Self Lifehacks

Kembali Mengenal Diri

Sepakat untuk rehat selama dua tahun sebagai sebuah band, kali ini The Overtunes membagikan pengalaman mereka mengisi waktu luang yang mereka miliki. Mulai dari mengeksplorasi kemampuan baru, kehadiran orang-orang yang memberi warna, serta perjalanan menelusuri kembali hal-hal yang dulu sempat membahagiakan hati.

Mada (MA): Oke Greatminders, sekarang kita akan bahas waktu di mana kita memutuskan untuk break masing-masing. Apa yang kita lakukan sendiri-sendiri.

Mikha (MI): The Overtunes memang kemarin break selama dua tahun dan memang selama dua tahun ke belakang banyak banget hal yang kita lakukan, tidak sebagai The Overtunes. Reuben dulu kali, ya?

Reuben (RE): Justru gue rasa lo dulu Mik, karena Mikha waktu itu rilis album solo, keren banget. EP dulu atau single dulu?

MI: Kalau sesuai timeline iya, sih. Kayaknya yang paling dulu beraktivitas sendiri kayaknya aku karena dulu aku lagi ada di dalam fase di mana aku merasa butuh banget ketemu orang yang lagi ada di fase yang cepat dalam hidupnya. Orang yang ambisius dan kreatif banget, orang-orang yang bisa narik aku untuk sama-sama ikut kreatif. Dari situ, untung ketemu orang-orang yang benar, jadi aku bisa bikin album solo pertama dan juga satu EP setelahnya, terus bikin satu konser sendiri secara independen dengan tim yang baru. Dari situ kalau buat aku menyenangkan banget karena rasanya fulfilled banget apa yang aku cari. Aku ingin banget ketemu orang yang kreatif, orang yang sama-sama ambisius dan dalam project ini aku ketemu semuanya, buat aku itu penting banget untuk karakter aku sekarang dan fase aku sekarang ini di The Overtunes.

RE: Awal tahun itu memang biasanya kita main collaborator kan, tapi pada saat itu gue merasa kayaknya gue nggak akan bisa berkontribusi apa-apa karena memang hidup rasanya quite all over the place, bingung soal banyak hal. Pekerjaan pun pada saat itu masih periode-periode yang kurang yakin mau jadi musisi, mungkin lagi mengalami yang kata orang quarter life crisis dan gue kira dulu gue termasuk orang-orang yang imun akan hal itu. Rasanya gue cukup serius dalam hidup dan nggak akan kena hal-hal yang klise gini, lah, tapi ternyata parah banget. Pada saat itu bahkan rasanya kayak nggak bisa keluar. Saat pandemi, ironisnya gue merasa agak bersyukur karena gue jadi bisa bener-bener mikir seakan-akan dari kertas kosong, hidup gue ini mau apa.

Saat pandemi, ironisnya gue merasa agak bersyukur karena gue jadi bisa bener-bener mikir seakan-akan dari kertas kosong, hidup gue ini mau apa.

MA: Kalau gue, di samping banyak menghabiskan waktu sama Mama atau Andrew tapi gue juga belajar skill-skill baru seperti photoshop. Seperti yang Reuben bilang juga pas off camera tadi, gue soul searching kan ya katanya dan memang bener, sih. Dua tahun terakhir ini gue lebih banyak berkaca ke belakang dan bukan dua atau tiga tahun ke belakang, gue bener-bener merefleksikan diri dari gue kecil. Gue sampai bertanya kenapa gue jadi orang yang kayak gini? Padahal waktu masih kecil rasanya berbeda. 

Dua tahun terakhir ini gue lebih banyak berkaca ke belakang dan bukan dua atau tiga tahun ke belakang, gue bener-bener merefleksikan diri dari gue kecil. Gue sampai bertanya kenapa gue jadi orang yang kayak gini? Padahal waktu masih kecil rasanya berbeda. 

Sebenarnya kalau di bilang krisis, sangat sih. Gue pikirin apa yang beda, ya, sama diri gue pas kecil? Rasanya ada yang beda. Jadi, gue cari apa yang bikin gue seneng pas kecil lalu gue coba kulik kembali. Proses ini sebenarnya sampai mempertanyakan kenapa sebenernya gue suka tim bola ini, kenapa gue beli mainan ini, dan banyak hal lagi. Gue ingin coba menggali lagi. Selama pandemi juga pertama kali dalam seumur hidup gue mencoba membuka diri dengan orang dari luar lingkup keluarga. Benar-benar coba sharing dan ngobrol, lucunya di tengah-tengah pandemi ini banyak orang yang punya kekhawatiran dan pemikiran yang sama jadi kita bisa saling bertukar pikiran dan saling mendukung satu sama lain. Memang ada rasa ingin berkarya bareng lagi tapi memang butuh break aja. Mungkin selama ini juga kita bingung untuk mencari identitas kita sebagai band. Ternyata break ini akhirnya menjelaskan ini semua.

RE: Mengurangi kebiasaan menunda juga kali, ya. Misalnya kalau kita punya mimpi apa, setidaknya mencoba untuk jangan ditunda kalau sekarang mikirnya, karena waktu cepet banget berlalu.

MI: Sebagai kakak beradik sebenarnya kita saling tahu gimana cara kita peduli satu sama lain, ya, tapi mungkin ini tipe kakak beradik cowok juga di mana kita ada gengsi untuk ngasih tahu kakak kita atau adik kita harus ngapain. Satu lagi terkadang kita juga egois dan sok tahu, kita merasa kita punya solusi untuk masalah orang lain. Misalnya aku merasa Reuben orangnya pesimis nih, dia harus ketemu orang buat optimis. Ini juga salah satu proses pendewasaan menurut aku, karena dari dulu aku selalu merasa bisa ngerti masalahnya Mada atau Reuben kenapa dan harus diselesaikan dengan cara gimana. Sekarang aku sadar ternyata sekali pun di mata aku solusinya sangat jelas ternyata memang nggak bisa dipaksakan ke orang lain. Jadi, perjalanan kita yang unik dan tanpa script sama sekali kadang bisa membawa solusi yang aku maksud tapi memang nggak bisa disimpulkan oleh orang lain aja menurutku.

Sekarang aku sadar ternyata sekali pun di mata aku solusinya sangat jelas, ternyata memang nggak bisa dipaksakan ke orang lain.

Proses pengenalan diri yang selama ini aku lakukan semuanya berdampak baik. Hal membahagiakan dari pengenalan diri adalah rasanya jadi refresh dan jadi punya cita-cita yang baru ataupun jadi mengerti kenapa aku begini sekarang dan itu penting untuk selalu punya motivasi dalam melakukan hal yang ingin kita lakukan. Penting juga untuk punya waktu untuk evaluasi diri sendiri dan bisa lihat lagi kehidupan kita dari perspektif yang beda karena kalau nggak gitu rasanya kurang hidup.

Penting juga untuk punya waktu untuk evaluasi diri sendiri dan bisa lihat lagi kehidupan kita dari perspektif yang beda karena kalau nggak gitu rasanya kurang hidup.

RE: Pada akhirnya kita juga bisa jadi rileks dan jadi diri sendiri, kita memang nggak bisa jadi orang lain dan nggak ada masalah tentang itu. Bagiku justru ini yang sulit, untuk menjadi diri sendiri saja sedangkan ketika kita berada dalam perjalanan pengenalan dan penerimaan diri. Kalau kita bisa mencapai momen itu akan jadi lebih rileks dan kita bisa jadi lebih mudah berelasi dengan siapa pun secara jujur dan tidak dibuat-buat. Jadi lebih tenang karena nggak ada yang disembunyikan atau tidak ada kepura-puraan. 

Related Articles

Card image
Self
Mendengar dengan Tulus

Saat kita bersedia belajar mendengar dengan sepenuh hati pada dasarnya kita juga menambah kemampuan dan referensi kita untuk berbicara dengan orang lain. Manusia memang harus bisa saling mendengarkan dan didengarkan untuk bisa merasa berarti bukan?

By Greatmind
14 May 2022
Card image
Self
Good Enough: Apa Itu Libur?

Apa itu libur? Terlepas dari se-workaholic nya seseorang, kita semua sepakat kalau kita butuh liburan untuk berbagai alasan. Yup, meskipun kita semua suka libur, ternyata nggak sedikit juga orang yang merasa bersalah salah dirinya meliburkan diri. Kok bisa?

By Nurul Idzni
14 May 2022
Card image
Self
Semua Akan Berakhir

"Jika hari ini adalah hari terakhir hidup Anda, apa yang Anda akan lakukan?" Hal terpenting dalam kehidupan ketika kita menemukan alasan untuk hidup adalah, kita bisa memahami semua akan berakhir, dan mulai melihat dunia dengan sudut pandang baru.

By Joshua Budiman
14 May 2022