Self Lifehacks

Kebetulan Bukan Kebenaran Apalagi Keberhasilan

Glenn Marsalim

@glennmars

Penulis & Pekerja Lepas

Fotografi Oleh: Glenn Marsalim

Ada kata betul dalam kebetulan. Ada kata benar dalam kebenaran. Kata betul dan benar sangat tipis bedanya Tapi kata kebetulan dan kebenaran sungguh tidak sama maknanya. Mungkin ini jawaban inti dari misteri perbedaan kata betul dan benar. Dan mungkin ini awal petaka ketika kebetulan dianggap kebenaran. 

Banyak yang percaya tidak ada yang namanya kebetulan, semua sudah diatur. Tapi kalau kebetulan sesungguhnya tidak ada, untuk apa kata kebetulan diciptakan? Jadi tulisan ini hanya cocok untuk mereka yang percaya bahwa kebetulan itu nyata dan pantas untuk dirayakan.

Sepertinya tidak perlu diberi contoh bagaimana kebetulan sering jadi awal kesempatan, kemungkinan, dan peluang emas. Selama kebetulan yang nongol itu disambut dengan kemampuan dan kemauan. Dan besar kemungkinan apa yang kita lakukan dalam hidup ini adalah soal mempersiapkan kemampuan diri untuk menyambut kebetulan-kebetulan yang akan hadir dalam hidup dan mengubahnya menjadi peluang.

Besar kemungkinan apa yang kita lakukan dalam hidup ini adalah soal mempersiapkan diri menyambut kebetulan-kebetulan yang akan hadir dan mengubahnya menjadi peluang.

Motivator atau kisah sukses di atas panggung pun sering menggunakan kebetulan sebagai awal keberhasilannya. Bahkan banyak dari mereka yang menyebut kebetulan sebagai petunjuk dari yang Maha Kuasa. Kemungkinan besar ini adalah cara orang Indonesia untuk merendah hati dan sopan. Karena sebetulnya, bagaimana menyikapi kebetulan yang datang itulah yang berpotensi mengubah hidup ke depan lebih baik. 

Kebetulan-kebetulan ini bukan hanya soal kesempatan meraih rezeki cuan atau jodoh, tapi juga kesempatan untuk belajar hal baru. Dan belajar tentang hal baru adalah cara mempersiapkan diri untuk menyambut kebetulan-kebetulan yang akan datang untuk diubah menjadi kesempatan atau peluang. Jadi kebetulan atau kemampuan duluan? Ini sama klasiknya dengan pertanyaan ayam atau telur. 

Pertanyaan yang lebih menarik berikutnya, apakah kebetulan itu hadir dengan sendirinya atau diciptakan? Ketika hadir dengan sendirinya, sering kita sebut sebagai “petunjuk”, dan ketika diciptakan seringnya disebut “usaha”. 

Kebetulan ketemu dengan calon investor di sebuah pesta, itu petunjuk. Hadir ke pesta, itu usaha. Tapi keduanya hanya akan sia-sia tanpa diiringi dengan kemampuan. Investor mengucurkan dana, tanpa diiringi kemampuan untuk mengelolanya, maka kebetulan tak akan jadi kesempatan melainkan kegagalan. 

Kebetulan ketemu dengan calon jodoh, tanpa disambut dengan kemampuan untuk menjalin hubungan, ya balik jadi jomblo lagi. Kebetulan diterima di universitas idaman, tanpa dilanjuti dengan tekad untuk belajar, ya bisa berujung DO. Kebetulan duduk sebelahan sama calon bos di pesawat, tanpa disikapi dengan profesionalisme, ya posisi pun melayang. 

Yang kasihan adalah kebetulan-kebetulan bawaan lahir; anak orang kaya dan atau kece. Kebetulan dia anak orang kaya, maka semua hasil kerja keras yang diraih dalam hidupnya sering dicap sebagai kebetulan belaka. Kebetulan dia cantik, maka semua prestasinya direduksi hanya karena keunggulan fisik. 

Di kutub yang lain, sering juga kita merayakan kebetulan bawaan lahir mentah-mentah. Apa pun kata orang kaya langsung dianggap sebagai kebenaran way of life. Padahal bisa jadi perkataannya adalah pepesan kosong yang sudah usang. “Follow your passion guys and trust me money will follow,” kata orang kebetulan kaya untuk langsung digrafir dalam hati.

Apa pun kata orang cakep, langsung diikuti seperti buku kehidupan. Padahal bisa jadi perkataannya tanpa didukung data dan fakta. “Hae gaes, aku baru cobain serum nih, dan tiba-tiba wow besoknya muka aku bersinar kayak bohlam!” Kata orang kebetulan cakep lalu kita langsung beli serum online. Kesirep kalau kata orang. 

Yang sialnya, kebetulan hanya disebut kebetulan kalau diiringi kesempatan atau peluang. Tapi tidak dianggap kebetulan kalau diiringi petaka. Kebetulan papasan sama jodoh, tapi tidak pernah kebetulan papasan sama jambret. Padahal keduanya memerlukan kemampuan untuk disikapi karena sama-sama bisa memberikan kesempatan.

Sialnya, kebetulan hanya disebut kebetulan kalau diiringi kesempatan atau peluang. Tapi tidak dianggap kebetulan kalau diiringi petaka

Sebagai pedagang pernak-pernik, suatu hari kebetulan saya ditawari untuk berdagang di toko yang kebetulan berada di lokasi yang kebetulan mentereng. Walau dengan angka kosinyasi yang kebetulan mencekam, tawaran itu kebetulan saya ambil. Mulailah barang dagangan saya dipajang kebetulan berjejeran dengan label-label ternama dalam negeri.

Tak sampai seminggu, saya kebetulan dapat kabar untuk segera restok barang karena sudah mau habis. Wow! Tapi, ah, kebetulan aja sepertinya. Segeralah barang direstok. Tak sampai seminggu lagi, permintaan restok pun datang lagi. Wow! Sepertinya ini bukan kebetulan. Waktunya mencari tahu apa penyebab kelarisan ini. 

Saat restok di toko itu, kebetulan SPG yang sedang berjaga membantu saya untuk menata dagangan. Saya pun mencoba mengorek info, “Siapa sih Mbak yang beli? Kok bisa banyak gitu?” Jawabannya kebetulan sungguh di luar dugaan, “Turis dari Cina.” Ini baru wow yang sesungguhnya karena tidak pernah terlintas sedikit pun turis dari Cina bisa jadi target market yang berpotensi. Di luar rencana, di luar strategi. Semuanya kebetulan.

Di malam harinya saya nonton YouTube, seorang entrepreneur ternama sedang menceritakan strategi pemasaran yang dilakukannya sehingga sukses berat. Terutamanya soal pemahaman target audience yang harus menyeluruh. Setelah menonton sampai selesai, tak sekalipun kata kebetulan keluar dari mulutnya, semua terencana. 

Sebelum tidur kebetulan saya tak langsung mengantuk. Saya pun main-main peran seandainya saya entrepreneur sukses nanti dan saya ditanya “Apa rahasia sukses menjangkau turis dari Cina?” Apakah saya dengan gagah dan lantang akan menjawab jujur “Semuanya kebetulan saja.”?

Pikiran saya pun melayang ke belakang saat saya sedang sering diundang jadi pembicara. Paling banyak tentunya pertanyaan soal kiat-kiat, tips-tips, dan cara singkat meraih sesuatu. Malam itu saya ingin jujur sama diri sendiri. Seringnya semua keberhasilan yang saya alami itu berawal dari kebetulan. Tapi saya kemudian membungkusnya semata-mata hasil kerja keras. Seringnya semua kesuksesan terjadi tanpa rencana, kebetulan, tapi saya membawakannya seolah semua penuh perhitungan dan rencana. Tujuan pastinya hanya satu; supaya saya dikagumi. 

Malam itu pun berubah jadi malam yang panjang. Saya merancang sebuah materi presentasi yang berjudul “KEBETULAN bukan KEBENARAN”. Tenang, isinya bukan soal motivasi apalagi perenungan batin. Tapi soal bagaimana saya menggunakan kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup menginspirasi saya untuk berkarya. Soal kebetulan yang menguntungkan dan merugikan yang bisa menjadi pelajaran dan semangat saya. Dan yang terakhir bagaimana kebetulan itu bukan kebenaran apalagi keberhasilan.

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021