Self Lifehacks

Kedisiplinan Diri Berdasar Pada Komitmen

Apapun yang kita lakukan sehari-hari selalu memiliki pengaruh pada orang lain. Seakan seperti sebuah produk yang memiliki brand image. Kita menjalani keseharian pun harus tahu brand image kita seperti apa dan itu berdasarkan perilaku sehari-hari. If you want to be like a champion, act like a champion. Sehingga kalau kita mau menjadi produk dengan brand image yang bagus dibutuhkan kedisiplinan diri agar dapat menjadi produk yang berbeda. Self-discipline atau kedisiplinan diri tersebut juga tergantung dari seberapa besar komitmen yang kita buat untuk diri sendiri. Tidak ada orang yang tidak bisa melatih kedisiplinan dirinya. Semua hanya soal terbiasa atau tidak. 

Saya sewaktu kecil tinggal bersama kakek dengan budaya Belanda yang sangat teratur soal waktu. Beliau mengajarkan bahwa kita bisa melakukan sesuatu karena terbiasa. Sedari kecil beliau menanamkan budaya tepat waktu pada saya. Sehingga sampai dewasa saya terbiasa tepat waktu. Menurutnya, semua aturan permainan berdasar pada waktu. Jika kita kehilangan waktu kita bisa kehilangan segalanya. Kesempatan, momen, apapun. Dari beliau saya belajar tentang kedisiplinan diri adalah soal bagaimana kita bisa mengatur diri sesuai dengan kerangka waktu yang sudah dibuat. Lambat laun saya pun mengerti bahwa ketika seseorang sudah mengerti betapa berharganya waktu, ia akan mengerti betapa berharganya semua hal dalam hidup. Menurut saya investasi paling murah untuk memberikan impresi terbaik pada orang lain adalah tepat waktu. Dengan datang 15 menit lebih awal bisa membuat pikiran lebih santai, tidak emosi di jalan, tidak buru-buru. Kalau ada hal di luar rencana di jalan masih bisa punya waktu untuk tetap sampai sesuai jadwal. Rasanya tidak ada satu orang pun di dunia yang sukses karena tidak tepat waktu. 

Kedisiplinan diri adalah soal bagaimana kita bisa mengatur diri sesuai dengan kerangka waktu yang sudah dibuat. Ketika seseorang sudah mengerti betapa berharganya waktu, ia akan mengerti betapa berharganya semua hal dalam hidup.

Memang untuk terbiasa menjadi disiplin soal komitmen kita terhadap sesuatu itu pasti ada tantangannya. Salah satunya adalah faktor dari luar diri seperti keluarga dan teman-teman. Kalau faktor keluarga sebenarnya tidak berpengaruh terlalu besar terhadap komitmen kita. Sedangkan teman-teman bisa sangat mungkin menguatkan atau menggoyahkan komitmen kita. Misalnya kita punya lima teman pemabuk. Besar sekali kemungkinannya kita akan orang keenam yang juga pemabuk. Begitu pun kalau kita punya lima teman profesor. Bisa jadi kita akan menjadi profesor juga. Sedikit saja kita merasa nyaman dengan teman yang dipilih bisa jadi kita akan lebih mendengarkan mereka daripada keluarga di rumah.

Bagi saya untuk tetap berada dalam komitmen ada tiga prinsip yang bisa ditanamkan yaitu 3K: Kemauan, Komitmen, Konsistensi. Kalau kita mau, kita harus berkomitmen. Kalau sudah berkomitmen harus konsisten. Jadi semua tergantung diri kita sendiri. You are what you need. Selain kuatnya prinsip tersebut agar tidak terpengaruh saya juga selalu mengingat bahwa apapun yang saya lakukan adalah tanggung jawab saya sendiri. Kalau kita saja tidak bisa tanggung jawab pada diri sendiri bagaimana bisa mempertanggung jawabkan perilaku pada orang lain? Misalnya kalau kita sudah berjanji pada diri sendiri untuk tepat waktu tapi kemudian terlambat dan tidak merasa bersalah. Bagaimana kita bisa dipercaya oleh orang lain kalau janji pada diri sendiri saja tidak ditepati? Tidak ada rasa bersalah pada diri sendiri telah melanggar janji. Bagaimana bisa punya rasa bersalah pada orang lain? 

Untuk tetap berada dalam komitmen ada tiga prinsip yang bisa ditanamkan yaitu 3K: Kemauan, Komitmen, Konsistensi. 

Semua orang siap menang tapi tidak semua orang siap kalah. Jika kita berharap yang terbaik untuk diri sendiri, kita harus melakukan yang terbaik untuk diri sendiri juga. Kalau kalah berarti itu adalah bagian dari pembelajaran untuk menjadi yang terbaik nantinya. Akan tetapi jika suatu saat kita melanggar komitmen, kita harus melakukan evaluasi untuk mencari inti permasalahan dari pelanggaran itu apa. Misalnya saya terlambat pada satu waktu. Saya akan menelaah ke belakang. Kenapa saya terlambat? — Karena bangun terlambat. Kenapa bangun terlambat? —Karena tidur terlambat. Kenapa? Karena saya main PlayStation sama anak. Sampai terus ketemu pada inti permasalahannya adalah saya ternyata pas pulang ke rumah tidak langsung mandi tapi ngobrol satu jam dengan teman di telepon. Apabila sudah evaluasi coba hindari kesalahan yang sama di hari berikutnya. 

Sedangkan kalau dalam berkeluarga kedisiplinan penting diterapkan meski tidak sama dengan yang diterapkan pada diri sendiri. Hidup itu jelas tidak bisa terlalu dikotak-kotakan. Tidak ada template-nya harus seperti apa. Sehingga dalam berkeluarga kita harus tahu bahwa kita tidak bisa memaksakan kedisiplinan yang kita terapkan pada diri sendiri pada pasangan atau anak-anak. Kita dengan pasangan dibesarkan dari dua keluarga yang berbeda. Jangan dua dijadikan satu tapi dua pegangan tangan beriringan ke jalan yang sama. Kalau dua dijadikan satu nanti malah berantakan. Ada yang saya suka, pasangan tidak suka, dan sebaliknya. Harus diusahakan menghargai kebiasaan baik masing-masing dengan cara yang berbeda. Kemudian diteruskan ke anak-anak. Misalnya saya selalu bangun jam 4.30 pagi. Saya tidak mungkin menanamkan itu pada istri. Dia bangun lebih siang. Tapi setelah saya bangun, berolahraga dan kembali ke rumah, saya melihat anak-anak sedang sarapan dengan masakan yang sudah dibuatkan istri. 

Kita dengan pasangan dibesarkan dari dua keluarga yang berbeda. Jangan dua dijadikan satu tapi dua pegangan tangan beriringan ke jalan yang sama.

Meskipun begitu, kami berdua sepakat untuk mengajarkan anak-anak kedisiplinan soal membuka diri bergaul dengan banyak orang. Tidak peduli siapa pun yang datang, mereka harus sopan, tidak pernah malu untuk menyapa, bilang “hai” atau “halo”. Sebab investasi terbaik terhadap diri kita adalah ketika kita bisa memberikan good first impression. Tidak pernah ada kesan pertama untuk kedua kalinya. Sehingga saya mengajarkan mereka untuk selalu berupaya memberikan kesan pertama yang baik pada setiap orang dengan menjadi pribadi yang ramah dan sopan.

Related Articles

Card image
Self
Makna Kepercayaan

Terkadang kita mungkin tidak sadar ketika fokus pada ritual keagamaan seringnya kita malah punya keinginan untuk lebih religius dari orang lain. Kemudian kita malah melupakan sisi spiritual dari ritual keagamaan itu sendiri. Bahkan kita bisa sampai lupa pada hubungan personal kita dengan Tuhan.

By Daniel Mananta
30 May 2020
Card image
Self
Menghadirkan Sisi Spiritual

Terkadang tanpa sadar kita seringkali memikirkan sesuatu setengah gelas kosong atau setengah gelas isi saja. Maksudnya adalah kita seringkali tidak melihat sesuatu secara keseluruhan tetapi hanya sebagian saja. Sama seperti kita melihat agama. Tanpa sadar banyak dari kita take it for granted.

By Rama Dauhan
30 May 2020
Card image
Self
Seni Meminta dan Menerima

Kita pasti seringkali atau pernah mendengar ungkapan “Ucapan adalah doa” atau “The Power of Your Mind.” Apakah benar apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa menjadi doa dan terjadi dalam kehidupan kita? Memahami salah satu hukum alam yaitu The Law of Attraction (hukum tarik menarik) dan sekaligus melatihnya dapat membuktikan apakah memang apa yang kita pikirkan dan ucapkan bisa benar-benar terjadi.

By Dea Soelistyo
30 May 2020