Self Lifehacks

Hidup Di Dunia Nyata

Sarah Sechan

@sarsehshoku

Presenter

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Perubahan zaman sepertinya membuat semakin banyak orang semakin individualis. Di satu sisi mereka bisa melakukan banyak hal dengan mudah tapi di sisi lain dengan mobilitas tingginya terdapat kesepian yang tinggal dalam diri. Secara tidak sadar, kesepiannya tersebut diungkapkan lewat media sosial di mana mereka bisa berinteraksi dengan banyak orang. Mendapatkan perhatian yang dirasa dapat menyembuhkan rasa kesepian itu. Tanpa perlu menembus jarak dan waktu mereka tetap bisa menjalankan peran sebagai makhluk sosial. Secara tidak sadar alasan ini yang menciptakan ketenaran media sosial di tengah kehidupan kita. 

Sayangnya, dampak negatif dari media sosial bisa jadi bumerang untuk diri sendiri. Ketidaksiapan mental untuk mengonsumsi media sosial bisa berakibat buruk untuk keberlangsungan hidup. Memang, maraknya media sosial menurut saya harus sejajar dengan tingkat edukasi seseorang. Utamanya emotional intelligence. Dengan demikian seseorang dapat lebih bijak menyerap dan menyaring informasi yang ada di media sosial. Tidak mudah emosi dan baper (bawa perasaan). Tidak menuai kontroversi hanya karena menerima atau mengomentari sesuatu. Kita harus bisa lebih pintar dari si telepon pintar. Kita harus lebih pintar dari media sosial. Namun kenyataannya baik di negara kita atau di negara-negara lain tingkat intelektual masyarakat tidak berbanding lurus dengan popularitas media sosial. Banyak orang tidak melakukan riset atas apa yang diungkapkan di sebuah sumber. Jadilah mudah sekali keributan terjadi sebab kurangnya obyektivitas pemikiran.

Ketidaksiapan mental untuk mengonsumsi media sosial bisa berakibat buruk untuk keberlangsungan hidup.

Bagi saya media sosial hanyalah sebagai kendaraan untuk menyampaikan sesuatu. Bukan menjadi “rumah” melakukan segala hal dalam hidup. Kehidupan di dalamnya bersifat maya. Tidak nyata. Semua yang tinggal di dalamnya bisa diedit dan dipoles. Kalau tidak hati-hati kita bisa terjerumus, kecanduan untuk terus tinggal bersama kemelut ruang gema. Seperti yang selalu saya ucapkan pada anak saya, “Abang, social media is just for fun. Ingatlah bahwa saat kamu post sesuatu akan banyak orang yang lihat. Apapun itu akan tinggal di dunia maya selamanya. Bisa jadi sesuatu yang baik atau justru sebaliknya. Harus benar-benar dipikirkan dulu sebelum publikasi sesuatu di media sosial.” Meskipun kini saya kembali hadir di media sosial setelah betul-betul rehat, hanya saya mempergunakannya semata-mata untuk pekerjaan dan membagikan sesuatu yang saya rasa penting. Saya tidak ingin membagikan kehidupan personal terlalu banyak. Saya ingin hidup di dunia nyata bukan dunia maya.

Saya tidak ingin membagikan kehidupan personal terlalu banyak. Saya ingin hidup di dunia nyata bukan dunia maya.

Untungnya saya bukan lahir di era milenial. Lebih mudah untuk mengendalikan diri tidak bermain terlalu banyak di media sosial. Saya tumbuh di zaman yang tidak mengenal media sosial dan saya baik-baik saja. Tetap hidup dengan baik, tak pernah ada masalah, tak pernah merasa rugi. Hidup di era yang masih mengandalkan kartu ucapan dengan tulisan tangan. Membuat orang merasa istimewa dengan sentuhan personal. Bukan sekadar ucapan di media sosial yang sekali lewat saja. Seseorang tidak mengharapkan kita memberitahu khayalak ramai tentang apa yang mereka berikan pada kita. Seseorang memberikan sesuatu karena ingin memberikan, ingin melihat kita senang. Bukan karena ada iming-iming supaya kita ucapkan terima kasih di medsos. Tapi saya juga mengerti banyak orang sekarang merasa lebih spesial dengan mendapat mention dari akun media sosial. Kita tidak bisa salahkan juga. Apalagi mereka yang lahir membuka mata dengan keberadaan Instagram. Mereka tidak pernah tahu rasanya hidup tanpa media sosial. Cuma menurut saya belakangan banyak orang yang semakin mengurangi sentuhan manusia seperti bertatapan langsung atau menulis kartu ucapan dengan tulisan tangan. Hal kecil memang, tetapi dapat memberikan dampak yang baik untuk kehidupan sosial kita.

Belakangan banyak orang yang semakin mengurangi sentuhan manusia seperti bertatapan langsung atau menulis kartu ucapan dengan tulisan tangan.

Sempat saya memutuskan untuk tidak lagi aktif di media sosial karena saya tidak merasa perlu. Sungguh keputusan yang amat tepat. Rasanya seperti mendapatkan kembali kehidupan saya yang utuh. Memiliki akun media sosial seperti mendorong saya untuk membagikan sesuatu padahal tidak harus. Apalagi ketika harus posting produk endorsement. Sebenarnya bukan masalah besar. Saya tahu itu juga rezeki. Tapi ada momen di mana saya – sebagai ibu rumah tangga, harus posting di saat itu juga. Padahal saya sedang mengurus rumah tangga di suatu pagi atau sore, sedang menyiapkan makanan untuk anak, sedang menyetir, atau bahkan saat sedang santai dengan diri sendiri. Terkadang cukup merasa terganggu dengan hal itu. Akhirnya saya berpikir, “Ah, rezeki bisa datang dari mana saja,” lalu memilih untuk tidak aktif lagi. Setelah itu hidup terasa lebih tenang. Bisa berlibur tanpa orang tahu saya ada di mana. Melakukan hal-hal yang tadinya terbuang untuk bermedia sosial.

Jika sekarang dilihat di media sosial saya semuanya tentang program yang sedang dikerjakan. Saya mengurangi eksposur kehidupan pribadi. Everything is just for work and fun. Tidak konsumsi konten untuk diri sendiri. Hanya sebagai tempat menggali informasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Tidak lebih dari itu. Saya ingin di usia sekarang ini saya memiliki kehidupan pribadi yang tidak perlu semua orang tahu. Tidak terjerat bayang-bayang dunia maya. Bukan sekadar untuk diri sendiri tapi juga untuk memberikan contoh pada anak saya agar juga dapat bijak menghidupi dunia maya dan nyata.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021