Self Work & Money

Haruskah Barang Bermerek?

Sulung Landung

@sulunglandung

Pendiri Artist Management

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

Consumerism is part of human life. Salah satu bagian dalam hidup manusia adalah kita harus mengkonsumsi sesuatu. Ada penghasilan, ada pengeluaran. Selama kita dapat menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran itu sendiri, tidak ada yang salah sebenarnya dengan mengeluarkan sejumlah uang untuk sesuatu yang memang kita butuhkan. Pertanyaannya adalah, apakah kita telah membeli apa yang benar-benar kita butuhkan?

Seringkali, kegiatan konsumsi kita banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti lingkungan pergaulan, iklan, hingga pekerjaan. Kadangkala, bahkan terdapat anggapan bila barang-barang yang kita miliki akan membuat kita lebih mudah diterima dan dipandang di sejumlah pekerjaan dan kelompok tertentu.  Tidak salah, namun tidak sepenuhnya benar. Anggapan ini biasanya terbentuk karena kita melihat secara mayoritas orang-orang yang terdapat di suatu lingkungan menggunakan barang tertentu, yang pada akhirnya mendeskripsikan penampilan mereka secara komunal. Namun, sebenarnya adakah aturan yang berkata untuk masuk ke suatu lingkungan kita harus memiliki barang tertentu?

Pertama kali saya berkecimpung di industri manajemen hiburan, pendapatan saya belum seberapa. Bila melihat teman-teman memakai barang bermerek, pasti terbesit keinginan untuk memiliki barang yang serupa. Hampir semua orang dalam lingkungan pekerjaan saya memiliki barang branded, bukan? Saya pun harus memilikinya. Saya memutuskan bekerja tiga hingga empat kali lebih keras dibandingkan orang lain dengan mengambil sejumlah pekerjaan sampingan dengan tujuan dapat membeli barang bermerek sesuai keinginan. Hingga pada akhirnya, kali pertama saya bisa membeli barang branded, pencapaian yang dirasakan sangat luar biasa. Saya merasa sangat bahagia hingga ingin memiliki lebih banyak lagi, alih-alih merasa cukup. Benak saya pun mulai merencanakan barang apa saja yang selanjutnya akan saya beli hanya untuk kepuasan pribadi.

Titik balik terjadi di suatu saat ketika saya tengah mengamati lemari dan mendapati ada sejumlah barang yang tidak pernah saya gunakan. Di suatu waktu, saya memang pernah menginginkan barang itu, merasa puas saat berhasil membelinya, namun tidak memikirkan apakah barang tersebut akan benar-benar saya butuhkan. Mendapati hal ini, saya tidak merasa bersalah. Namun saya menjadi berpikir, mengapa saya membelinya? BIla dikatakan sebagai investasi, saya juga tidak memiliki keinginan untuk menjual kembali. Beberapa orang memang berpikiran untuk menjual barang mereka kembali setelah lama tidak digunakan. Tapi tidak bagi saya. Yang penting saya pernah membeli barang merek tertentu, dan saya puas. Perasaan itulah yang utama.

Lingkungan pekerjaan mungkin yang pada awalnya mempengaruhi konsumsi saya akan sejumlah barang. Bila dikatakan dalam industri hiburan image dibuat sedemikian rupa hingga kita membutuhkan barang branded agar orang melihat kita dan kita dapat masuk ke lingkaran yang diinginkan, saya pun awalnya berpikir demikian. Namun pada akhirnya, berdasarkan pengalaman saya yang telah berkecimpung  di industri ini dalam dua dasawarsa terakhir, penerimaan sekitar akan diri kita sebenarnya didapat bukan dari barang yang dipakai. Mau ujung kepala hingga ujung kaki memakai Chanel, Hermès, atau Valentino, bila kapasitas kita hanya biasa-biasa saja ya tidak ada artinya. Barang-barang ini hanyalah sebagai penunjang saja. Tanpa kualitas, karakter, kapabilitas, wawasan, dan kemampuan komunikasi yang baik, barang-barang tersebut tidak ada artinya untuk membuat diri kita dihargai dan diterima. Tentu saja di industri hiburan fisik adalah hal yang penting. Kita harus berpenampilan sesuai, namun tidak harus berlebihan. Bagaimana pun, saya merepresentasikan talent yang tergabung dalam manajemen yang saya miliki, Avatara88. Oleh karenanya, penampilan saya pun harus mencerminkan citra manajemen dan talent yang saya naungi.

Kini, pembelian saya akan suatu barang didominasi oleh alasan fungsionalitas. Selama fungsional memenuhi kebutuhan, kualitasnya bagus, dan saya menyukainya, saya bisa saja membelinya tanpa memandang apakah barang tersebut bermerek atau tidak. Saya pun menggunakan barang bermerek yang saya miliki secara selektif di saat-saat tertentu saja. Saya tidak lagi merasa insecure seperti saat awal-awal dulu bila saya belum memiliki suatu barang yang saat itu tengah menjadi tren. Lagipula, untuk apa juga ini semua? Pekerjaan saya dinilai dari kapabilitas saya, bukan barang apa yang saya kenakan.

Terkait kesadaran untuk membeli apa yang benar-benar kita butuhkan, saya rasa semua ini butuh waktu. Dalam konteks saya, pengalaman lah yang mengajarkan dengan segala macam kejadian dihadapi; sebegitu pentingkah barang branded sebagai bagian dalam pekerjaan saya sebagai manajer artis? Tidak rupanya, bukan itu yang paling utama. Yang paling utama adalah kepribadian, hasil kerja, dan bagaimana passion serta komitmen kita pada pekerjaan yang dijalani. Pencapaian tersebut akan datang dari sana, bukan dari barang yang kita pakai. Mungkin bagi sebagian orang, ada yang masih beranggapan brand is everything. Kita tidak bisa menyalahkannya juga. Tiap orang memiliki latar belakang yang berbeda. Bila memiliki barang bermerek adalah hal yang bisa membuat mereka bahagia dan mereka mampu membelinya, ya mengapa tidak? Itu hak mereka, dan kita tidak bisa mengatakan mereka tidak boleh bersikap demikian. Karena dianggap sebagai kebahagiaan, wajar saja bila mereka terus merayakannya dengan terus menerus membelinya. Namun bagi saya, saya bersyukur sejumlah brand yang saya inginkan telah saya miliki, dan saya merasa cukup karenanya. Itu yang saya rayakan.

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021