Self Health & Wellness

Hubungan Beracun dengan Diri Sendiri

Yulia Baltschun

@yuliabaltschun

Praktisi Diet & Kebugaran

Kamu mungkin lebih familiar ketika membicarakan abusive relationship atau hubungan yang disertai dengan kekerasan jika berkaitan dengan pasangan dalam hubungan romantis. Ternyata hubungan tak sehat ini juga bisa terjadi dalam hubungan kita dengan diri kita sendiri. Konteks "abusive relationship" memang luas, dan nyatanya, kita lebih banyak melakukan toxic relationship dengan diri sendiri dibandingkan dengan pasangan.

Mungkin kamu nggak akan percaya dan justru malah bertanya di dalam hati "Memang apa sih yang aku lakukan ke tubuh sendiri? Aku kan cinta banget sama diriku apa adanya". Atau mungkin kamu penganut prinsip YOLO bahwa hidup hanya sekali, jadi kamu akan melakukan apa pun yang buat dirimu bahagia? Jangan sampai kamu malah melupakan apa yang tubuh kamu perlukan dan apa yang sebenarnya tubuh kamu tidak perlukan.

Mungkin kamu penganut prinsip YOLO bahwa hidup hanya sekali, jadi kamu akan melakukan apa pun yang buat dirimu bahagia? Jangan sampai kamu malah melupakan apa yang tubuh kamu perlukan dan apa yang sebenarnya tubuh kamu tidak perlukan.

Hidup di lingkungan yang serba cepat, membuat kita tanpa sadar menjadi sosok "manusia instan" Hanya dengan godaan kupon diskon, "poof", mudah sekali kita tergoda untuk akhirnya mengonsumsi makanan cepat saji. Sedangkan apakah makanan cepat saji sendiri memiliki kandungan gizi seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh kita?

Let's say, kamu lagi ngidam mie pedas saat ini. Tubuh kamu pun akan tetap mengerti dan mengolah makanan tersebut. Tapi bukan berarti tubuh kamu mendapatkan vitamin, mineral, dan gizi yang dibutuhkan, lho. Bayangkan ini terjadi hingga seminggu kemudian, dan kamu masih mengonsumsi makanan yang tidak sarat gizi seperti martabak manis, gorengan, makanan instan lainnya. Tapi kamu berharap tubuhmu mengerti dirimu dan tetap bisa memiliki tubuh yang sehat tanpa hambatan dan body goals? Oh tidak semudah itu...

Well, untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, tubuh kita sendiri butuh banyak zat, vitamin dan mineral untuk memastikan kinerja organ & hormon lainnya bisa bekerja sesuai kapasitasnya! Jadi, hentikan toxic relationships yang menyiksa diri kamu sendiri! 

Kamu akan mengalami beberapa side effect yang pasti akan kamu rasakan kalau kamu tetap saja makan makanan yang minim gizi. Badan kamu mulai tidak mampu berkerja dengan optimal. Biasanya tubuh kita akan memberikan sinyal seperti sembelit, perut buncit, gampang sakit, dan lain-lain. Terus, kamu tega menyalahkan tubuhmu sendiri? Padahal selama ini tubuhmu sudah berusaha mengerti kebutuhanmu, lho, atau jangan-jangan kamu hanya memanfaatkan  tubuhmu untuk "sekedar hidup" saja? Padahal kamu sendiri yang nanti bakal kesusahan kalau tubuhmu mulai "ngambek".

Terus, kamu tega menyalahkan tubuhmu sendiri? Padahal selama ini tubuhmu sudah berusaha mengerti kebutuhanmu, lho, atau jangan-jangan kamu hanya memanfaatkan  tubuhmu untuk "sekedar hidup" saja? Padahal kamu sendiri yang nanti bakal kesusahan kalau tubuhmu mulai "ngambek".

Jadi, jangan pernah menganggap tubuh kamu hanya sebatas “tempat parkir” saja, tubuhmu adalah investasi masa depan kamu. Selama kamu memperlakukan tubuhmu dengan kasih sayang, makan makanan yang komplit gizi, workout dengan rutin, perbaiki kebiasaan buruk, tubuh tidak akan jadi penghambatmu di masa mendatang. Remember, taking care of your body is not a life restriction, it’s an action of Love.

Jadi, jangan pernah menganggap tubuh kamu hanya sebatas “tempat parkir” saja, tubuhmu adalah investasi masa depan kamu. 

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022