Self Health & Wellness

Kenali Emosi Sebelum Berbagi

Nadira Salima

@nadirasalima

Konsultan Kesehatan Mental

Memendam perasaan dan beban pikiran bisa diandaikan seperti memegang gelas berisi air. Saat kita mengangkat gelas tersebut selama satu menit, mungkin kita tidak akan merasakan apapun. Tapi ketika kita terus mengangkatnya selama satu jam, pasti tangan kita mulai terasa tidak nyaman. Lalu bagaimana kalau seharian? Tangan kita bisa terasa kaku, keram, dan bahkan membuat gelas yang dipegang tersebut jatuh. Bayangkan ketika gelas tersebut mewakili pikiran kamu. Ketika pikiran tersebut kamu genggam, bahkan dipendam dalam hati, lama kelamaan akan terasa berat bahkan membuat kewalahan. Namun, kita tidak perlu membawa gelas tersebut kemana - mana bukan? Kita dapat selalu meletakkan gelas tersebut, terutama ketika kita sudah merasa tangan kita tidak nyaman. 

Batas kuasa setiap orang dalam menyimpan beban berbeda-beda. Sebentar atau lama, nantinya pasti akan meledak. Banyak orang berpikir, beban tersebut bisa hilang meski tidak dilepaskan atau diungkapkan. Padahal jika dibiarkan terus - menerus, kondisi kita bisa bertambah parah. Ketika masalah tersebut sudah menghalangi keseharian,  baiknya kita mulai terbuka mencari bantuan. Sadari adanya berbagai bantuan tersedia untuk dapat dipilih sesuai dengan kenyamanan kita. Masalah besar berawal dari masalah kecil yang terus diabaikan. Emosi yang yang ada karena masalah-masalah tersebut hadir untuk dikenali dan dirasakan bukan untuk diabaikan. Batas diri setiap orang berbeda, coping strategy dan support system yang baik memang dapat memberikan energi positif namun mereka juga memiliki batasannya.

Masalah besar berawal dari masalah kecil yang terus diabaikan. Emosi yang yang ada karena masalah-masalah tersebut hadir untuk dikenali dan dirasakan bukan untuk diabaikan.

Tiba-tiba menangis atau meluapkan emosi tak terkendali bisa terjadi tanpa kita pahami. Akhirnya, kita mempertanyakan diri sendiri mengapa dan apa penyebabnya. Kita merasa tidak lagi menjadi diri sendiri. Hal tersebut mungkin menjadi pertanda untuk menemui profesional agar mendapatkan gambaran yang objektif untuk menyelesaikan masalah yang berada di luar kendali.

Adalah sesuatu yang lazim untuk sebagian orang jika tidak berani menceritakan beban pikirannya pada orang lain. Bisa jadi sebenarnya ia sendiri tidak memahami emosi yang dirasakan. Sehingga membuatnya memilih untuk mengabaikan atau bahkan melupakan. Alasan lainnya juga mungkin karena takut akan penolakan. Tidak semua orang bisa memahami apa yang kita rasakan. Salah-salah justru kita mendapat penilaian dan penghakiman dari mereka. Bukan mendapatkan kepeduliannya. Sehingga tidak heran banyak orang memilih untuk terlihat baik-baik saja agar tidak dinilai lemah oleh orang lain. 

Di era digital seperti sekarang ini semua orang tampaknya sudah semakin leluasa untuk membagikan pikiran dan perasaan mereka secara bebas di publik. Sayangnya, banyak dari mereka yang tidak benar-benar mengungkapkan apa yang dirasakan. Mereka hanya memperlihatkan apa yang mereka ingin orang lain lihat. Tentu saja ini bisa berdampak pada kesehatan mental mereka. Akhirnya mereka me-repress perasaan yang sedang dialami, karena tidak ingin merasakan atau tidak mau menghadapi permasalahan tersebut seakan tidak pernah terjadi. Tidak jarang juga mereka berupaya melupakan seakan tidak pernah ada. Inilah yang ingin dibagikan oleh Ibunda.id, sebuah platform kesehatan mental berbasis teknologi. Selain menyediakan layanan konseling, kami juga hadir dengan tujuan untuk memberikan ruang kepada masyarakat mengungkapkan perasaannya. It's okay to not be okay. Kami berupaya dengan memberikan informasi dan kiat-kiat agar masyarakat bisa lebih peduli terhadap kondisi kesehatan mentalnya,dan menyadari hal apa yang bisa dilakukan untuk dapat membantu dan mengenal diri lebih baik lagi.

Jika kita belum benar-benar mengendali diri sendiri dengan baik, kita bisa dengan mudah terpengaruh oleh persepsi dari orang lain yang mungkin tidak memahami kita seutuhnya. Ketika kita berupaya untuk membagikan pikiran lewat media sosial dengan tujuan mendapatkan masukan yang membangun tapi pikiran dan emosi sedang dalam kondisi tidak stabil, bisa jadi kita justru merespon perasaan tersebut dengan cara yang kurang tepat. Di situasi seperti ini kita bagaikan berada di tengah laut dan terombang-ambing ombak. Mengikuti masukan dari semua orang sampai lupa tujuan di awal membagikan beban apa.

Jika kita belum benar-benar mengendali diri sendiri dengan baik, kita bisa dengan mudah terpengaruh oleh persepsi dari orang lain yang mungkin tidak memahami kita seutuhnya.

Oleh sebab itu sebelum kita membagikan apa yang sedang terjadi pada diri kita, ada baiknya kita coba kenali dan menerima diri sendiri terlebih dahulu. Kenali apa yang membuat diri kita nyaman dan sebaliknya. Khususnya saat kondisi mental yang sedang tidak baik-baik saja, dengan kondisi emosi yang sedang tidak terkontrol, ada baiknya kita batasi dulu aktivitas penggunaan media sosial dan fokus untuk kendalikan emosimu hingga situasi terasa lebih tenang. Karena sadar atau tidak, paparan informasi dan segala aktivitas di media sosial bisa berpotensi menjadi pemicu yang berakibat kurang baik untuk kesehatan mentalmu. 

Oleh sebab itu sebelum kita membagikan apa yang sedang terjadi pada diri kita, ada baiknya kita coba kenali dan menerima diri sendiri terlebih dahulu. Kenali apa yang membuat diri kita nyaman dan sebaliknya.

Saya biasanya menyarankan untuk memberikan waktu diam sejenak untuk menyadari dan memahami apa yang sedang dirasakan. Coba kenali emosi apa yang sedang kamu rasakan, baik itu yang menyenangkan maupun tidak. Niscaya, ini bisa membuat kita lebih tenang dan membuat emosi lebih stabil. Jadi ada baiknya kita fokus dulu dengan bagaimana cara melepaskan energi atau emosi yang sedang dirasakan sebelum terburu-buru menyebarluaskan di media sosial. Kadang kita terlalu fokus pada pemecahan masalah dan pengharapan uluran tangan dari orang lain. Hal ini sering membuat kita lupa kalau orang yang paling cepat dan tepat untuk bisa menolong kita adalah diri kita sendiri. Kita menghabiskan waktu untuk mengharapkan bantuan dari orang lain tanpa pernah menyediakan sedikit waktu untuk mengenal diri atau sekadar menanyakan, “Halo, apa kabar kamu hari ini”, pada diri sendiri.

Kadang kita terlalu fokus pada pemecahan masalah dan pengharapan uluran tangan dari orang lain. Hal ini sering membuat kita lupa kalau orang yang paling cepat dan tepat untuk bisa menolong kita adalah diri kita sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Terus Berkembang di Masa Menantang

Secara kasat mata, tahun 2020 rasanya seperti “rumah hantu” versi nyata. Hanya saja rumah hantu ini tidak ada jalan keluarnya. Segala hal-hal menakutkan yang tidak pernah kita pikirkan, atau kita hindari untuk pikirkan terjadi di tahun ini.  Tahun 2020 bagi saya seperti terjebak di situasi yang stagnan tanpa tahu kapan akan selesai tapi di satu sisi lain saya merasa inner self saya “bergerak” maju.

By Stephany Josephine
28 November 2020
Card image
Self
Seni Refleksi Diri

Masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi benang kusut yang ada di dalam benaknya. Ada orang-orang yang menenangkan pikirannya lewat meditasi atau bahkan lewat memasak. Sementara aku, aku adalah orang yang sulit untuk menumpahkan pikiran atau perasaan dengan kata-kata. Cara yang paling membuatku nyaman adalah melukis. Seperti ketika aku kehilangan Bapak, aku tidak bisa mengutarakan perasaan dengan kata-kata atau dengan cara lainnya.

By Salvita De Corte
28 November 2020
Card image
Self
Belajar Beradaptasi

Dengan banyaknya orang yang selama di rumah saja ikut sejumlah kelas virtual, mendalami hobi baru, hingga mungkin mulai membuat usaha rumahan sendiri, aku sempat merasa diriku rasanya ‘begini-begini saja’ karena tidak melakukan hal yang sama dengan yang lain. Akan tetapi, pelan-pelan aku pun menyadari pengalaman demi pengalaman mengajariku untuk mengenal diriku sendiri – lebih baik dari sebelumnya. Bukankah ini juga berarti aku telah belajar suatu hal baru?

By Diyah Deviyanti
21 November 2020