Self Planet & People

Hidup Dalam Tantangan

Untuk orang-orang yang suka dengan ketenangan, seperti saya, hidup di kota Jakarta yang penuh dengan hingar-bingar dan berisikan masalah-masalah yang “ada-ada saja”, mungkin akan sangat menantang. Terlebih bagi saya sendiri, kentalnya aspek politik hingga penerapan demonstrasi yang terkadang sering mengganggu kemaslahatan, menciptakan kota ini jadi lebih menantang lagi. Saya pun sering heran mengapa banyak orang-orang yang tidak memiliki tujuan jelas bisa diberikan panggung. 

Masalah sampah juga tampaknya jadi masalah ibu kota yang belum dapat diselesaikan. Jakarta tentu akan lebih baik jika masing-masing rumah tangga bisa belajar mengompos di rumah, mengolah kembali sampah organik dan menjadikannya pupuk kompos untuk menutrisi kembali tanaman yang ada di pekarangan rumah. Saya meyakini bahwa hal ini bisa amat membantu kita mengurangi sampah berakhir di TPA yang terlalu menumpuk dan berpotensi membahayakan lingkungan serta kehidupan. 

Berdasarkan pengamatan saya, kesenjangan sosial di ibu kota juga jadi salah satu yang butuh perhatian kita. Beberapa kali saya melihat dari balik gambar yang ditangkap fotografer tersemat keriangan anak-anak yang bermain di kali dengan latar yang menampilkan bangunan mal megah ternama. Saya juga sempat berkunjung ke salah satu apartemen teman lalu melihat daratan Jakarta dari ketinggian. Memang komposisi sosial kita ini masih sangat “belang”. 

Saya adalah salah satu orang yang beruntung. Selain berkesempatan untuk mendapat kehidupan yang berkecukupan, saya juga berasal dari keluarga yang adalah figur publik. Meskipun begitu, saya selalu diajarkan untuk tidak pernah merasa berada di derajat yang lebih tinggi. Sesuatu hal yang disyukuri bahwa kami sekeluarga selalu diberikan peluang untuk meringankan yang membutuhkan. Namun kalau boleh jujur, dilahirkan dan dibesarkan oleh Addie MS dan Memes juga memiliki kakak Kevin Aprilio, saya tentu merasa istimewa. Walaupun ada kalanya dulu saya sangat tidak suka diingat hanya karena nama besar keluarga. Seringkali timbul kecemburuan di lingkungan pergaulan. Apalagi saat masa puber di mana saya pernah merasa kehilangan percaya diri terhadap kemampuan sendiri. 

Seiring berjalannya waktu, saya pun terus berkembang dan belajar memahami kemampuan diri. Belajar untuk bisa menampilkan karya sendiri dan semakin percaya diri tanpa embel-embel nama orang tua. Lahirlah, Mantra Vutura, yang menjadi sebuah medium untuk menunjukkan idealisme saya dalam bermusik. Bagi saya bisa berkarya di dalamnya sudah amat cukup dan membahagiakan. Dewasa ini, ketika mulai mengadu nasib berbisnis, ternyata koneksi ayah, ibu, dan kakak malah menjadi aset sosial yang justru sayang jika tidak 'dimanfaatkan' dengan baik dan benar. Tentunya dengan harapan manfaat itu bertujuan untuk dapat dinikmati lagi oleh banyak orang.

Ya, dunia hiburan adalah sisi yang membuat Jakarta begitu menarik dengan orang-orang kreatif nan hebat yang menyuguhkan konser-konser selevel mancanegara. Saat ini memang kita belum bisa menikmatinya kembali dengan leluasa. Saya cukup sedih dengan adanya pandemi yang memukul keras industri kreatif. Namun, berharap semua bisa pulih karena salah satu sumber pembelajaran untuk saya sebagai musisi adalah dengan datang dan memperhatikan sajian konser atau acara musik.

Selain itu selama tinggal di ibu kota, saya juga mendapat begitu banyak pelajaran berharga di dunia hiburan. Mungkin pelajaran tersebut tidak akan saya dapatkan di tempat lain. Di Jakarta saya bisa menjalani pengalaman luar biasa dalam satu untuk produksi musik dan juga berbisnis. Di samping itu di Jakarta saya juga memiliki mentor yang hebat. Beliau bernama Om Anang, sosok yang selalu mengatakan, 'Sebaik-baiknya umat, akan lebih baik menjadi umat yang paling bisa bermanfaat bagi orang banyak'. Nilai ini diharapkan dapat terus jadi panduan. Tidak hanya untuk diimplementasikan pada pekerjaan, namun juga pada aspek keluarga dan sosial. Pada akhirnya, dengan segala tantangannya saya tetap bersyukur bisa tinggal di kota Jakarta yang 'gado-gado'. Kota yang penuh keberagaman, yang mengajarkan saya untuk bisa memahami dan mengasah toleransi lebih tinggi.

Related Articles

Card image
Self
Tantangan Meregulasi Emosi

Pada dasarnya bukan emosi yang membuat kita melalui turbulensi perasaan melainkan cara kita menafsirkan emosi sehingga kita merasa tidak sanggup menoleransi emosi yang dirasakan. Intensitas emosi yang kita rasakan bisa dipengaruhi berbagai hal seperti trauma masa kecil atau kondisi fisik yang sedang memburuk. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah situasi, ditambah dengan regulasi emosi yang belum optimal.

By David Irianto
11 September 2021
Card image
Self
Mengapresiasi Setiap Kehadiran

Memang lebih rumit rasanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama orang terdekat terutama teman dan sahabat belakangan ini. Aku sendiri sebisa mungkin berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan menanyakan kabar teman-temanku melalui aplikasi chat ataupun video call. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berkumpul bersama teman-teman memang semakin terasa terutama saat masa PPKM mulai diberlakukan. 

By Amindana Chinika
11 September 2021
Card image
Self
Musik Sebagai Medium Bercerita

Apapun yang kita lalui dalam hidup entah itu sangat menyiksa atau sangat membahagiakan, melalui musik kita selalu dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang indah. Musik mampu menghantarkan kejadian yang sangat buruk sekalipun menjadi sesuatu karya yang menawan. Sekelam apa pun pengalaman yang kita rasakan, aku percaya itu tetap bisa disampaikan dari perspektif yang artistik. 

By FLØRE
11 September 2021