Self Art & Culture

Kebebasan Melahirkan Kreativitas

Jordan Marzuki

@jordanmarzuki

Seniman

Ilustrasi Oleh: Jordan Marzuki

Peluncuran buku ilustrasi saya yang bertajuk War, Astronaut, Death, Violence, Floating Mountain and Roman Soldiers tidak begitu saja hadir di masyarakat tanpa pemikiran panjang. Sebelumnya saya memang kurang percaya diri untuk menjadikan kumpulan gambar-gambar saya semasa kecil itu menjadi buku. Tapi ternyata ketika saya tunjukkan di lingkaran kecil media sosial, banyak orang yang memberikan respon positif. Kumpulan gambar saat saya kecil tersebut baru saya temukan kembali kurang lebih lima tahun lalu. Awalnya saya hanya menjadikannya sebagai konsumsi pribadi namun karena banyak pribadi yang memuji orangtua saya karena masih menyimpan gambar-gambar tersebut, saya pun tertegun. Sesuatu yang awalnya hanya ingin dijadikan kenangan pribadi ternyata bisa jadi penghargaan untuk orangtua saya.

Prosesnya sehingga menjadi sebuah buku pun dibumbui dengan berkembangnya pemikiran saya selama lima tahun tersebut. Tujuannya tidak hanya semata-mata ingin memamerkan gambar masa kecil tapi dikemas dalam filosofi hidup yang tak kalah menarik. Selain menjadi “warisan” dan tentu saja nostalgia saya, buku ini juga diharapkan dapat menjadi pengingat bagi orang tua di luar sana agar dapat lebih mendukung anak-anaknya dalam berkembang. Jangan pernah menganggap sepele apa yang dilakukan anak-anak di masa kecil dan lebih peduli dengan apa yang mereka minati.

Jangan pernah menganggap sepele apa yang dilakukan anak-anak di masa kecil dan lebih peduli dengan apa yang mereka minati.

Memang, gambar-gambar di dalamnya mungkin cukup “menyeramkan” dengan beragam jenis senjata, tema peperangan, serta kekerasan. Tapi saya menerima bahwa diri saya memang berbeda karena masa kecil saya, toh berbeda dengan anak lainnya. Inspirasi ilustrasi-ilustrasi tersebut datang dari permainan video, tontonan televisi (di mana orangtua saya tidak pernah menentukan waktu khusus untuk menikmatinya) serta pengalaman berwisata ke museum-museum. Letak perbedaannya adalah cara penyerapan saya pada apa yang disaksikan, dlihat dan dialami tersebut. Contohnya saat menonton film Top Gun, saya justru lebih memberikan perhatian pada detail kokpit pesawat daripada ke alur cerita atau bagaimana para karakter membunuh satu sama lain. Begitu juga kala saya berada di museum sains dan sejarah. Pada kisah kesejarahan, saya dapat begitu mengingat proses menembak pada saat perang, senjata apa yang digunakan, hingga nama senjata tersebut.

Untungnya, mengonsumsi seluruh tayangan yang berbau kekerasan tersebut tidak memberikan pengaruh di perilaku. Saya tidak pernah terlibat dalam kekerasan atau berniat untuk terlibat. Bahkan saya terbilang cukup takut jika harus melihat darah, kecelakaan, atau sesuatu yang terlalu sadis. Setiap terjadi kecelakaan saja saya menghindari untuk melihatnya. Jadi apa yang saya ingat dan proses dalam otak itu benar-benar sekadar fantasi yang saya tuangkan dalam gambar-gambar. Sehingga sisi “liar” tersebut tidak saya transformasikan pada kegiatan sehari-hari, hanya pada gambar saja sebagai bahan inspirasi. Terlebih lagi waktu saya kecil tidak pernah ada yang tahu apa yang saya gambar. Kala bermain saya tidak pernah menunjukkan sisi yang berfantasi tentang kekerasan atau perang. Saya hanya menuangkannya di rumah. Apalagi di sekolah, saya tidak berani.

Di sekolah saya dulu terdapat arahan bagi para murid untuk hanya menggambar yang bertemakan realis saja. Gambar pohon ya pohon, gambar burung ya burung. Kalau saya mengubah sedikit bentuk tersebut gambar saya dikatakan gambar abstrak dan mendapat nilai jelek. Pernah sekali waktu gambar saya bahkan disebut-sebut berhala karena menggambar satu figur. Jadi saya tidak pernah mengekspresikan diri saya yang sebenarnya lewat gambar karena penilaian saya pada seni berbeda dengan mereka. Toh, mereka pun tidak mengerti dan memberikan apresiasi, pikir saya. Namun tayangan kekerasan atau perang (untuk saya pribadi) sangatlah menarik di mana menggambarkan kehidupan: dari seseorang yang hidup lalu tiada. Pun memberikan saya banyak pertanyaan akhirnya seperti mengapa perang diperbolehkan mengapa saling bunuh. Seakan-akan memberikan kebebasan dengan artinya yang amat luas. Tidak lain juga karena visualnya yang seru dan dinamis.

Meskipun begitu, tidak adanya larangan saya menikmati tayangan-tayangan tersebut justru dapat membuat saya dapat membentuk penilaian pada sesuatu hal. Tidak hanya disuruh dan dipaksa untuk tidak mengonsumsi dan hanya mendengar bahwa tayangan tersebut buruk tanpa adanya penjelasan. Beberapa literasi yang saya baca dan ajaran yang saya dapatkan semasa kuliah menyebutkan bahwa anak-anak justru akan merasa penasaran ketika dilarang menyaksikan sesuatu dan hanya dijelaskan bahwa tayangan tersebut buruk. Mereka justru jadi memiliki rasa keingintahuan yang lebih soal mengapa hal itu dibilang buruk dan jadi ingin melihat atau merasakan sendiri. Sehingga terdapat batasan-batasan pada imajinasi mereka yang mungkin dapat diterjemahkan pada kehidupan nyata.

Anak-anak justru akan merasa penasaran ketika dilarang menyaksikan sesuatu dan hanya dijelaskan bahwa tayangan tersebut buruk.

Related Articles

Card image
Self
Menyalurkan Emosi Lewat Nada Dan Tulisan

Terinspirasi dari pengalaman pribadi di mana pernah ada turbulensi hidup, emosi yang aku keluarkan seringkali jadi negatif, meski maksud awalnya baik. Hingga aku kemudian sadar bahwa emosi yang ada di dalam diriku lebih baik disalurkan melalui hal yang lebih berfaedah seperti menulis atau bermusik.

By Kemala Putri
13 July 2019
Card image
Self
Berolahragalah Sebelum Belajar

Umumnya, saat kita ingin mempelajari hal-hal dan konsep baru dalam hidup – seperti bahasa asing atau cara memasak makanan vegetarian – jarang sekali kita diberikan nasihat untuk berolahraga sebelum belajar. Terdengar aneh?

By Greatmind
13 July 2019
Card image
Self
Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Bulan Sekalipun

Anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia adalah kemampuan untuk belajar. Ini adalah kekuatan super yang harus kita manfaatkan. Belajar yang perlu kita yakini adalah bahwa belajar itu tidak ada batasnya.

By A. Fuadi
13 July 2019