Self Work & Money

Jangan Jadi Freelancer Kalau Ingin Merdeka

Glenn Marsalim

@glennmars

Penulis & Pekerja Lepas

Ilustrasi Oleh: Tommy Chandra

Pastinya, ini bukan kali pertama saya diminta untuk menulis berbagi pengalaman soal menjadi freelancer. Tak ingin menjadi seperti pita kaset rusak (kalo ada yang tidak tahu kaset seperti apa, silakan Google sendiri!), kali ini saya ingin membahas soal menjadi freelancer masa kini a.k.a kekinian.

Sebagai latar belakang, saya memulai karir di era analog untuk kemudian menyebrang ke era digital. Pasti banyak pembaca di sini yang langsung ke digital. Bukan masalah, karena kali ini saya ingin menuliskan bagaimana internet seperti website, media sosial, e-virtual office, dan café culture, memengaruhi kehidupan freelancer.

Freelancer di tulisan ini adalah freelancer profesional sebagai mata pencahariannya. Yang berkecimpung di berbagai bidang profesi dengan kemampuan khasnya. Bukan yang jadi freelancer iseng-iseng mengisi waktu luang ya… tanpa mengurangi rasa hormat saya, tapi supaya pembahasan kita lebih fokus.

Let’s start with the basic and will always be the basic fundamental requirement: skill. Iya, kemampuan, keterampilan, pengetahuan yang mutlak dimiliki oleh seorang freelancer. Kalau kita melihat ke hamparan luas freelancer di negeri ini, pasti kita menemukan kemampuan yang beragam. Ada yang memang sekolah desain grafis, kemudian menjadi freelance graphic designer. Di saat yang bersamaan ada juga yang belajar Photoshop sendiri, juga kemudian menjadi freelance graphic designer. Kalau ditanya yang mana yang akan bertahan, mungkin semua akan menduga yang sekolah dong. Tapi tidak selamanya. Kok bisa?

Skill seorang freelancer itu tidak cuma soal kepandaian tapi juga social skill. Kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan karirnya. Ini menjadi penting karena selain sebagai desainer grafis, freelancer juga adalah seorang marketing yang selalu menjual kemampuannya. Tak selamanya anak grafis sekolahan, juga punya social skill yang tinggi. Dan ini bisa dengan mudah dibalap dengan anak Sotosop (istilah saya untuk desainer grafis Photoshop-based) yang memiliki social skill yang tinggi.

Banyak kemudian yang misuh-misuh di belakang, “Ah dia kan cuma jago jualan dirinya, keahliannya mah zero!” Haeee gaees, wake up! Jago jualan diri itu juga skill loh. Tak semua orang bisa dan tak semua orang ahli. Mungkin ada baiknya yang misuh-misuh mulai berkaca dan berpikir bisnis secara menyeluruh. Kalau perlu, belajar hal baru yang menopang kemampuan bersosialisasi untuk bisnis.

Kedua skill tadi sekarang bisa dimulai dan dikembangkan di internet. Selain banyak yang bisa dipelajari dari internet, Freelancer bisa punya situs yang berisikan portofolionya. Bisa menyebarkannya lewat berbagai kanal media sosial. Tak berhenti di situ, soal pembayaran pun sekarang mudah dengan m-banking. Tak punya kantor? Sekarang ada virtual office yang juga berguna untuk surat menyurat. Jadi freelancer sekaligus punya dagangan? Ada berbagai e-commerce yang semakin berkembang.

Dengan berbagai kemudahan ini, mengapa justru semakin banyak pula freelancer berguguran? Kita ambil contoh website portofolio yang semakin banyak. Tak hanya dari dalam negeri tapi juga luar negeri. Yang di luar negeri, siap diperkerjakan di sini. Begitu pula sebaliknya. Bahkan ada banyak portal yang mengurus lalu lintas pekerjaan freelancer antar negara. Jadi lebih mudah, iya. Tapi juga jadi lebih kompetitif.

Tanpa skill yang benar-benar mumpuni dan memiliki kekhasan, akan sulit bersaing.

Contohnya lagi logo. Tahu kan sekarang bisa bikin logo pake program dan aplikasi? Tinggal masukan nama, warna kesukaan, bidang usaha, gaya yang minati, boom! Logo siap diunduh. Ini tentu sudah mengambil jatah para desainer grafis freelance yang sering mengerjakan logo-logo untuk usaha kecil macam kafe, butik, dan sejenisnya.

Artinya, tak hanya skill untuk membuat logo yang diperlukan. Tapi juga skill untuk memberikan lebih dari yang aplikasi tak bisa berikan.

Kalau dibilang media sosial itu bagai pisau bermata dua itu benar adanya. Banyak freelancer yang tumbuh berkembang karena adanya media sosial, tapi juga banyak yang berguguran. Komplen soal invoice yang belum dibayar, di media sosial. Posting saat sedang mengerjakan produk yang belum diluncurkan. Mengumpat klien walau anonim pun akan menunjukkan kualitas freelancer-nya sehingga membuat klien potensial lainnya mundur teratur. Ah, pasti masih banyak contoh lainnya!

Media sosial adalah sarana. Bisa bermanfaat atau mudharat, tergantung pemakainya. Bagi freelancer, akun pribadi adalah akun brand. Maka bersikaplah sebagaimana brand yang baik bersikap di media sosial.

Pengetahuan finansial dan administrasi, sebaiknya dimiliki walau tak perlu dalam-dalam amat. Setidaknya paham apa yang disebut PO, Quotation, Invoice, dan membaca surat kontrak. Percayalah, sebagai “perorangan” posisi kita lebih lemah dibanding perusahaan. Jadi siap-siap untuk sulit menuntut perusahaan yang telat membayar misalnya. Ini, bukan cuma “negara ini tidak jelas sih hukumnya”, tapi di mana-mana. Memang bukan berarti karena di mana-mana berarti bisa dibenarkan. Kalau ingin mencoba, silakan saja. Goodluck!

Lalu mengenai tarif. Sampai sekarang, dengan pemahaman beragamnya kemampuan dan kapasitas freelancer, belum terbayang untuk punya standardisasi. Kecuali, sertifikasi bisa diberikan. Maksudnya? Iya, tak sembarang orang bisa ngaku freelance graphic designer, tanpa sertifikasi dan badan yang terhormat. Dalam sertifikasi itu kemudian akan ada klasemen yang membagi berdasarkan pendidikan, pengalaman, prestasi dan sebagainya. Dengan demikian, klasemen bisa menjadi penentu tarif.

Masalahnya, apakah siap para freelancer diklasemenkan? Bagaimana kalau hasil sertifikasi tidak sesuai dengan bayangan? Siap dibayar lebih murah dari sebelumnya?

Co-working space semakin banyak walau tak bisa dibilang semakin subur. Selama ini hanya terkesan sebagai pengisi ruang kosong. Sering kita temukan co-working space yang luas 'space'-nya tapi tak ada yang 'working' di dalamnya.

Berbagai diskusi grup sebelum co-working space didirikan pernah saya hadiri. Yang saya sampaikan pada intinya ada dua. Pertama, freelancer tidak bisa bekerja di mana saja. Freelancer bekerja di mana klien berada. Freelancer mendatangi klien. Klien minta meeting di mana yang kita ikut di mana. Bagaimana caranya klien di Blok M sementara kita memilih bekerja di co-working space di Kemang misalnya. Tahu sendiri macetnya kayak apa. Jadi co-working space adalah soal lokasi.

Kedua, bekerja di luar rumah (atau hunian) bagi freelancer adalah kemewahan. Bayar ongkos jalan, parkir bagi yang membawa kendaraan, beli kopi, makan, adalah masuk ke dalam biaya. Yang sebisa mungkin ditekan agar supaya, keuntungan bertambah.

Jadi, kalau dibilang enak jadi freelancer bisa kerja di mana saja, tak selamanya benar. Rumah adalah kantor.

Kalau dibilang enak jadi freelancer bisa kerja kapan saja, tak selamanya benar. Klien adalah bos.

Kalau dibilang enak jadi freelancer bisa liburan kapan saja, tak selamanya benar. Waktu adalah uang.

Lalu benarkah menjadi freelancer itu memerdekakan? Sepertinya merdeka itu adalah cara pandang dan pikir, bukan keadaan. Jadi mau karyawan, freelancer, pemilik usaha, semua bisa merdeka.

Related Articles

Card image
Self
Seni Melepas ala Rumi

Rumi adalah seorang penyair besar beraliran sufi yang hidup di abad ke-13. Ia banyak menulis syair yang dipercaya memiliki kekuatan kata-kata sebab tidak hanya indah, namun juga kedalaman. Salah satunya, adalah tentang melepaskan, dimana kita akan berbicara mengenai keberserahan, penerimaan, mengikhlaskan, dan memaafkan - yang semuanya adalah sifat yang dimiliki oleh hati.

By Pujiastuti Sindhu
23 May 2020
Card image
Self
Menemukan Keyakinan

Sebenarnya ketimbang dibilang religius saya lebih memilih untuk diingat sebagai seseorang yang toleran. Mengapa? Sebab saya besar dengan beragam pengalaman yang menuntun saya untuk menaruh nilai toleransi setinggi-tingginya.

By Narendra Pawaka
16 May 2020
Card image
Self
Belajar Mengenali Diri

Awal tahun ini banyak kejadian yang secara bertubi tubi seolah membebani diri. Baik pikiran maupun tubuh. Perlahan tapi pasti saya menerima segala kekurangan untuk menyadari sikap panik tidak akan berbuah apapun. Saya butuh dekat dengan diri dan mengenalinya. Sehingga apapun yang dirasakan dapat menjadi pembelajaran untuk dapat disikapi dengan tepat. 

By Nur Tejo
16 May 2020