Self Lifehacks

Kedamaian Dalam Sepotong Roti

Talita Setyadi

@talitasetyadi

Chef Pastry & Pengusaha Kuliner

Fotografi Oleh: Nafhan Nurul

Berkutat di dalam dapur bukanlah pilihan pertama saya. Awalnya saya mengira musiklah yang akan membantu saya dalam berekspresi juga memahami tujuan hidup. Ternyata tidak demikian. Saya dulu adalah seorang musisi jazz yang mengenyam pendidikan di jurusan Music of Jazz Performance. Selama kuliah, saya memiliki ketertarikan lain yaitu pada dunia kuliner khususnya pada pastry. Muncul begitu banyak pertanyaan dari observasi saya pada pastry. “Bagaimana cara mereka membuat produk secantik dan seenak ini?”

Kemudian mulailah juga berkembang kesadaran lain tentang tujuan hidup di mana saya tersadar bahwa ternyata musik jazz tidak bisa dinikmati semua orang  –sedangkan kue dan roti bisa. Dalam kesadaran itu juga akhirnya tercetuslah keinginan untuk mendalami dunia kuliner khususnya dunia cake dan pastry. Meski terlihat menyeberangi dunia yang amat berbeda namun sebenarnya dunia pastry dan jazz cukup mirip. Keduanya adalah soal menghasilkan karya seni. Keduanya dinikmati dengan panca indera. Dan keduanya adalah medium sendi untuk saya mengekspresikan diri. Hanya saja saya merasa dapat lebih berguna di dunia pastry karena keyakinan untuk bisa menjangkau lebih banyak orang. 

Berawal dari ketertarikan dan keinginan bergelut di dalamnya kemudian membawa saya pada hasrat untuk meningkatkan nilai pastry di mata banyak orang. Kini berada di dunia kuliner bukanlah sekadar tujuan pribadi. Kini tujuannya lebih luas. Saya ingin membuat orang dapat mulai melihat dunia kuliner sebagai sebuah bentuk seni lain karena terdapat nilai-nilai seni yang filosofis di dalam sepotong roti. Roti dan kue memiliki tiga komponen penting yaitu rasa (berasal dari bahan-bahan yang digunakan), tekstur (berasal dari teknik memasak) dan bentuk (berasal dari kebebasan berkreativitas sang chef). Ketiga elemen ini sebenarnya adalah kombinasi dari tiga esensi hidup: alam, sains dan seni. Bahan memasak representasi dari alam, tekstur atau teknik masak representasi dari sains dan kreativitas dalam menampilkan presentasi produk kuliner berasal dari seni. Kombinasi ketiga inilah yang akhirnya melahirkan BEAU, sebuah toko pastry yang sedang saya kembangkan. Definisi kata BEAU sendiri saya ilhami cukup dalam yaitu interpretasi tentang beauty (keindahan) yang dapat dilihat dari berbagai perspektif yang berbeda. Tidak melulu berarti cantik terlihat dari luar saja. 

Dunia kuliner adalah sebuah bentuk seni lain karena terdapat nilai-nilai seni yang filosofis di dalam sepotong roti.

Di dalam sebuah dapur banyak hal “magis” yang terjadi. Sebagai seorang chef pastry saya belajar untuk mengubah bahan-bahan yang sederhana seperti tepung, air, garam, dan gula menjadi sebuah bentuk seni. Prosesnya tentu saja tidak dalam waktu cepat. Butuh dedikasi dan kerja keras untuk menyempurnakan karya seni tersebut. Setiap hari terus melatih membuat roti hingga dapat menghasilkan produk berkualitas yang dapat membentuk senyum dan kepuasan pelanggan. Terdapat kebahagiaan, kepuasan, dan pencapaian ketika berhasil membuat sebuah produk kuliner yang rasanya enak dengan bentuk yang cantik. Jangan kira semua langsung sempurna sekali jadi. Kami tidak melulu menghasilkan produk kuliner yang selalu sempurna. Banyak hal-hal yang tidak bisa dikendalikan di dalam dapur. Contohnya cuaca. Saat harus membuat ragi alami yang amat bergantung pada kondisi cuaca kami tidak bisa mengatur temperatur atau kelembaban di hari itu seperti apa. Bisa saja tiba-tiba cuaca tidak mendukung sehingga ragi tidak dapat dihasilkan sesuai yang diharapkan. Ibarat memancing ikan, ketika kami chef pastry melihat roti terpanggang sukses seakan seperti mendapat ikan besar. Bahagia luar biasa.

Roti dan kue memiliki tiga komponen penting yaitu rasa, tekstur, dan bentuk. Ketiga elemen ini sebenarnya adalah kombinasi dari tiga esensi hidup: alam, sains, dan seni.

Dari proses ini saya belajar banyak tentang kehidupan. Saya menyadari ternyata sebagai manusia kita harus pintar-pintar melakukan penyesuaian. Banyak perkara yang tidak bisa dikendalikan dan berada di luar kemampuan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak atau pun tidak bisa menjadi orang yang kaku dan stagnan. Sebaliknya, dalam hidup kita harus bisa lebih fleksibel harus bisa pintar-pintar menyesuaikan diri dengan keadaan, situasi, bahkan pribadi lain yang hidup di sekitar kita. Powerful and powerless at the same time. Powerless, kita tidak punya kekuatan untuk mengendalikan keadaan di luar ekspektasi tetapi powerful, kuat ketika kita bisa bekerja bersama dengan alam, dengan pribadi yang lain, bahkan dengan Tuhan. Lama kelamaan saya pun belajar tentang arti kebahagiaan. Setiap orang mungkin melakukan pencarian kebahagiaan dengan cara yang berbeda-beda. Bisa dari rumah megah, seribu toko, atau bahkan sesederhana berhasil memanggang sebuah croissant yang cantik dan sesuai ekspektasi. Ya, hal sesederhana Ini pun dapat disebut sebuah kesuksesan karena menuai rasa bahagia. Walaupun mungkin bisnis ini bukanlah bisnis yang menghasilkan uang banyak tapi inilah pencapaian pribadi saya. Apalagi ketika produk pastry atau kue kami bisa membuat para konsumen mengalami sesuatu yang mendalam dari setiap gigitan. Bukan sekadar makan tanpa kesadaran seperti yang banyak orang lakukan ketika makan. Mereka makan sambil mengerjakan pekerjaan atau bahkan sambil main komputer. Sehingga merupakan kesuksesan bagi saya apabila produk kami dapat berkontribusi dalam penyebaran mindful eating di tengah masyarakat.

Dari memasak saya belajar banyak tentang kehidupan bahwa sebagai manusia kita harus pintar-pintar melakukan penyesuaian. Banyak perkara yang tidak bisa dikendalikan dan berada di luar kemampuan.

Hanya saja saya paham bahwa saya tidak bisa setiap hari bahagia. Ada kalanya merasa sedih, marah, dan galau. Dulu mungkin saya menemukan pelarian-pelarian tersendiri ketika merasakan emosi tersebut. Pelarian yang sebenarnya tidak membantu saya melepaskan emosi dan menyelesaikan masalah. Memang perlu diakui sedikit banyak pengaruhnya berasal dari stigma masyarakat bahwa emosi negatif itu seringkali dipandang sebagai hal yang negatif. Sedih atau marah sering dipandang tidak baik sehingga tidak boleh diluapkan. Padahal tidak seperti itu. Kita mungkin kurang mendengarkan diri sendiri untuk memaklumi saat sedih, marah atau galau. Kita tidak menerima kalau kita tidak bisa selalu bahagia. Kita adalah seorang manusia dan wajar jika memiliki emosi-emosi tersebut. Bukan berarti emosi tersebut tidak baik cuma kadang cara kita melampiaskannya yang salah. Kalau saya sedang sedih, saya berusaha menerima kesedihan tersebut. Mengeluarkan kesedihan tersebut tanpa harus melibatkan orang lain apalagi orang yang membuat sedih. Saya menyadari bahwa sah-sah saja merasakan emosi tersebut sebab emosi tersebut pasti memiliki sesuatu yang bisa dipelajari. Ketika saya sudah tahu bahwa emosi negatif tidak baik untuk diri sendiri, saya harus bisa memperbaikinya untuk bisa merasa lebih baik, lebih dewasa. Bukan menghindarinya. Saya harus lebih jujur dengan diri sendiri kalau memang sedang marah kenapa harus berusaha untuk melawannya dan harus tiba-tiba merasa senang? Setelah melepaskan emosi-emosi tersebut barulah saya bisa menemukan keseimbangan lagi. Bisa mengingat kembali tujuan hidup saya, mengapa saya ada di titik ini sekarang, apa yang ingin saya capai juga mengingat alasan mengapa saya memulai apa yang saya lakukan saat ini.

Related Articles

Card image
Self
Seni Melepas ala Rumi

Rumi adalah seorang penyair besar beraliran sufi yang hidup di abad ke-13. Ia banyak menulis syair yang dipercaya memiliki kekuatan kata-kata sebab tidak hanya indah, namun juga kedalaman. Salah satunya, adalah tentang melepaskan, dimana kita akan berbicara mengenai keberserahan, penerimaan, mengikhlaskan, dan memaafkan - yang semuanya adalah sifat yang dimiliki oleh hati.

By Pujiastuti Sindhu
23 May 2020
Card image
Self
Menemukan Keyakinan

Sebenarnya ketimbang dibilang religius saya lebih memilih untuk diingat sebagai seseorang yang toleran. Mengapa? Sebab saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya.

By Narendra Pawaka
16 May 2020
Card image
Self
Belajar Mengenali Diri

Awal tahun ini banyak kejadian yang secara bertubi tubi seolah membebani diri. Baik pikiran maupun tubuh. Perlahan tapi pasti saya menerima segala kekurangan untuk menyadari sikap panik tidak akan berbuah apapun. Saya butuh dekat dengan diri dan mengenalinya. Sehingga apapun yang dirasakan dapat menjadi pembelajaran untuk dapat disikapi dengan tepat. 

By Nur Tejo
16 May 2020