Self Health & Wellness

Jangan Takut Gendut

Seorang Abby Galabby yang ada di atas panggung dengan yang duduk manis di rumah mungkin akan sangat terlihat beda sekali. Di atas panggung aku bisa menyanyi, menari, membawakan lagu dengan karakter seseorang yang dewasa, kadang dengan yang lebih berani. Di rumah atau di lingkungan pertemanan aku terkenal sebagai pribadi yang manja, cukup sensitif. Bukannya sengaja untuk berpura-pura. Tapi aku ingin membedakan kapan waktunya bekerja kapan berada di kehidupan pribadi. Aku membatasi dua karakter ini bercampur di dua situasi berbeda. Alasannya tidak lain agar aku tetap profesional di atas panggung tanpa harus menunjukkan sikap yang biasa kutunjukkan pada orang-orang terdekatku saja. Meskipun begitu, aku tidak merasa terpaksa untuk melakukannya sehingga mengganggu kenyamananku. Tentu saja, aku tetap memastikan kedua karakter ini sama-sama merasa nyaman dengan karakternya masing-masing.

Aku percaya sebagai seorang yang tampil di depan orang banyak ada “tuntutan” tersendiri untuk berpenampilan menarik. Menjadi penyanyi sepertinya tidak bisa melepaskan unsur “eksternal” yang dapat menghias diri. Meski aku bukan seseorang yang sampai harus menjalani perawatan kulit atau wajah rutin, tapi aku paham betul faktor penampilan cukup signifikan di profesi ini. Tanpa membuatnya berlebihan aku berusaha menggambarkan penampilan ala Abby Galabby.

Sayangnya, pemilihan cara berpakaianku terkadang membuat orang salah sangka. Tidak sedikit yang mengira berat badanku sedang naik bahkan ada yang berpikir aku sedang hamil. Tubuhku memang tidak sekurus para model dan pemilihan pakaianku terbilang memaparkan lekuk tubuh yang berisi. Bukan merasa sakit hati dikomentari gemuk. Akan tetapi kadang komentar negatif tersebut agak menganggu dan sepertinya kurang adil jika karena komentar tersebut aku jadi harus takut makan. Aku merasa banyak sekali orang khususnya wanita di luar sana yang memiliki pengalaman yang sama. Dipandang sebelah mata sebab bertubuh gemuk. Padahal bukannya dia tidak cantik atau tidak memiliki kemampuan apa-apa, kan?

Lihat saja Ucita Pohan. Dia sangat cantik dengan kepercayaan dirinya nan tinggi. Setiap gambaran dirinya di media sosial sangatlah inspiratif dan penuh dengan nilai positif. Aku merasa kecantikannya pun terpancar dari energinya yang positif. Baginya makan itu harus membuat hati senang. Melakukan apa saja juga begitu. Sedikit banyak karena dia aku pun akhirnya membuat lagu berjudul “Jangan Takut Gendut” sebagai pengingat untuk diri sendiri dan wanita-wanita di luar sana. Dengan nada yang riang aku mendendangkan lirik-lirik yang kuharap bisa membuat para wanita tetap percaya diri dengan penampilannya meski tidak sesuai dengan standar kecantikan di masyarakat. Di dalamnya juga terlintas kalimat tentang bagaimana minum air putih dan keinginan untuk sehat bisa membuat kita membuat pemikiran takut gendut karena akan dianggap jelek. Mau seperti apapun bentuk badan kita yang terpenting adalah tetap sehat. Menurutku, ketika kita takut makan karena takut gendut kita bisa melupakan rasa bersyukur pada rezeki yang datang dari makan tersebut. Bagaimana pun juga makanan datangnya dari Sang Pencipta jadi harus disyukuri. Kalau tidak makanan tersebut akhirnya menjadi energi negatif dan malah jadi lemak yang membandel.

Mau seperti apapun bentuk badan kita yang terpenting adalah tetap sehat.

Aku mengerti betul mengapa banyak wanita yang jadi kurang percaya diri akan tubuhnya yang gemuk. Secara tidak sadar para wanita memang memiliki sifat kompetitif yang tersembunyi atau disangkal. Kita wanita banyak berpikir dan bertindak menggunakan perasaan. Kita peduli pada banyak hal sehingga ingin mengurus dan memerhatikan semuanya. Apa-apa kita pikirkan dan akhirnya malah berubah menjadi negatif. Percaya tidak percaya sebenarnya fenomena tersebut juga berkaitan dengan budaya patriarki yang ada di masyarakat kita. Sejak dahulu kala wanita seringkali seakan menjadi “piala” disanjung akan penampilannya. Zaman kerajaan, misalnya. Mereka yang terpilih menjadi istri raja atau selir adalah mereka yang masuk kriteria tertentu di mana penampilan adalah salah satunya. Kemudian hingga sekarang kompetisi “tersembunyi” itu masih berada di tengah-tengah kita. Masih ada perasaan ingin disanjung karena terbukti masuk ke dalam standar kecantikan tertentu. Kemudian munculah tren tubuh langsing bak model yang menjadi propaganda produk komersial yang seolah mencuci otak kita.

Wanita banyak berpikir dan bertindak menggunakan perasaan, peduli pada banyak hal sehingga ingin mengurus dan memerhatikan semuanya. Apa-apa dipikirkan dan akhirnya malah berubah menjadi negatif.

Faktanya, yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah pola pikir. Hanya perlu menjaga badan dan semakin bersyukur dengan apa yang dimiliki. Percayalah pada energi positif dalam diri, percayalah pada kekuatan air yang bisa menetralisir segala macam racun dan lemak dalam tubuh. Jangan melulu mengeluh tanpa berbuat apa-apa dan terpendam dalam perkataan orang yang seringkali mengomentari bentuk tubuh. Yang bisa menyayangi tubuh kita hanyalah kita sendiri. Tidak perlu susah payah membalas omongan mereka pakai kekesalan apalagi ucapan. Pusatkan perhatian pada apa yang kita punya jangan pada apa yang kita tidak punya. Itu saja.

Pusatkan perhatian pada apa yang kita punya jangan pada apa yang kita tidak punya.

Related Articles

Card image
Self
Manusia Makhluk Egois

Kita itu egois. Manusia pada dasarnya memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, ada yang baik hati, ramah, penyayang dan ada juga yang pemarah, kasar, dan egois. Orang yang egois pada umumnya adalah orang yang sulit untuk dihadapi dan diajak berkomunikasi. Sadarkah kita bahwa sebenarnya setiap orang memiliki sisi egosi, hanya kadarnya saja yang beragam. Ada yang halus ada juga yang dominan.

By Ardy Wu
09 October 2021
Card image
Self
Memahami Beragam Dimensi Dalam Diri

Diri kita sebenarnya adalah gabungan dari banyak hal. Self concept sangat bersifat multidimensional. Diri kita bukan hanya sebatas aspek-aspek yang bisa kita lihat. Sebenarnya ini menenangkan, dalam artian jika kita merasa belum maksimal dalam satu dimensi, bisa jadi pada dimensi-dimensi lain lebih positif.

By David Irianto
09 October 2021
Card image
Self
Menafsirkan Penantian dan Rasa Sepi

Penafsiran rasa sepi bagi setiap orang bisa saja berbeda-beda. Spektrum rasa sepi juga sebenarnya sangat luas. Menurutku rasa sepi sangat bergantung kepada bagaimana kita memosisikan diri kita sendiri. Tanpa rasa sepi juga kita tidak akan bisa memahami apa itu rasa rindu dan tidak menghargai waktu menunggu saat kita menginginkan hal ataupun kehadiran orang yang kita butuhkan dalam hidup. Menurutku dalam kadar yang cukup, sebenarnya rasa sepi bisa dinikmati.

By Caldera
02 October 2021