Self Lifehacks

Hidup Sederhana

Dominique Diyose

@dominiquediyose

Model

Fotografi Oleh: Dodik Cahyendra

Life is all about choices. Dalam hidup akan selalu ada pilihan dan setiap hari kita memilih jalan mana yang ingin kita tempuh untuk memiliki sebuah kehidupan yang ideal menurut kita masing-masing. Begitu pula ketika saya akhirnya memutuskan untuk pindah dari ibu kota ke sebuah pulau impian di mana banyak orang mendamba. Ini bukanlah sebuah momen perubahan hidup, melainkan sebuah momen di mana saya merasa sudah waktunya untuk memiliki hidup yang lebih tenang – lebih sederhana.

Saya percaya bahwa “when it is the time, it is the time.” Sedari dulu keinginan untuk pindah ke Bali sudah sangat melekat di pikiran meski dahulu belum terpikir bagaimana untuk merealisasikan hal tersebut. Hingga suatu waktu saya merasa pekerjaan modelling yang sudah dijalani lebih dari 16 tahun membuat saya tersadar bahwa sepertinya pengalaman hidup saya di ibu kota sudah cukup. Ketika saya mulai sering pulang-pergi Jakarta-Bali – saat kembali ke Jakarta – saya selalu merasa ada yang kurang. Semakin lama pun suara hati saya seperti berkata, “This is not the life we (my family and I) want.

Sepanjang perjalanan karir menghidupi industri yang glamor, saya akhirnya menyadari untuk melihat segala sesuatu lebih jauh – lebih bijak. Dahulu saya sering merasa ingin tinggal di luar negeri, melihat negara lain lebih baik dari negara sendiri. Tetapi sekarang saya justru mengakui ternyata Indonesia tidak kalah dengan negara lain dan betapa saya mencintai negara ini.  Mungkin satu dan lain hal pemikiran ini dipengaruhi oleh orangtua saya yang selalu memberikan wejangan untuk mengingat dari mana saya berasal. Itulah mengapa saya kini berpikir bahwa, “Living a glamorous life is a mediocre for me. The time has passed.”

Saat akhirnya memilih untuk pindah, semuanya dipermudah secara mengejutkan – seperti doa yang terkabul. Di saat yang bersamaan pun saya dan suami akhirnya mengikhlaskan untuk meninggalkan segala hiruk-pikuk ibu kota. Saya pun mulai percaya bahwa jika Bali telah memilih orang-orang tertentu untuk tinggal di pulau-Nya, maka semua hal akan dilancarkan.

Bali bagi saya sangatlah istimewa. Sebuah tempat yang masih menjaga tradisi dan ritual. Para pendatang pun jadi memahami bagaimana mereka harus ikut aturan main masyarakat lokal, ikut menghargai apa yang tetap dipertahankan baik-baik. Juga merupakan tempat yang mendorong kreativitas saya dan suami untuk menghasilkan ide-ide yang mendukung prinsip-prinsip hidup kami. Begitupun menjadi tempat yang baik untuk anak saya bertumbuh.

Setelah pindah ke Bali, saya menjalani hidup yang sederhana. Saking sederhananya, bahkan pada saat pindahan saya hanya membawa sepertiga dari total seluruh barang yang dimiliki. Momen ini juga membuat saya tersadar betapa dulu seringkali menumpuk barang-barang yang tidak sustainable. Banyak barang yang hanya dipakai beberapa kali lalu saya tidak merasa akan memakainya lagi di kemudian hari. Terutama kosmetik, seperti lipstik, yang sampai pada akhirnya hampir semuanya dihibahkan.

Living a glamorous life is a mediocre for me. The time has passed.

Sungguh sebuah ironi dan tamparan ketika mengetahui industri fashion yang saya geluti menyumbang beragam permasalahan konsumerisme. Betapa banyaknya merek fashion yang bermunculan dalam waktu yang sangat cepat. Menggunakan para influencer sebagai media untuk berkampanye demi meningkatkan penjualan. Padahal hal ini tidaklah efektif dan tidak bersubstansi. Banyak orang terus mengikuti tren, berlomba-lomba membeli sesuatu yang baru kemudian lupa barang-barang yang sudah lama harus diapakan. Sehingga akhirnya tertumpuk dan tidak sedikit menjadi sampah.

Saya cukup prihatin dengan masalah ini dan bermimpi untuk dapat bekerjasama dengan pelaku fashion lainnya seperti dengan para desainer ternama yang memiliki kesadaran tersebut. Saya ingin sekali melakukan sebuah pergerakan di mana pakaian-pakaian yang tidak dapat digunakan dalam jangka waktu panjang dapat diubah fungsi sehingga bertahan lama. Juga membuat pemikiran baru tentang penggunaan barang-barang fashion.

Tidak bisa dipungkiri kemajuan zaman memang memiliki tipu daya di mana kita harus dapat pintar-pintar menjaga diri agar tidak terbawa pada “ketidak-warasan”. Kita harus benar-benar bijak menggunakan kemajuan teknologi, merespon tren-tren terkini. Meski faktanya kita tidak bisa melawan kemajuan karena kemajuan zaman adalah bagian dari evolusi masa. Mau tidak mau kita pasti akan menggunakan barang-barang canggih. Hanya saja kita harus tahu kapan berkata cukup karena semua yang serba terlalu pasti ada kekurangannya. Kita harus tahu bagaimana memanfaatkan benda mati bukan sebaliknya, diperbudak oleh benda mati.

Contohnya saja ketika saya mengajar di Supermodel Project, sebuah sekolah model yang saya garap bersama tiga model Indonesia lainnya: Kelly Tandiono, Paula Verhooven, dan Laura Muljadi. Saya menemukan kenyataan bahwa saat berada di kelas murid-murid banyak yang tidak berani untuk mengutarakan pendapat serta sulit sekali berinteraksi tatap muka. Tetapi di media sosial, mereka sungguh ekspresif bahkan banyak bertanya dan memberikan pendapat pada saya. Inilah yang sedang kita hadapi sekarang. Banyak orang yang seolah-olah hanya hidup di dalam sebuah medium. Terlalu terlibat di dunia maya dengan ponsel mereka hingga membuat mereka menjadi pasif di dunia nyata.

Kita harus tahu bagaimana memanfaatkan benda mati bukan sebaliknya, diperbudak oleh benda mati.

Padahal sebenarnya menurut saya bahagia itu bukan berasal dari seberapa banyak pakaian atau barang kosmetik yang saya miliki. Bukan juga dengan seberapa mahal gadget yang saya punya atau seberapa banyak follower pada akun media sosial. Bagi saya kebahagiaan itu berasal dari hidup sederhana dengan penuh kesadaran atas sekitar kita akan alam, akan isu-isu yang terjadi saat ini, dan dalam kesadaran untuk merasa cukup.

Related Articles

Card image
Self
Secukupnya Saja

Masyarakat modern saat ini punya banyak pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan beragam pilihan mulai dari pagi hari mau baca apa sampai keluar rumah mau pergi ke mal yang mana. Tanpa sadar banyaknya pilihan ini sebenarnya bisa jadi masalah. Terlalu banyak pilihan membuat kita memiliki banyak keinginan.

By Raditya Dika
15 August 2020
Card image
Self
Weak Ties: Masa Depan

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat. Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

By Kartika Anindya
08 August 2020
Card image
Self
Sejenak Mencari Bahagia

Sejatinya kita pasti ingin hidup bahagia. Rasanya tidak ada orang yang sengaja menyakiti dirinya agar tidak bahagia. Tapi menurut saya terkadang kita ingin hidup bahagia tanpa sebelumnya mengetahui benar apa yang membuat kita bahagia. Pencarian kebahagiaan itu sendiri sepertinya tidak akan berhenti dalam satu masa hidup. Seiring berjalannya waktu, makna bahagia yang kita percaya bisa berubah.

By Aulia Meidiska
08 August 2020