Self Lifehacks

Evolusi Diri

Diri kita sekarang bisa jadi bukan diri kita yang dulu lagi. Waktu serta pengalaman membuat kita berevolusi. Kini aku sudah merasa nyaman dengan diriku sendiri. Aku tidak peduli rambutku yang panjang ini bergelombang dan mengembang, tidak peduli kalau ada yang bilang seram kalau dilihat dari belakang. Dalam hati aku cuma bilang, “Ya sudahlah, diketawain saja." Tapi aku yang dulu tidaklah begitu. Pertama kali aku merasa insecure soal penampilan adalah ketika SMA aku ke salon untuk pergi ke acara pernikahan. Setelah pulang dan menghapus makeup dari salon tersebut ternyata alisku hilang setengah. Masa itu adalah masa aku tidak tahu apa-apa soal makeup. Merasa takut tidak terlihat normal akhirnya aku jadi harus bisa menggambar alis untuk menghilangkan rasa insecure itu.

Semasa SMA aku juga berada pada masa aku tidak berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Secara tidak sadar aku menginginkan rambut panjang nan lurus karena sekolahku didominasi oleh mereka yang berambut panjang dan lurus. Memang sekolahku di Malang itu adalah sekolah swasta dengan mayoritas orang Tionghoa. Jadi secara genetik banyak teman perempuanku berambut lurus. Meskipun aku juga keturunan Tionghoa, rambutku tidak selurus mereka. Dan pada saat itu rasanya aku mau feel good about myself dan salah satunya adalah dengan punya rambut lurus. Setiap hari aku mencatok rambut, menyembunyikan rambut asliku. Terus begitu sampai kuliah.Tidak bisa kalau tidak catokan. Belum lagi kalau sedang ada acara. Aku pasti akan berpikir, “Wah gue harus tampil lebih cantik dari yang lain." Sampai suatu hari aku malu untuk mengakui bahwa aku harus catok rambut setiap hari. Belum lagi rambutku jadi rontok dan rusak parah. Akhirnya aku merasa lelah harus berusaha keras mengubah penampilan. Dan barulah aku bisa menerima penampilan apa adanya. Bahkan sekarang aku lebih ingin menunjukan rambut asliku yang bergelombang dan alisku yang tidak sempurna. Aku akhirnya memahami bahwa cantik itu standarnya berbeda-beda tergantung siapa yang bilang. 

Cantik itu standarnya berbeda-beda

Tidak sebatas penampilan saja, aku juga merasa karakter dan pikiranku pun berevolusi. Seperti contohnya perilaku di media sosial. Aku pribadi bukanlah seseorang yang suka memaparkan fisik di media sosial. Aku mengekspos diri sebatas karakter saja. Namun dulu kalau melihat teman yang posting pakai bikini di Instagram, aku pasti akan berpikir, “Ngapain buat badan elo dinikmati banyak orang?” Tapi sekarang aku jadi menelaah dan berpikir bahwa mungkin saja ini salah satu cara dia untuk nyaman dengan dirinya sendiri. Mungkin dia mau bilang pada dirinya sendiri bahwa dia tidak merasa terganggu dengan kondisi fisiknya sendiri. Karena ternyata untuk mengunggah satu gambar dengan memperlihatkan fisik itu susah sekali.

Aku bersyukur sekarang sudah bisa menanggapi semuanya dengan pikiran yang lebih dingin. Tidak hanya menolak pikiranku sendiri, tapi juga bekerjasama dengannya. Dulu aku sangat responsif, lebih mudah meluapkan emosi baik marah atau senang. Apa yang aku rasakan langsung aku keluarkan begitu saja tanpa pikir panjang. Sekarang aku bisa lebih memproses apa yang masuk ke dalam pikiran dan menimbang segala keputusan atau perasaan.

Aku bersyukur sekarang aku sudah bisa lebih menanggapi semuanya dengan pikiran yang lebih dingin. Tidak hanya menolak pikiranku sendiri tapi juga bekerja sama dengannya.

Akan tetapi aku masih ingin jadi lebih baik lagi. Aku mau lebih peduli pada orang lain. Belakangan aku merasa karena lebih self-centered. Kurang lebih dari dua tahun lalu aku sudah merasa begini. Tiba-tiba kok semua cerita yang diungkapkan temanku jadi aku kaitkan kembali ke diriku sendiri. Padahal kalau ada seseorang yang bercerita kita harusnya bisa menempatkan diri. Ada saatnya aku yang bercerita. Ada saatnya orang tersebut bercerita dan hanya mau didengarkan dan sebaiknya aku mendengarkan tanpa harus memberikan saran apapun. Jadilah aku merasa tidak nyaman dengan perubahan watak ini.

Sepertinya mungkin karena lingkunganku yang sekarang tidak lebih baik dari lingkunganku yang dulu. Bisa dibilang ada beberapa orang yang menurutku cukup toxic dan membuatku lebih sensitif dan sadar bahwa aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Sebab aku tidak mau berada di lingkungan tersebut dan memiliki rasa jadi orang yang egois lagi. 

Kalau ada seseorang yang bercerita kita harusnya bisa menempatkan diri. Ada saatnya aku yang bercerita. Ada saatnya orang tersebut bercerita dan hanya mau didengarkan.

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021