Self Lifehacks

Live Optimally: Memulai Kembali

Memulai sesuatu yang baru, pasti gak akan nyaman untuk kita hadapi. Coba ingat-ingat perasaanmu dulu ketika kamu pertama kali pindah ke sekolah baru, pertama kali memulai perjalanan kuliah, atau pertama kali masuk kerja ke kantor, apa yang kamu rasakan? Kemungkinan besar pasti kamu akan gugup, cemas, atau bahkan takut. Gak cuman kamu, tapi aku yakin kebanyakan dari kita juga akan merasakan yang sama.

Di hadapan pintu menuju kehidupan yang baru, pasti kita akan selalu ragu dan bertanya ke diri kita sendiri - “Apakah aku akan bisa menjalani hidup baru ini dengan baik atau justru aku akan sengsara?”. Sama persis seperti apa yang kita semua rasakan ketika menghadapi munculnya pandemi 2 tahun lalu. 

Otak kita adalah sebuah mesin antisipasi. Memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan dalam kehidupan kita adalah salah satu fungsi penting dari otak kita.

Apabila kita terpapar dengan hal yang sudah sering kita lakukan, maka otak kita akan merasa tenang, karena kita pernah melakukannya sebelumnya, jadi kurang lebih otak kita sudah bisa memprediksi hasil apa yang akan terjadi. Ini membantu kita untuk lebih banyak melakukan hal yang bersifat positif untuk kita dan bukan yang bersifat negatif atau membahayakan kita.

Sedangkan kalau kita mencoba melakukan hal baru, karena hal tersebut belum pernah kita lakukan sebelumnya, otak kita akan jauh lebih waswas supaya kita lebih berhati-hati dalam mencoba hal yang baru ini.

Pada dasarnya, kita bisa anggap otak kita sebagai teman untuk membantu supaya kita gak hanya sekadar hidup, tapi bisa hidup dengan optimal. Namun, kita punya pilihan untuk menjadikan otak kita sebagai teman yang baik atau teman yang buruk.

Ini adalah beberapa cara supaya kita menjadikan otak kita teman yang baik ketika memulai hal apapun itu yang baru dalam kehidupan kita:

Sadar bahwa cemas atau khawatir itu normal.

Seperti yang dari tadi sudah kita bahas, kita sekarang tau bahwa cemas, khawatir, atau perasaan negatif lainnya yang muncul ketika kita memulai sesuatu yang baru ternyata bukanlah pertanda bahwa ada yang salah dengan diri kita. Melainkan mempunyai perasaan seperti demikian merupakan respon alami dan ini merupakan survival mechanism yang bertujuan baik untuk menjaga kita agar tetap bisa hidup dengan baik.

Oleh karena itu, kalau kita cemas atau khawatir, jangan dibawa pusing, ini hal yang normal kok, let’s embrace it instead.

Gagal itu pasti, maka belajar dari kegagalan.

Sekarang coba kita flashback ke apa yang terjadi di tahun 2020 ketika awal munculnya pandemi, banyak kesulitan yang harus kita hadapi dari segi kesehatan tubuh, kesehatan mental, kesehatan finansial, dan masih banyak lainnya. 

Mungkin inovasi luar biasa yang lagi banyak dibahas oleh orang-orang belakangan ini, yaitu metaverse. Di mana sebentar lagi pastinya kita akan memulai kehidupan yang baru di dunia digital ini. Kita jadi akan bisa bertemu, bermain game, berbisnis, atau bahkan membeli aset digital di dunia virtual reality yang baru ini.

Jangankan pandemi yang kita alami dulu dan metaverse yang sekarang sudah bisa kita eksplor, yang namanya hal baru, ketika baru mulai belajar, pasti kita butuh waktu untuk beradaptasi. Sama saja seperti ketika kita naik sepeda waktu kecil, pasti kita gak akan langsung bisa mengendarainya dengan sempurna bukan? Akan ada momen di mana kita oleng, berhenti, dan bahkan jatuh.

Coba lihat kamu dan kita sekarang, yang dulunya jatuh ketika naik sepeda tapi sekarang sudah bisa naik dengan sempurna, yang dulunya bingung dan kesulitan karena pandemi tapi sekarang sudah bisa mulai hidup normal kembali atau bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Aku percaya hal yang sama akan terjadi terhadap perubahan baru yang akan kita hadapi di masa depan. Mungkin kamu pernah berpikir “Apakah aku akan bisa siap untuk menerima dan beradaptasi di dunia metaverse yang baru ini?” atau pemikiran lainnya yang serupa. Pesanku adalah kita semua pasti akan siap, namun tinggal seberapa cepat kita bisa siapnya aja. Dan jangan lupa kalau gagal itu pasti, karena gagal itu bukan kebalikan dari sukses, tapi gagal itu adalah bagian dari sukses.

Maka belajarlah dari kegagalan tersebut. Karena dari kegagalan, kita akan bisa lebih mengerti dan bisa kembali lebih kuat. Aku yakin, kita semua pasti akan bisa beradaptasi dengan baik dalam menggunakan teknologi baru ini untuk hidup yang lebih optimal.

Jangan lupa pulang ke “rumah”.

Dalam hidup, pasti kita nggak akan bisa lari dari harus siap menghadapi perjalanan atau hal-hal baru. Tapi, nggak semuanya dalam hidup adalah hal yang baru. Ada hal yang baru, pasti ada hal yang lama juga. Di mana hal-hal yang “lama” ini adalah hal-hal yang dapat membuat kita nyaman bagaikan “rumah”.

Di antara ketidakkekalan dunia ini yang selalu berganti, pasti ada beberapa hal yang belum berganti, dan kita bisa mendapatkan ketenangan di hal-hal ini. Entah itu menonton ulang series di streaming platform favorit kita, bermain dengan peliharaan kita, atau bahkan drive thru ke restoran fast food terdekat ketika malam-malam sedang lapar. 

Kita semua pasti punya rumah masing-masing yang bisa kita kunjungi untuk mendapatkan kenyamanan dan kehangatan di dunia yang terus memaparkan hal dan pengalaman baru untuk kita jalani. Jadi tenanglah, kalau lagi merasa cemas, takut, atau khawatir, kita semua bisa pulang ke rumah dulu.

Memulai sesuatu yang baru pasti nggak akan selalu mudah untuk kita, tapi dengan mengetahui bahwa rasa khawatir itu justru membantu kita untuk mengambil langkah yang tepat, kegagalan itu gak bisa kita hindari tapi cuman bisa pelajari, dan kita akan selalu punya “rumah” untuk pulang. Semoga momen-momen kita dalam memulai kembali perjalanan yang baru dalam hidup kita bisa lebih indah.

Sekarang bagi kalian yang siap memulai diri yang baru di kehidupan yang baru, bisa cek Nusameta, sebuah platform metaverse Indonesia, di mana kita semua bisa melakukan banyak pengalaman-pengalaman baru. Klik link di deskripsi untuk memulai #newlifenewyou

Related Articles

Card image
Self
Bertahan dengan Rutinitas dan Pilihan

Meski mungkin pada dasarnya kalau kita berbicara rutinitas dalam konteks pekerjaan mungkin jarang sekali ada orang yang begitu gemar bekerja setiap hari. Kembali lagi, mungkin memang kita tidak punya banyak pilihan, hingga mau tidak mau kita tetap harus menjalani rutinitas dan kesempatan yang ada.

By Rayhan Noor
26 November 2022
Card image
Self
Kebahagiaan Sederhana

Kalau aku hanya memiliki sedikit waktu bersama orang-orang yang aku sayang, mungkin aku akan berusaha menghabiskan waktu sebanyak yang aku bisa bersama mereka. Sejujurnya aku memang bukan orang yang bisa mengungkapkan rasa rindu atau sayang dengan kata-kata, tapi aku selalu merasa aku mendapat energi baru saat dikelilingi oleh orang-orang yang aku sayang.

By Nadine Fatiana
26 November 2022
Card image
Self
Pesona Awal Jumpa

Perkenalan kita satu sama lain sebenarnya punya pesonanya masing-masing. Kita sebenarnya sudah saling kenal satu sama lain sejak lama tapi belum punya banyak kesempatan untuk saling tegur sapa.

By Lomba Sihir
26 November 2022