi kontributor dan food columnist untuk The Jakarta Post, makan selalu ada di agenda utama. Mungkin manfaat awal yang saya dapat dari makan seorang diri adalah bisa fokus dengan makanan itu. Ketika tugas Anda adalah mengulas tiap elemen yang ada di piring – apakah nasinya tidak pulen, apakah dada ayamnya terlalu kering, apakah saus veloute-nya tak lembut seperti beludru; kurang garamkah? Terlalu banyak minyak truffle-kah? Pannacotta sudah bergoyang cakap atau belum? Nasi sushi terlalu dingin apa tidak – percayalah, hal yang tidak Anda inginkan adalah gangguan dari perbincangan basa basi.

Saya tidak pernah tahu apa tanggapan orang ketika melihat saya masuk ke restoran – apalagi yang punya konsep erat dengan kesan romantis – dengan baju rapih, duduk sendirian dengan kursi kosong di depan, seakan saya adalah pria yang sudah lapar karena menunggu pasangan tak kunjung hadir, dicampakkan, miris. Tapi yang tidak mereka ketahui, dalam diri saya sedang terjadi proses analisa. Proses makan itu adalah proses intelektual, ia melibatkan seluruh panca indera.

Hampir setiap saya mendapatkan tugas makan, semua dilakukan sendiri, dinikmati sendiri dan untuk diri sendiri. Kali ini bukan terdengar kasihan, tapi malah terkesan egois. Memang, kesendirian selalu punya stigma negatif apapun itu. Namun yang saya rasakan, saya mendapat lebih banyak manfaat baik dibanding yang tidak. Marilah jujur, mungkin salah satu kesenangan dari makan sendiri bukanlah cuma soal memperkaya inner being, tapi justru serunya menjadi pemerhati manusia lain.

Banyak hal unik dan aneh yang sebenarnya terjadi di sekitar ruang makan restoran bila sempat memperhatikan. Sebut saja, saya pernah makan siang di salah satu restoran Jepang ternama di Jakarta Pusat. Saya pesan sushi moriawase yang beragam jenisnya. Di satu meja di bagian serong depan, ada seorang wanita perawakan sangat berkelas dan kelihatan dari kerutan di lehernya pasti berusia lebih dari 45 tahun, walaupun berusaha ditutupi dengan kalung mutiara. Tidak lama, datang seorang pria muda, tampan, dengan outfit seakan ia baru pulang dari Fashion Week. Sambil mengunyah nasi sushi yang pulen, dibumbui dengan larutan cuka yang pas, dengan topping hamachi yang kenyal sopan, pikiran positif saya berkata itu pasti anaknya. Tidak pakai lama, pikiran saya dibuyarkan dengan adegan sang pria menggengam tangan si wanita dan berkecup sesaat, rasanya seperti menonton opera sabun secara langsung.

Ada lagi saat saya sendiri untuk melakukan review di salah satu restoran Indonesia di wilayah Menteng. Meja depan saya adalah keluarga yang seru ramai, mengingatkan dengan masa kecil saya yang juga mungkin sama dengan mereka, atau, kalau tidak ada yang terjadi di keluarga kami, mungkin itulah kami sekarang. Banyak sekali yang bisa kita pelajari dari makan sendirian. Terkadang kita bisa menghayal setinggi-tingginya, terkadang kita bisa juga diingatkan dengan segala kemungkinan di dalam hidup. Kita bisa melihat kebaikan orang dan juga keburukan orang yang dengan luwes terpampang di muka umum saat makan sendirian.

Sampai saat ini, bila ditanya apa kegiatan yang saya sangat ingin lakukan ketika akhir pekan tiba? Mungkin jawabannya adalah makan di salah satu restoran atau rumah makan di sudut Jakarta, melahap hidangan dengan tenang, menikmati tiap spektrum rasa yang terbentuk di dalam mulut, sambil menikmati segala macam adegan manusia yang menjalani hari di depan mata.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021