Circle Love & Relationship

Hubungan Terbuka Bukan Untuk Semua

Marissa Anita

Jurnalis & Aktris

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Ketika bicara mengenai relasi romantis, manusia tidak hanya dihadapkan pada bentuk hubungan konvensional, sebuah hubungan di mana hanya ada dua orang dalam sebuah komitmen. Manusia juga dihadapkan pada bentuk hubungan di luar konvensi seperti hubungan terbuka dan poliamori.

Hubungan terbuka adalah ‘sebuah hubungan di mana dua orang setuju bahwa mereka ingin bersama, tetapi tidak bisa benar-benar berjanji bahwa mereka tidak akan berhubungan dengan orang lain juga’ (Urban Dictionary, n.d.).

Sementara poliamori adalah ‘praktik, keadaan atau kemampuan memiliki lebih dari satu hubungan cinta seksual sekaligus yang diketahui dan disetujui semua pihak yang terlibat’ (Urban Dictionary, n.d.).

Bukannya tidak mungkin membagi diri atau pasangan dengan orang lain. Tapi sesungguhnya seseorang lebih bahagia ketika tidak harus berbagi orang yang dia  sukai, sayangi, dan cintai dengan orang lain. Karena memang ‘rasa posesif mengalir cukup kuat dalam diri kita’ (The Book of Life, n.d.).

Konsep poliamori dan hubungan terbuka mungkin terdengar menarik, tetapi bukan berarti bentuk-bentuk hubungan ini membawa bahagia dan kepuasaan dalam hidup. Bahkan tak jarang, ketika seseorang menjalani hubungan terbuka atau poliamori, bukannya hidup menjadi tenang, malah membuat pikiran kacau dan hubungan berantakan.

Saya (Marissa Anita – red.) mencoba mengulik fenomena hubungan terbuka dan poliamori dalam Q&A untuk GREATMIND dengan seseorang yang pernah menjalani hubungan terbuka.

Q: Bagaimana open relationship (hubungan terbuka) pertama kali muncul dalam hidup Anda dan pasangan?  

A: Sebelum menikah, saya dan pasangan pernah membahas sejumlah konsep seputar cinta. Bahasan ini muncul karena suatu hari dia terbuka dengan saya. Dia bilang dia masih belum melupakan cinta pertamanya. Cinta pertamanya ini adalah teman sekolah sejak kecil. Lantas saya bertanya padanya: ‘OK. Do you want to pursue it?’(OK. Jadi apakah mau kamu kejar?). Dia bilang dia tidak yakin ingin bersama cinta pertamanya. Dia hanya ingin menjawab rasa penasaran. It felt like a missed opportunity. (Dia merasa seperti kehilangan kesempatan). Lalu, satu hal yang saya tanya ke dia adalah: ‘Do we know that we want to be together?(Apakah kita berdua tahu pasti kita tetap ingin bersama). Dia bilang: ‘Ya’. Lucunya saya tidak merasa cemburu. Mungkin karena kita memulai pembahasan ini dengan kalimat: ‘I know you want to be with me’. (Kami berdua tahu kami ingin bersama). Jadi batasan-batasannya sudah jelas. Beda kalau misalnya dia bilang: ‘I don’t know if I want to be with you’. (Aku belum yakin aku mau bersamamu). Makanya saya tidak merasa cemburu. Kalau pun si cinta pertama menyambut pengakuan cinta dari pasangan saya, saya dan pasangan sepakat akan diskusikan jika memang sudah terjadi. Kemungkinan ini terjadi juga tidak membuat saya khawatir.

Q: Menurut Anda mengapa Anda tidak merasa cemburu?

A: Saya pikir karena saya merasa secure dalam hubungan ini.

Q: Maksudnya secure?

A: Karena saya merasa dia mencintai saya. Dan cinta yang dia rasakan untuk cinta pertamanya itu bentuk cinta yang lain – menurut saya cinta monyet. Pasangan akhirnya mengungkapkan perasaan kepada cinta pertamanya. Si cinta pertama mengatakan tidak punya perasaan khusus terhadap pasangan saya. Itu saja, closure. Kejadian ini menjadi saat pertama kami berdua membahas kemungkinan adanya lebih dari dua orang dalam sebuah hubungan.

Q: Jadi, kapan hubungan terbuka itu mulai?

Ketika kami punya masalah di kamar tidur. Setelah dua tahun menikah, kami tidak lagi aktif secara seksual. Pasangan masih tertarik secara seksual kepada saya, tetapi ketertarikan seksual saya kepada dia menurun.  

Q: Apa yang terjadi?

A: Saya tidak bisa melepas fakta bahwa depresi yang pasangan saya alami mempengaruhi perasaan saya terhadap dia. Dia depresi kronis. Jadi lama-lama saya merasa bahwa saya tidak lagi menjadi pasangan hidup, melainkan caregiver.

Q: Lalu apa yang terjadi?

A: Kami bahas kenapa kami tidak sexually active. Dia pun menyadari hal ini dan bilang: ‘You know that I’m actually okay with an open relationship?’. (Kamu tahu kan aku tidak apa-apa dengan hubungan terbuka?).

Q: Dia bilang begitu?

A: Ya.

Q: Apa reaksi Anda waktu itu?

A: ‘Oh gitu’. Saya tidak paham apa definisi hubungan terbuka saat itu. Lalu dia juga pertama kali memperkenalkan istilah poliamori. Saya kemudian mulai membaca-baca artikel seputar poliamori.

Konflik kemudian muncul ketika saya selingkuh dengan orang lain (sebut saja X) pada 2016. Ketika pasangan tahu, dia sakit hati, karena seharusnya saya memberitahu dulu pasangan sebelum menjalin hubungan dengan X.

Ketika saya membaca-baca tentang poliamori, saya masih belum paham betul apa itu poliamori. Akhirnya saya mengikuti aturan main pasangan saja. Dia bilang: ‘Bilang saja kalau kamu suka sama orang and you want to engage. You tell me first before you engage. Jangan engage dulu baru habis gitu ngomong’.

Q: Kenapa?

A: Dia bilang gitu karena semua jadi terbuka kan? Tidak sembunyi-sembunyi. Ada satu periode di mana saya masih berhubungan dengan X, tapi saya beritahu pasangan. ‘Eh, aku mau teleponan sama X nih. Boleh nggak?’ Pasangan bilang: ‘Is it okay if I’m still in the room?’ (Bolehkah aku tetap di ruangan ini selagi kalian ngobrol?)

Q: Jadi X tahu pasangan Anda mendengarkan pembicaraan kalian di telepon?

A: Ya. Saya bilang ke X pasangan saya ada di ruangan yang sama dengan saya tapi dia sedang sibuk melakukan hal lain. Yang membuat saya masih sulit mencerna bentuk hubungan seperti ini adalah saya tumbuh besar dengan anggapan bahwa kita tidak bisa hidup dengan lebih dari satu cinta. I was struggling with my own honesty. (Ada konflik batin dalam diri saya).

Q: Maksudnya?

A: Saya merasa kesulitan terbuka dengan pasangan, misal: Eh, X mau ketemu sama aku. Jadi kita bakal ketemu di [luar negeri] boleh ngga?’ Mengungkapkan kalimat itu saja sangat sulit.

Q: Karena?

A: Saya tidak terbiasa melihat hubungan terbuka sebagai hal yang bisa diterima. Dalam pikiran saya, seakan saya meminta ijin untuk selingkuh. Perselingkuhan tapi harus terbuka. Dia kepala saya tidak masuk logikanya. Maka itu saya susah untuk terbuka dengan pasangan tentang hubungan saya dengan X. Saya sulit mengkomunikasikan itu ke pasangan. Saya menganggap apa yang saya lakukan itu salah.

Q: Jadi menurut Anda hubungan terbuka itu salah?

A: Waktu itu saya menganggap itu salah karena saya tidak paham itu apa. Lalu setelah itu, karena saya tidak nyaman dan pasangan tidak nyaman, akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan itu.

Q: Berapa lama hubungan terbuka Anda waktu itu?

A: Enam bulan.

Q: Kenapa pasangan Anda akhirnya memutuskan ini tidak berjalan?

A: Yang membuat itu tidak berjalan karena saya tidak berkomunikasi dengan pasangan tentang apa yang terjadi antara saya dan X. Contoh, pasangan tahu saya ngobrol setiap hari dengan X, tetapi pasangan tidak tahu apa yang dibicarakan. Bukan isi pembicaraannya, melainkan bagaimana perasaan saya terhadap X; apa yang saya butuhkan [yang tidak terpenuhi dalam pernikahan]; mengapa saya memutuskan untuk punya hubungan dengan X.   

Q: Apa yang tidak terpenuhi dari hubungan Anda dan pasangan yang dipenuhi orang ke-tiga saat itu?

A: Kalau sekarang saya tahu. Yang kurang saat itu adalah aspek seksualnya. Saat itu saya tidak tahu karena semuanya campur aduk. Pada akhirnya kami sempat menghentikan hubungan terbuka. Pada 2017, kami memulai lagi. Setelah membaca buku ‘More Than Two: A Practical Guide to Ethical Polyamory’, saya sudah lebih paham apa yang saya mau. Saya membaca banyak buku dan artikel. Saya dan pasangan juga menjalani konseling pernikahan. Kenapa konseling? Karena kami berdua harus membereskan isu rasa dikhianati dulu sebelum menjalankan hubungan terbuka lagi. [Konseling] periode kita berdua menyembuhkan diri.

Pada pertengahan 2017, saya dan pasangan diskusi apa yang hilang dari pernikahan kami. Kami bahas ‘where do we want to be?(Sekarang hubungan kita mau seperti apa?)

Saya bahas dengan analogi. Saya bilang: ‘Kita berdua seperti dua bola kecil di dalam satu lingkaran besar bernama pernikahan. Dan sekarang sepertinya lingkaran besar dalam pengertian konvensional ini tidak lagi cukup buat kita. Kita berbeda. Bentuk pernikahan untuk kita ternyata bukan lagi lingkaran melainkan segitiga’.

Jadi pertanyaannya adalah: ‘Apakah satu bola kecil keluar dari lingkaran besar? Apakah dua bola kecil sama-sama keluar dari lingkaran? Apa yang kita berdua inginkan?’ Jawabannya masih sama: ‘Kita ingin bersama’.

Kami kemudian menyimpulkan bentuk ‘wadah’ kami-lah yang kami coba ganti. Yang tadinya lingkaran besar, menjadi segitiga besar. Yang tadinya segitiga, menjadi bujur sangkar. Jadi definisi pernikahan itu yang kami ubah. Kalau kami tetap mau bersama, kami harus punya konfigurasi baru di mana kami bisa tetap bersama.

Kami mencoba non-exclusive relationship. We’re seeing other people but we are still committed to each other. (Kami dengan orang lain tetapi masih berkomitmen dengan satu sama lain). Dalam buku ‘More Than Two’ ada yang namanya primary partner (pasangan utama) dan secondary partner (pasangan ke-dua). Saya dan pasangan masih pasangan utama untuk masing-masing. He would see other people, I would see other people. There was no relationship, only serial hook-ups. (Dia dengan yang lain, saya juga. Tetapi tidak menjalin hubungan serius, hanya sebatas seks).

Saya buat profil online di salah satu situs kencan. Yang saya tulis di profil sangat spesifik: saya mencari hook-ups, bukan hubungan serius. Jadi mereka yang saya temui melalui situs kencan selama enam hingga delapan bulan itu semuanya hook-ups.

Q: Berapa hook-ups yang Anda kencani?

A: Empat.

Q: Jadi ada satu pasangan dan empat hook-ups dalam hidup Anda selama enam hingga delapan bulan. Bagaimana Anda . . . ‘mengatur’ semuanya?

A: Tidak sekaligus. Saya membagi waktu maksimal hanya dengan tiga orang.

Q: Mengapa?

A: Capek. Hahaha. Karena ketika saya mencari hook-ups, saya harus tertarik pada mereka lebih dari sekedar penampilan fisik. Okay boleh dia ganteng, tapi apakah saya bisa ngobrol dengan dia? Kalau tidak nyambung, it doesn't work (tidak akan berhasil). Jadi meskipun tidak ada emotional investment (investasi emosi), ada emotional conversations (investasi percakapan). Satu-satunya orang yang saya emotionally invested waktu adalah dengan X pada 2016.

Q: Bagaimana Anda memastikan ini bukan emotional investment dan hanya emotional conversations?

A: Mungkin karena dengan hook-ups, dari awal seluruh pihak yang terlibat sudah tahu batasan-batasannya. Mereka tahu saya punya pasangan. Saya juga memberitahu lokasi saya kepada pasangan di mana pun saya dan hook-ups berada. Lebih mudah ‘navigasi’ karena tidak keluar jalur yang sudah kami berdua tetapkan.

Q: Lalu?

A: Perjanjian dengan pasangan. Berhubung saya sering keluar kota, apa pun yang saya lakukan dengan hook-ups tidak akan pernah di kota tempat kami berdua tinggal. Sementara pasangan mencari hook-ups di kota kami tinggal, karena memang dia lebih jarang keluar kota. Lebih praktis. Pasangan juga lebih mudah nyambung dengan seseorang yang dia sudah kenal. Sementara saya lebih nyaman dengan orang yang saya tidak kenal karena mereka tidak tahu siapa saya dan tidak perlu tahu.

Q: Apakah Anda pernah mencari tahu di Internet rekam jejak hook-ups Anda?

A: Ya. Hanya karena alasan keamanan. Jadi saya tahu saya tidak tidur dengan psikopat. Sebelum saya bertemu dengan seorang hook-up, saya akan ngobrol panjang dulu dengan dia.

Q: Anda tidak khawatir jika teman-teman Anda menemukan profil Anda di situs kencan?

A: Orang-orang yang benar-benar teman saya akan mengerti. Kalau mereka tidak mengerti, berarti mereka bukan teman saya.

Q: Apakah Anda pernah jatuh cinta pada hook-up Anda? Dalam arti Anda memikirkan hook-up Anda lebih dari Anda memikirkan pasangan Anda?

A: Jika pun saya memikirkannya, saya tidak menceritakan itu pada hook-up. Karena bagaimana pun pasangan saya adalah primary partner. Apa pun yang terlintas dalam pikiran saya, saya akan diskusi dengan pasangan bukan dengan hook-up. Pasangan umumnya memberikan dukungan dan membantu menggali apa yang saya rasakan dan pikirkan. Dia akan bertanya balik ke saya, apa kira-kira yang akan saya lakukan dengan ‘drama’ di kepala saya ini – menghentikan hubungan dengan hook-up atau tidak.

Q: Jadi sebenarnya hubungan Anda dengan pasangan itu seperti apa?

A: Platonik. Seperti pasangan hidup saja. Karena saya tidak tertarik kepada pasangan secara seksual, meski dia masih terhadap saya. Katanya dia tidak cemburu, tapi saya perhatikan, mengapa akhirnya hubungan terbuka kami tidak berhasil, karena dia jadi terobsesi dengan petualangan seksual saya. Saya tidak tahu pasti apakah itu bentuk kecemburuan atau tidak, karena nyatanya saat itu dia tidak pernah melarang saya.

Q: Terobsesi maksudnya?

A: Pasangan menginginkan saya cerita secara detil tentang hubungan saya dengan hook-ups. Saya merasa ini adalah obsesi dan sudah tidak sehat. Sejak itu kami berdua menyadari bahwa ada masalah yang lebih besar dalam hubungan kami. Kami menyadari hubungan terbuka hanya temporary band-aid, pembalut luka sementara dari permasalahan kami sesungguhnya. Hubungan terbuka bukan solusi untuk menyelesaikan masalah dalam pernikahan. Hubungan terbuka hanya menambah masalah dalam pernikahan. Kami akhirnya memutuskan untuk menghentikan hubungan terbuka karena tidak menyelesaikan masalah dalam pernikahan kami.  

Q: Kini Anda sudah tidak lagi bersama pasangan Anda. Apa yang terjadi?

A: Dulu kami cari jalan – apa pun caranya kami coba – supaya kami tetap bersama. An open relationship at that time seemed like a viable option. (Hubungan terbuka saat itu terlihat seperti opsi yang bisa menjadi jalan keluar). Kami sadari bahwa itu hanya pembalut luka sementara, hanya membawa ‘polusi’ pada pernikahan kami. Saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah. Tidak ada yang berhasil jadi kami berdua akhirnya keluar dari ‘wadah’ atau pernikahan kami.

Q: Anda telah berpisah dengan pasangan lama. Kini, Anda menjalin hubungan serius dengan pasangan baru. Anda nyaman dengan satu orang saja?

A: Dulu saya ada pasangan dan ada hook-ups. Dari pasangan lama, saya tidak mendapat kepuasan seksual yang saya dapatkan dari hook-ups. Sejujurnya punya hook-ups cukup menghabiskan waktu dan energi. Namun saat itu, bagi saya dan pasangan lama, hubungan terbuka menjadi pilihan yang lebih baik daripada selingkuh.

Ketika saya bertemu dengan pasangan baru dan puas dengannya secara emosi, intelektual dan seksual, saya tidak lagi merasa perlu ada orang lain dalam kehidupan kami. Seumur hidup saya, yang saya kenal adalah konsep monogami, jadi bentuk hubungan ini monogami terasa lebih natural untuk saya.

Q: Selama bersama pasangan yang sekarang, pernahkan ‘tergoda’ dengan yang lain?

A: Tidak

Q: Kenapa?

A: Pasangan saya yang sekarang ticks all the boxes. Cara saya melihatnya begini. . . Ketika apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan terpenuhi dengan satu orang tentunya ideal. Tetapi ketika itu tidak terjadi, saya terbuka untuk berada dalam hubungan di mana ada lebih dari dua orang di dalamnya. Dalam hubungan monogami yang sekarang, apa yang saya butuhkan dalam sebuah hubungan terpenuhi. Kalau itu bukan namanya hubungan yang happy, saya tidak tahu apa lagi namanya.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021