Self Health & Wellness

Kepuasan Perempuan

Rendra Susanti

@laciasmara

Praktisi Gaya Hidup Intim

Bukan hanya di Indonesia saja yang tabu membicarakan tentang perempuan dan masturbasi melainkan di seluruh dunia. Dari zaman dulu perempuan dikondisikan untuk tidak ekspresif dalam banyak hal atau dalam pengambilan keputusan. Pria lebih merdeka dan bisa melakukan banyak hal, berbeda dengan perempuan. Secara anatomi, badan pria memang perlu ejakulasi sekalipun bukan untuk kepentingan penetrasi. Sehingga ketika membicarakan pria melakukan masturbasi, masyarakat akan lebih bisa menerima sebab itu proses biologis tubuhnya. 

Minimnya pendidikan seksual dan kurang terbukanya komunikasi tentang hal ini membuat pandangan orang banyak yang kabur dan salah. Faktanya masturbasi tidaklah hanya untuk pria. Masturbasi adalah salah satu cara untuk mencintai dan mengapresiasi diri sehingga kita dapat terhubung dengan jiwa dan raga lalu bisa lebih mengenal tubuh dan keinginannya. Apabila dilakukan bersama dengan pasangan justru akan membuat percikan asmara semakin membesar. Sesuatu yang  sehat untuk dilakukan. 

Menurut saya, sehat itu bukan hanya dari penampakan saja namun juga dari dalam. Saat seseorang tidak nyaman dengan dirinya sendiri, sebenarnya itu sudah bisa menjadi gejala tidak sehat di dalam dirinya. Dan dampaknya bisa jadi sangat besar nantinya. Sejauh yang saya alami dan lihat di sekitar, melakukan masturbasi secara rutin efeknya empowering (memberdayakan —red). Kita bisa merasa berkuasa atas kebahagiaan seksual diri sendiri serta lebih mengenal tubuh. Maka, kita bisa memahami bagaimana meraih klimaks ketika bersama pasangan, melepaskan keresahan, dan membuat kita lebih “bercahaya”. Selain itu, partikel di dalam otak dan tubuh juga akan mengeluarkan hormon cinta yang efeknya dahsyat untuk kebahagiaan mental serta fisik.

 Menurut saya, sehat itu bukan hanya dari penampakan saja namun juga dari dalam. Saat seseorang tidak nyaman dengan dirinya sendiri, sebenarnya itu sudah bisa menjadi gejala tidak sehat di dalam dirinya.

Sayangnya, masturbasi  kerap kali dikaitkan dengan moralitas seseorang. Padahal birahi itu datang secara alami dari otak dan tubuh baik buat laki-laki dan perempuan. Sangatlah alamiah. Sama seperti ketika kita merasa haus atau lapar, tubuh butuh asupan. Bayangkan ketika keinginan dikekang kemudian berpotensi membuat jiwa jadi tertekan. Jadi sakit kepala, bukan? Lagipula, masturbasi sebenarnya bisa dialami secara tidak sengaja. Banyak perempuan mengalami ‘masturbasi’ pertama kali dari gesekan guling, air pancur untuk membasuh ketika di toilet, bahkan ada yang tidak sengaja tergesek ujung meja dan menemukan kenikmatan seksualnya yang pertama.

Berkata begini saya tidak bilang bahwa masturbasi adalah suatu keharusan bagi setiap perempuan. Keharusan atau tidak kembali ke individu masing-masing karena nilai seseorang terhadap dirinya berbeda satu dengan lainnya. Apabila penilaian untuk melakukan masturbasi adalah hal yang tidak diinginkan, sesuatu yang salah dan justru membuat seseorang merasa rendah derajat, sebaiknya jangan dipaksa. It’s about how comfortable you are with yourself first.

Apabila penilaian untuk melakukan masturbasi adalah hal yang tidak diinginkan, sesuatu yang salah dan justru membuat seseorang merasa rendah derajat, sebaiknya jangan dipaksa. It’s about how comfortable you are with yourself first.

Saya pun cukup paham banyak perempuan yang takut melakukan masturbasi sebab tidak tahu dampak apa yang akan dirasakan setelah melakukannya. Tapi menurut saya, kebanyakan orang takut pada ketakutan itu sendiri. Berdasarkan pengalaman saya menggunakan vibrator secara rutin, saya jadi lebih tahu teknik tertentu untuk apa, di mana lokasi yang saya inginkan agar dapat merasakan kenikmatan saat bersama pasangan. Setelahnya, yang saya lakukan adalah berkomunikasi dan menggiring pasangan untuk bisa eksplorasi bersama agar mencapai surga dunia bersama. Bahkan kadang kami menggunakannya bersama.

Patut dicatat bahwa vibrator tidak akan pernah menggantikan seks yang sesungguhnya, bagaimanapun canggihnya sebuah produk. Vibrator tidak punya emosi, tidak dapat memberikan sentuhan manusiawi, tidak beraroma, tidak berkeringat maupun mengeluarkan desahan. Semua unsur yang saya sebutkan adalah salah satu penunjang manusia untuk bisa mendapatkan orgasme, bukan hanya ragawi semata. Salah satu survei yang dilakukan di Kinsey Institute mengatakan bahwa kebanyakan perempuan sulit mendapatkan orgasme dikarenakan ketidaktahuan tentang tubuhnya sendiri. Sehingga vibrator sebenarnya bisa membantu mempermudah kita mengenal zona erotis di tubuh.

Sebelum melakukan masturbasi, saya pikir pertama kita harus nyaman dengan tubuh sendiri. Banyak sekali perempuan yang merasa tidak nyaman untuk menggerayangi tubuhnya apalagi area organ seksualnya. Mengenal anatomi tubuh adalah dasar yang baik untuk memulai. Tanpa itu, saya rasa perempuan tidak akan bisa  damai memulai eksplorasi. Apabila dalam prosesnya terganggu dengan banyak pikiran, jangan memaksa. Perasaan adalah hal yang utama untuk meneruskan penjelajahan tubuh. Bisa jadi tubuh menginginkan tetapi otak menolak (atau sebaliknya) maka ada konflik didalam yang mana akan mengganggu jalannya proses menemukan surga dunia.

Saran saya jika ingin memulai mungkin dapat dilakukan saat mandi. Pertama raba sekujur tubuh sendiri tanpa langsung ke genitalia. Ketahuilah bahwa zona erotis pada tubuh perempuan banyak titiknya. Hanya kita harus cari tahu sendiri di mana saja. Apabila memutuskan untuk menggunakan ” instrumen” cinta tambahan, carilah yang sederhana. Kalau bisa yang terbuat dari silikon dan bermerek yang cukup terkenal sehingga bisa dipercaya bahannya tidak berbahaya, aman dan nyaman untuk kita menggunakannya. 

Lalu seberapa sering idealnya kita melakukan masturbasi? Jawabannya adalah tidak ada frekuensi yang ideal. Menurut saya, semua kembali ke tiap perempuan masing-masing. Sering bagi saya belum berarti sering bagi orang lain. Selama tidak mengganggu aktivitas sehari-hari di kehidupan dan tidak merugikan diri sendiri dan/atau orang lain, saya pikir sah-sah saja. Satu yang penting untuk saya kembali sampaikan adalah: tidak ada yang salah untuk menginginkan dan melakukan aktivitas seksual. Tapi akan jadi keliru apabila kegiatan tersebut tidak dilakukan dengan aman, nyaman dan menyenangkan.

Satu yang penting untuk saya kembali sampaikan adalah: tidak ada yang salah untuk menginginkan dan melakukan aktivitas seksual. Tapi akan jadi keliru apabila kegiatan tersebut tidak dilakukan dengan aman, nyaman dan menyenangkan.

Related Articles

Card image
Self
Tantangan Meregulasi Emosi

Pada dasarnya bukan emosi yang membuat kita melalui turbulensi perasaan melainkan cara kita menafsirkan emosi sehingga kita merasa tidak sanggup menoleransi emosi yang dirasakan. Intensitas emosi yang kita rasakan bisa dipengaruhi berbagai hal seperti trauma masa kecil atau kondisi fisik yang sedang memburuk. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah situasi, ditambah dengan regulasi emosi yang belum optimal.

By David Irianto
11 September 2021
Card image
Self
Mengapresiasi Setiap Kehadiran

Memang lebih rumit rasanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama orang terdekat terutama teman dan sahabat belakangan ini. Aku sendiri sebisa mungkin berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan menanyakan kabar teman-temanku melalui aplikasi chat ataupun video call. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berkumpul bersama teman-teman memang semakin terasa terutama saat masa PPKM mulai diberlakukan. 

By Amindana Chinika
11 September 2021
Card image
Self
Musik Sebagai Medium Bercerita

Apapun yang kita lalui dalam hidup entah itu sangat menyiksa atau sangat membahagiakan, melalui musik kita selalu dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang indah. Musik mampu menghantarkan kejadian yang sangat buruk sekalipun menjadi sesuatu karya yang menawan. Sekelam apa pun pengalaman yang kita rasakan, aku percaya itu tetap bisa disampaikan dari perspektif yang artistik. 

By FLØRE
11 September 2021