Self Lifehacks

Hidup Untuk Mati, Mati Untuk Hidup

Galih Sakti

@galihwismoyo

Seniman

Ilustrasi Oleh: Galih Sakti

Hidup seperti permainan video. Kita berjalan menjelajahi alam yang terlihat tak bersahabat, asing, dan keji. Kita berusaha memenangkan pertarungan yang terasa tak adil. Musuh begitu kuat, hebat dan tak terkalahkan. Kemudian, kita akan mati.

Lalu di penghujung tempat sebelum kita menghadapi musuh tersebut, kita akan dibangkitkan. Kita lewati lagi lika-liku yang sama untuk menghadapi musuh yang berat, pertarungan yang sekali lagi terasa tak adil. Lalu kita akan mati lagi, untuk kemudian dihidupkan kembali.

Hidup seperti permainan video. Kita berjalan menjelajahi alam yang terlihat tak bersahabat, asing, dan keji. Kita berusaha memenangkan pertarungan yang terasa tak adil.

Demikian sampai kita memenangkan dan menyelesaikan narasi dari permainan yang kita pilih. Atau kita bisa kembali ke dunia nyata dan menjalani hidup dengan problemanya yang tak kalah rumit, alamnya yang juga tak bersahabat, terkadang asing, dan seringkali keji.

Beberapa kepercayaan di dunia memaknai hidup sebagai satu perjalanan yang kelak akan usai, di mana mati bukan sesuatu yang bisa dihindari dan bukan pula sebuah akhir. Ada pula kepercayaan yang meyakini bahwa setelah mati, manusia akan kembali hidup dalam entitas berbeda. Roh dan jiwa mereka mungkin sama, tetapi tidak dengan cangkang dan perannya.

Dalam permainan video, kita diberikan sebuah avatar yang akan bergerak serta berperilaku sesuai dengan papan kontrol ataupun joystick (tuas kendali) yang kita kendalikan. Tergantung tipe permainan yang kita pilih, avatar bisa menyerupai apapun. Dari superhero yang mencari jati diri, ksatria yang ditakdirkan untuk mengembalikan kejayaan sebuah kerajaan yang tumbang, plumber asal Italia yang ingin menyelamatkan sang putri, sampai ke kumbang kecil yang menjelajahi gelap dan dalamnya dunia bawah tanah. Health bar – atau yang biasa disebut ‘nyawa’ – pada avatar kita akan menentukan hidup mati di alam permainan. Semakin piawai kita mengendalikan avatar, semakin tinggi kemungkinan hidup. Demikian pula sebaliknya.

Seringkali pemain merasa menjadi Tuhan dalam permainan video yang  digeluti. Namun patut pula diingat, bahwa avatar adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah sistem yang telah dirancang sedemikian rupa. Kita mungkin dengan bebas mengendalikan avatar, tetapi para musuh yang kita temui semuanya di luar kendali kita. Dalam permainan video, kita menjadi manusia berbeda, yang memiliki tujuan dan perannya sendiri. Dan kecuali permainan kita adalah permainan yang mudah, manusia – atau makhluk – yang kita mainkan akan lebih sering mati.

Kita mungkin dengan bebas mengendalikan avatar, tetapi para musuh yang kita temui semuanya di luar kendali kita.

“Tetapi hidup tidak seperti permainan video,” kata kebanyakan orang. “Ketika di dunia nyata kita mati, kita takkan bangkit kembali.”

Mungkin tidak pada saat ini, mungkin juga tidak pada saat nanti. Mati di permainan video tak harus sejajar dengan kematian di dunia nyata. Mati di dunia maya bisa juga diartikan dengan kegagalan besar, kekalahan, atau segala bentuk keberhasilan yang tertunda. Seberapa pun pahitnya hidup, kita akan selalu diberikan kesempatan untuk mencoba kembali. Mungkin kita akan menemukan permasalahan yang sama untuk dipecahkan, atau seutuhnya baru. Kita bisa gagal kembali, atau menemukan jalan keluar, dan akhirnya naik tingkat ke jenjang yang lebih tinggi.

Seberapa pun pahitnya hidup, kita akan selalu diberikan kesempatan untuk mencoba kembali.

Hidup acap kali terasa tidak adil. Tetapi ia juga akan selalu memberikan solusi atas segala permasalahan dan alang rintang. Tidak ada medan yang tak bisa ditembus, tak ada musuh sehebat apapun yang tak terkalahkan. Karena selaiknya sistem yang sudah seimbang sempurna, jalan keluar akan selalu tersedia bagi siapapun yang melihat dan mencari. Dan ketika kita sudah berjuang sesanggupnya untuk bertahan, tetapi alang rintang yang dilalui masih terlalu muskil, kita memang akan ‘mati’.

Dan kita mungkin akan hidup lagi, mungkin juga tidak, kita takkan pernah tahu. Yang pasti, seandainya kesempatan tersebut datang kembali, tetap akan kita ulangi. Kita akan berjuang lagi dan lagi. Hidup kembali untuk mati. Demikan sebaliknya.

Selaiknya sistem yang sudah seimbang sempurna, jalan keluar akan selalu tersedia bagi siapapun yang melihat dan mencari.

Related Articles

Card image
Self
Titik Keseimbangan Hidup

Dunia olahraga pun mengajarkanku banyak hal termasuk keseimbangan hidup. Kala aku harus melatih seseorang sebenarnya aku pun terbantu memahami diriku sendiri. Tidak hanya mereka yang terbantu untuk mencapai gol kebugaran mereka, proses berlatih dan melatih pun mengajarkanku untuk memahami gol kebugaranku sendiri. Hingga aku mengerti bahwa hidup itu harus berada tengah, seimbang.

By Dinda Utami
14 September 2019
Card image
Self
Membangkitkan Energi Dalam Diri

Percaya tidak bahwa setiap orang itu pasti punya masa di mana kita merasa berada pada titik paling bawah hidup dan hampir merasa tidak lagi kuat menghadapi tantangan? Sebagian dari kita pasti pernah berada dalam masa-masa “kegelapan” yang mencampurkan segala emosi, dan pikiran sampai menghasilkan sebuah energi negatif lalu berperilaku negatif.

By Mutia Nandika
14 September 2019
Card image
Self
Menghembuskan Kebahagiaan

Setiap manusia selama masih bernapas pasti memiliki stage of life atau tahapan dalam hidup yang berbeda-beda. Kala lahir kemudian bertumbuh dari bayi menjadi anak-anak, bersekolah kemudian besar, bekerja, menikah, dan seterusnya. Tiap tahap hidup tersebut memberikan pelajaran yang berbeda pun esensi bahagia yang berbeda.

By Lisa Samadikun
14 September 2019