Circle Love & Relationship

Kucinta Ponselku Lebih Daripada Kamu

Primo Rizky

@primorizky

Penulis & Penerbit

Ilustrasi Oleh: Tommy Chandra

Jikalau permata acapkali diibaratkan sebagai teman baik wanita (ingat jargon “diamonds are the girls’ best friend?”), kini mungkin statusnya telah diambil alih oleh gadget – terutama ponsel. Hebatnya, bukan hanya wanita yang begitu lengket dengan ponselnya karena kedekatan antara manusia modern dengan ponsel tak memandang batasan gender. Hampir semua manusia modern, mulai dari yang masih muda hingga yang sudah tua, semuanya seakan tidak dapat hidup tanpa alat tersebut.

Ketergantungan kita terhadap ponsel umumnya disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ia bawa dalam hidup. Laksana kantung ajaib Doraemon, ponsel bisa menghadirkan apa pun yang kita butuhkan dalam menjalani hari. Mulai dari sesederhana prediksi cuaca hari ini (supaya kita tidak salah kostum saat keluar rumah nanti), kesempatan untuk melihat tingah polah keponakan di luar negeri sana yang baru bisa belajar merangkak, alunan musik pengiring tidur, hingga mencarikan jodoh.

Bahkan tak jarang saya mendengar orang menjawab pertanyaan trivial seperti, “kalau terdampar seperti Robinson Crusoe di suatu pulau terpencil, barang apa yang ingin Anda bawa?” dengan yakinnya menyebut ponsel. Sebegitu cintanya kah kita dengan ponsel?

Begitu candunya manusia modern dengan ponsel sampai-sampai berdasarkan riset terkini yang dirilis oleh Deloitte, rata-rata orang di dunia mengecek ponselnya sebanyak 47 kali dalam satu hari. Atau hingga 82 kali bagi mereka yang berusia di antara 18 hingga 24 tahun!

Ada kalanya kecintaan kita terhadap ponsel justru mengalahkan perasaan kita terhadap manusia lainnya. Saat-saat yang seharusnya menjadi momen intim dengan pasangan, orangtua, anak, atau sahabat terdekat, terkadang dirusak oleh keinginan kita untuk terus membuka layar kecil ponsel itu – baik karena ada tujuan maupun hanya sekadar iseng membunuh waktu luang. Hingga pada akhirnya kita lebih mengacuhkan ponsel dibanding orang-orang di sekitar.

Mungkin kita telah lupa bahwa kunci hubungan yang baik adalah dengan tetap menjaga koneksi personal. Sementara kebiasaan kita untuk terlarut-larut dalam dunia yang diciptakan oleh ponsel seakan menarik diri kita dari dunia nyata dan menghilangkan koneksi kita dengan manusia lainnya. Selain itu, kebiasaan mengecek ponsel juga bisa jadi menyampaikan pesan implisit bahwa ponsel lebih menarik dibandingkan dengan orang-orang di sekitar kita. Konon, menurut sebuah studi, hubungan di mana salah satu di antaranya begitu kecanduannya terhadap ponsel lebih rentan mengalami konflik yang berujung pada ketidakbahagiaan dalam menjalani hubungan.

Menurut riset yang dirilis Deloitte, rata-rata orang mengecek ponselnya sebanyak 47 kali dalam satu hari. Atau hingga 82 kali bagi mereka yang berusia di antara 18 hingga 24 tahun!

Jika memang ponsel kini telah menjadi makhluk yang mengganggu hubungan Anda dan pasangan, mungkin ada baiknya Anda mencoba bicara dengan pasangan untuk mengingat kembali alasan Anda bersama. Ada beberapa langkah mudah yang sebenarnya dapat Anda atau pasangan lakukan untuk melunturkan kecintaan terhadap ponsel dan membangun kembali hubungan emosional antarmanusia yang semestinya.

Menjadikan kamar tidur sebagai area bebas ponsel. Mungkin memang menyenangkan melihat-lihat foto-foto orang lain di Instagram sebelum tertidur. Namun daripada Anda dan pasangan asik sendiri-sendiri, bukan kah lebih menyenangkan untuk menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang kecil bersama?

Menjauhkan ponsel dari meja makan. Keberadaan ponsel di meja makan yang dapat berbunyi atau bergetar sendiri sesungguhnya dapat merusak diskusi-diskusi meja makan yang kadang merupakan sebuah forum untuk berbagi keluh kesah dan mendekatkan diri dengan pasangan.

Mengamalkan etika dalam menggunakan ponsel. Jika Anda memang perlu sekali untuk mengecek ponsel, sampaikan tujuannya pada pasangan. Sesederhana, “saya perlu membalas pesan masuk sekali saja” memberikan gestur kesopanan yang berbeda dibandingkan sibuk sendiri tanpa pasangan Anda tahu apa yang tengah dilakukan. Dengan meminta izin, pasangan akan mencoba membangun sebuah pengertian bahwa perhatian Anda tengah berpindah.

Asalkan ada niat antara Anda dan pasangan untuk memperbaiki hubungan, langkah-langkah di atas bisa jadi sebuah jalan mudah untuk kembali mencintai pasangan lebih daripada Anda mencintai ponsel.

Related Articles

Card image
Circle
Melawan Takut Sama Dengan Berani

Melalui tulisan ini, aku mau berbagi pengalaman salah satu orang terdekat dalam hidupku yang akhir tahun 2020 lalu divonis gerd anxiety. Aku tentunya tidak berpengalaman dalam membangun komunikasi yang baik, tapi aku berusaha menjadi orang yang bisa membuatnya nyaman untuk bercerita dan tidak membuatnya merasa menghadapinya sendirian.

By Diyah Deviyanti
11 September 2021
Card image
Circle
Menghadapi Sepi dan Stigma

Sulit menggambarkan berapa banyak perasaan yang tercampur aduk selama pandemi. Salah satu rasa yang umum ditemui adalah kesepian. Sekarang kita dipaksa untuk bersosialisasi dengan cara yang berbeda. Banyak hal yang perlu kita waspadai ketika memiliki kesempatan besosialisasi secara langsung.

By Greatmind x Sepenuh Napas
04 September 2021
Card image
Circle
Menghargai Setiap Langkah

Salah satu topik yang menarik perhatianku beberapa waktu terakhir adalah isu seputar lingkungan. Generasi orangtuaku atau mungkin kita di zaman dulu sepertinya tidak banyak membahas mengenai isu lingkungan seperti sekarang. Kita mungkin diajari untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi tidak umum rasanya pembahasan mengenai memilah sampah berdasarkan jenisnya atau topik lingkungan lain.

By Devi Yolanda
04 September 2021