Self Lifehacks

Lawan Ketakutan Diri

Alexandra Asmasoebrata

@alexandra.asma

Pembalap

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Tidak banyak perempuan yang ingin berkecimpung di dunia yang didominasi pria. Begitu juga di arena balap. Hampir semua yang terlibat adalah pria. Tapi kalau dipikirkan kembali, kenapa wanita seperti enggan untuk menjajal karier di bidang ini? Mungkin sebenarnya bukan hanya kaum hawa saja yang merasa enggan mencoba hal baru di luar kebiasaan. Baik pria maupun wanita kadang meragukan kemampuan mereka sendiri dan belum apa-apa sudah berpikir tidak bisa. Akhirnya kemampuan terselubung dalam kekurangan. Sebelum mencoba kita sudah berpikir: “Ah saya tidak bisa” atau “Nanti orang berpikir apa ya?” Seringkali pemikiran kita hanya terpaku pada pola dan ketetapan yang ada di sekitar. Padahal kesempatannya ada, terbuka lebar untuk ditelusuri. Seharusnya kita bisa melawan ketakutan dan keraguan pada diri sendiri dulu sebelum berpikir melawan orang lain. Berdamai dengan diri sendiri adalah kunci untuk melangkah lebih jauh. 

Seharusnya kita bisa melawan ketakutan dan keraguan pada diri sendiri dulu sebelum berpikir melawan orang lain.

Berada di dunia otomotif selama belasan tahun memberikan saya pelajaran berharga tersebut. Lahir di keluarga pembalap, pergi ke lintasan mobil menonton papa balapan bukanlah hal yang asing. Bahkan papa mendorong saya untuk mencoba balapan di umur yang masih amat belia. Ketika itu saya baru saja lulus dari sekolah dasar. Jika ditanya mau jadi apa mungkin saya akan menjawab cita-cita yang banyak dikatakan anak-anak seusia saya. Tapi kemudian papa bilang bahwa beliau melihat saya memiliki bakat menjadi seorang pembalap hingga menginginkan saya meneruskan profesinya. Untuk pertama kalinya, beliau meminta saya mencoba go-kart. Isi kepala saya bergejolak. Bisa menyetir saja belum, apalagi berpikir memiliki bakat terpendam menjadi seorang pembalap. Dalam benak anak berumur 11 tahun itu hanyalah ketakutan akan ditertawakan oleh anak laki-laki yang ada di sana. Sudah anak perempuan sok-sokan bisa menyetir lagi. Pasti akan malu sekali kalau saya ada di dalam mobil itu.

Papa pun tidak menyerah. Beliau bersikeras merasa saya bisa. Meski agak terpaksa, saya setuju mencoba. Benar saja, di dalam mobil itu, saya merasa nyaman, merasakan sensasi yang berbeda. Walaupun pikiran saya masih memusingkan hal-hal sederhana seperti, "Nanti saya bertemannya sama siapa kalau jadi pembalap? Mereka kan laki-laki, saya perempuan." Namun untungnya, itu tidak terjadi. Tidak ada anak laki-laki di sana yang menertawakan. Mereka bersikap biasa saja. Lama-kelamaan saya terbiasa hingga akhirnya tak terasa 16 tahun berlalu begitu cepat. Beragam kejuaran telah saya ikuti dan sejumlah piala pun telah berjajar rapi. Tanpa disangka dari ketakutan berada di lingkungan dengan dominasi pria itu bisa membawa saya sejauh ini. Tidak mudah memang. Selama bertahun-tahun saya melewatinya bukan tanpa kesulitan.

Tahun-tahun awal menekuni dunia otomotif saya tidak keberatan berkarier menjadi pembalap tapi tidak menganggap belum tentu bisa jadi pembalap yang baik. Kepercayaan diri baru saja meliputi seketika kemenangan didapatkan. Dari sini saya baru menyadari ternyata kalau ada kemauan dan latihan yang konsisten saya bisa melakukan apa saja. Sekalipun pekerjaan itu tidak lazim diemban kebanyakan orang. Ternyata yang menang di arena balap tidak melulu pria. Saya juga bisa menang. Lalu mengapa tidak saya teruskan dengan lebih gigih? Biarpun begitu, beberapa kali keraguan pernah menghampiri. Terutama kala saya berada dalam kompetisi besar. Cara saya mengatasinya adalah dengan mengubah pola pikir. Saya tidak lagi memandang diri sebagai wanita, tapi sebagai pembalap. Sehingga saya tidak fokus pada kekurangan justru pada kelebihan. Berulang-ulang saya tanamkan pada diri: saya pembalap, mereka juga. Kami sama-sama bertarung untuk menang. Alhasil saya merasa lebih kuat, lebih yakin untuk maju. 

Kalau ada kemauan dan latihan yang konsisten saya bisa melakukan apa saja. Sekalipun pekerjaan itu tidak lazim diemban kebanyakan orang.

Beruntungnya, di dalam balapan memang tidak ada peraturan yang membedakan pria dan wanita. Satu arena bisa diikuti semua gender. Sehingga momen menerima kemenangan menjadi momen perenungan di mana saya semakin membuka diri dan berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Merupakan sebuah kebanggan untuk mampu membuktikan bahwa wanita memiliki kesempatan yang sama. Jangan salah, bukan untuk membuktikan wanita lebih baik atau lebih jago dari pria. Melainkan untuk mendorong para wanita mencoba hal baru, mendobrak stereotip gender yang ada di masyarakat. Terlebih lagi, untuk menyemangati mereka agar berani bersaing dengan pria karena tidak ada yang mustahil apabila ada niat dan kemauan. Namun, bukan berarti kita wanita bisa jumawa jika sudah berhasil. Besar kepala dan melupakan kodrat sebagai wanita.

Di arena saya enggan diistimewakan, mereka harus melihat saya seperti seorang atlet lainnya bukan sekadar sebagai seorang wanita. Hanya saja dari dulu saya tidak mau kehilangan sisi feminin. Saya merasa harus dapat pintar-pintar menyesuaikan diri. Bukan berarti hidup di kalangan maskulin lalu saya berubah menjadi mereka, tidak lagi memikirkan jati diri dan penampilan sebagai wanita. Selama bertahun-tahun saya terus memanjangkan rambut, berpakaian dan berdandan bak wanita pada umumnya ketika berada di luar sirkuit. Apalagi sekarang menjadi seorang ibu dengan anak yang baru saja berumur 10 bulan. Naluri kewanitaan terus saya asah agar dapat memberikan sentuhan dan perhatian yang cukup pada anak. Tidak mudah untuk langsung menyelami kerumahtanggaan. Adrenalin balapan telah mengalir dalam tubuh saya. Lagi-lagi saya berupaya menempatkan diri, tahu porsi kapan harus menunda hasrat pribadi dan kembali pada kodrat sebagai wanita, sebagai istri dan sebagai ibu. Toh, saya sudah berkarier selama 16 tahun dan berjerih payah menampilkan performa semaksimal mungkin. Kini saatnya saya menjalani kewajiban di rumah.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021