Self Lifehacks

Jadi Diri Apa Adanya

Sedari kecil kalau gue dicemooh dan dibilang gendut, bukannya marah gue malah menoleh. Karena memang gue gendut. Itu adalah kenyataan yang jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Begitu juga saat SD ketika dijemput dengan mobil pick up oleh ayah gue tidak ada rasa malu karena terlihat kurang mampu atau semacamnya. Gue tahu yang gue punya hanya mobil pick up, jadi kenapa gue harus tersinggung dengan perkataan orang lain? Pemikiran ini yang menuntun gue untuk merasa lebih apa adanya. Menerima diri apa adanya tanpa harus berusaha banyak untuk meningkatkan kepercayaan diri demi tidak merasa minder. Akan tetapi setiap orang berbeda-beda. Ada mereka yang sedang mencoba menguruskan badan sampai sensitif kalau dibilang gendut. Wajar-wajar saja. Tidak semua orang bisa berpikir atau harus berpikir seperti gue. 

Percaya diri itu seperti bagian dari kepribadian kita. Bagaimana kita bisa mengenalkan diri kita apa adanya pada orang lain. Jika seseorang tidak percaya diri, bagaimana orang bisa mengenal kita yang sebenarnya? Gue percaya bahwa setiap orang pasti memiliki rasa percaya diri meski kadarnya berbeda. Tiap orang tidak harus juga punya percaya diri yang tinggi. Ingatlah bahwa manusia tidak sempurna. Mungkin saja tidak memiliki kepercayaan diri tinggi adalah bagian dari ketidaksempurnaan tersebut. Kecuali kalau memang salah satu mimpi kita adalah untuk tampil di depan publik. Itu berarti kita harus mau melawan rasa tidak percaya diri dan belajar meningkatkan kepercayaan diri. Tidak ada cara lain untuk bisa meningkatkannya selain niat yang kuat. Jangan mencoba jadi orang lain. Lakukan saja apa yang membuat diri kita sendiri nyaman. Toh, tidak ada formula yang saklek biar percaya diri. Be true to yourself

Jika seseorang tidak percaya diri, bagaimana orang bisa mengenal kita yang sebenarnya?

Jujur, ada juga waktu-waktu gue merasa gugup dan khawatir bagaimana jika tampil di depan umum itu gue nggak lucu – karena orang berharap gue lucu padahal gue tidak berusaha keras untuk bisa lucu. Hanya saja ini bukan berarti gue nggak pede. Rasa gugup ini lebih karena gue ingin maksimal saat bekerja supaya tidak salah. Kalau gue tidak ada perasaan ini nanti seperti kegiatan sehari-hari saja tidak ada bedanya. Gue bukan orang ambisius yang ingin mengejar suatu target dalam waktu tertentu. Berada di tahap ini pun gue pikir berkat doa ibu dan (mungkin) bersedekah. Tapi ketika gue diberikan pekerjaan gue jadi perfeksionis. Gue ingin melakukannya dengan baik, tidak membuat kesalahan. Namun bukan berarti harus selalu benar, menjadi defensif dan seakan tahu segalanya. Gue akan mengakui kesalahan gue kalau memang terbukti gue salah. Tidak susah, kok, untuk bilang maaf jika memang bersalah. Yang terpenting bagaimana bisa pintar-pintar menempatkan diri di mana kita harus menunjukkan kepercayaan diri.

Menunjukkan kepercayaan diri sebagai orang yang “asik” dan “sok asik” bedanya tipis sekali. Makanya kita harus bisa pintar menempatkan diri, lebih observatif, dan membaca situasi. Contohnya saat gue baru bertemu orang untuk pertama kali gue akan melihat dulu orang ini apakah bisa langsung diajak asik-asikan atau tidak. Pasti gue akan diam dulu dan observasi orang-orang di sekeliling saat itu seperti apa. Bukannya pilih-pilih, tapi lebih pintar membaca suasana saja supaya tidak salah-salah bersikap pada orang sebab (lagi-lagi) tiap orang punya karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Apalagi mereka yang masih menjadi orang asing.

Menunjukkan kepercayaan diri sebagai orang yang “asik” dan “sok asik” bedanya tipis sekali.

Akan tetapi sepertinya wajar kalau kita melihat ada seseorang yang mungkin terlalu percaya diri sehingga membuat kita sendiri tidak nyaman. Hanya perlu diingat, bukan hak kita untuk mengganggu dia dengan penghakiman kita. Jika kita bukan siapa-siapa, dan dia sikapnya tidak berdampak apapun pada kehidupan kita, tidak menyakiti hati, rasanya tidak perlu bereaksi berlebihan. Namanya juga manusia, tidak sempurna. Simpan saja dalam pikiran sendiri jangan sampai jadi bahan bully. Sudah banyak sekali kasus bunuh diri akibat bullying. Masa kita mau jadi salah satu pihak yang menyebabkan kasus tersebut? Jangan pikirkan orang lain, peduli dengan urusan kita saja. Pada akhirnya membicarakan dia yang memiliki kepercayaan lebih itu tidak akan membuat kita nyaman juga. Malah hanya akan menciptakan energi negatif di sekeliling kita.

Setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri. Tidak perlu kita pusingkan orang lain atau ingin jadi seperti orang lain. Pikirkan saja apa yang bisa berguna untuk orang lain dengan apa adanya diri kita. Misalnya pada saat gue menunjukkan ekspresi atau keunikan perilaku di media sosial. Gue cukup bersyukur saat mendapat banyak pesan dari mereka yang berterima kasih atas penghiburan (secara tidak sengaja) dari gue. Ini berarti gue menjadi berkat dan berguna untuk manusia lainnya. Gue mendapat kebahagiaan tersendiri dari sini. Jadi gue berpikir buat apa menyebarkan kesedihan gue kalau hanya akan membuat orang lain jadi sedih juga? Buat gue tidak ada faedahnya mengumbar kesedihan di publik karena gue kebetulan punya keluarga dan teman-teman yang mengerti benar bagaimana menghadapi gue ketika sedih. Sehingga gue memilih untuk melakukan filterisasi kesedihan gue. Tapi bukan berarti yang lain harus seperti gue. Gue mengerti sekali banyak orang yang mungkin tidak punya teman cerita akhirnya cerita di medsos. Mereka dapat saran dan perhatian dari para netizen jadi dia bisa merasa bahagia karena ternyata saran tersebut solutif. Jadi lakukan saja apa yang membuat kita nyaman dan apa yang bisa membuat kita bahagia. Tidak perlu terlalu repot mendengarkan kata orang atau mengikuti apa yang orang lain lakukan kalau tidak sesuai dengan diri sendiri.

Lakukan saja apa yang membuat kita nyaman dan apa yang bisa membuat kita bahagia.

Related Articles

Card image
Self
Secukupnya Saja

Masyarakat modern saat ini punya banyak pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan beragam pilihan mulai dari pagi hari mau baca apa sampai keluar rumah mau pergi ke mal yang mana. Tanpa sadar banyaknya pilihan ini sebenarnya bisa jadi masalah. Terlalu banyak pilihan membuat kita memiliki banyak keinginan.

By Raditya Dika
15 August 2020
Card image
Self
Weak Ties: Masa Depan

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat. Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

By Kartika Anindya
08 August 2020
Card image
Self
Sejenak Mencari Bahagia

Sejatinya kita pasti ingin hidup bahagia. Rasanya tidak ada orang yang sengaja menyakiti dirinya agar tidak bahagia. Tapi menurut saya terkadang kita ingin hidup bahagia tanpa sebelumnya mengetahui benar apa yang membuat kita bahagia. Pencarian kebahagiaan itu sendiri sepertinya tidak akan berhenti dalam satu masa hidup. Seiring berjalannya waktu, makna bahagia yang kita percaya bisa berubah.

By Aulia Meidiska
08 August 2020