Dalam hidup kita sering tidak menyadari bahwa kita telah menyimpan terlalu banyak hal dalam diri. Termasuk ingatan dan perasaan yang tinggal dalam benak. Entah itu yang positif ataupun negatif, semua bercampur aduk di dalam otak kita. Kian hari kita dipertemukan dengan beragam pengalaman baru yang tidak ada habisnya. Terus menerus menumpukkan ingatan dan perasaan dari pengalaman-pengalaman tersebut. Dampak kurang baik terhadap mental dan bahkan fisik di ke depannya akan muncul jika kita tidak segera mulai belajar mengeluarkan emosi-emosi negatif. Salah-salah justru kita mencari cara yang kurang tepat untuk menyalurkannya seperti pada makanan atau hal lain yang merugikan tubuh. 

Ini sering terjadi pada orang-orang yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Saya menemukan banyak orang sulit menemukan cara yang dapat membantunya menyalurkan perasaan hingga akhirnya tubuh dan pikirannya terus berada dalam tegangan tinggi. Lalu mereka pun seringkali menunggu waktu yang tepat untuk menyegarkan pikiran mereka kembali. Biasanya berpikir bahwa retreat cukup sekali saja misalnya dengan pergi ke Bali dan berpartisipasi dalam salah satu program retreat yang dipercaya dapat mengembalikan kewarasan. Faktanya tidaklah demikian. 

Ketika memutuskan untuk menjalani retreat dalam rangka mengalami proses healing atau pemulihan jiwa, kita tidak bisa hanya melakukannya sesekali. Kita tidak bisa menunggu sampai waktu yang tepat, libur panjang untuk pergi retreat. Selagi “sampah” emosi di dalam diri sudah menggunung. Retreat itu seperti berada dalam sebuah gelas yang diisi air keruh. Kalau didiamkan sebenarnya lama-lama airnya akan terpisah dengan sedimen tanah dan lambat laun air keruh dapat menjadi jernih. Jadi sebenarnya retreat adalah momen kita memberikan jeda pada keseharian untuk membuat air yang keruh tadi berproses menjadi jernih. Sehingga kita bisa berpikir lebih jernih tentang hidup dan diri kita sendiri.

Retreat adalah momen kita memberikan jeda pada keseharian untuk membuat air yang keruh tadi berproses menjadi jernih.

Hidup di Jakarta memang akan lebih sulit untuk mengalami proses jeda ini. Selain mobilitas tinggi kita dapat dengan mudah terdistraksi oleh kebisingan kota yang mempersulit kita mendengarkan diri sendiri. Nyatanya kita memang tidak bisa mengendalikan faktor-faktor eksternal yang bisa mengganggu pikiran. Tapi kita bisa memilih untuk mengendalikan diri. Tidak membiarkan orang lain mengaduk-ngaduk gelas kita tadi jadi terus keruh melainkan berani untuk menutup gelas dan membiarkan diri berada dalam proses pemulihan. Healing process is a lifelong journey. Dan sejatinya retreat bisa dilakukan kapanpun selagi kita mau untuk melihat ke dalam dan terhubung kembali dengan diri sendiri. With our higher self.

Nyatanya kita memang tidak bisa mengendalikan faktor-faktor eksternal yang bisa mengganggu pikiran. Tapi kita bisa memilih untuk mengendalikan diri.

Banyak alternatif yang dapat kita lakukan untuk menyalurkan perasaan dan pikiran sehingga dapat berada dalam jeda dan memulai proses pemulihan jiwa. Salah satunya adalah dengan soul dance. Mendengar kata dance mungkin kita bertanya-tanya sendiri, “Bagaimana bisa dance dapat membantu relaksasi, menjadi bagian dari retreat?”. Sebenarnya soul dance tidak hanya sekadar menari biasa. Tidak juga perlu takut jika merasa tidak punya kemampuan menari. Dalam soul dance tidak ada gerakan salah atau benar. Sebab sesungguhnya soul dance merupakan bagian dari meditasi dinamis. Dan ini bisa jadi cara yang tepat untuk mereka yang kurang bisa melakukan sitting meditation, meditasi yang kita tahu secara umum. 

Menjalani beberapa tahapan soul dance dapat mendorong kita untuk membebaskan pikiran, emosi dan tubuh agar kita dapat terhubung dengan diri. Perjalanannya dimulai dari intention circle di mana saya biasanya meminta para partisipan untuk membentuk lingkaran dan berbagi pengalaman mereka sebelum melakukan soul dance. Kemudian diikuti dengan pemanasan Qi Gong, sebuah metode yang dapat membantu kita melenturkan bagian-bagian tubuh yang fokus ke organ-organ internal sehingga kita bisa bergerak lebih lepas.

Barulah setelah itu kita akan mengeksplorasi tarian dengan pendekatan lima elemen: api, air, angin, bumi dan ether. Kelima elemen ini adalah representasi emosi-emosi yang kita miliki dalam diri. Api yang merepresentasikan karakter ambisius, bersemangat, tapi juga simbol kemarahan. Sedangkan angin memiliki sifat yang menyenangkan, membawa kebahagiaan juga sifat negatif penakut. Lalu ada air yang melambangkan cinta serta perilaku yang mengalir namun ia juga menyimpan kesedihan. Sementara elemen bumi diyakini sebagai representasi sifat manusia yang bisa diandalkan walaupun ia memiliki sifat negatif keras kepala. Terakhir adalah elemen Ether atau dalam Bahasa Sansekerta Akasha berarti spirit atau space. Elemen ini menyatukan keempat elemen tadi yang melambangkan bahwa kita manusia berasal dari Ether, dari spirit, dari nothingness. Di akhir hayat pun kita akan kembali lagi ke Ether, menjadi jiwa-jiwa (spirit)

Dengan alunan musik yang merepresentasi kelima elemen tadi, kita akan bergerak secara dinamis mengikuti melodi yang mengunggah perasaan sehingga terhubung dengan emosi-emosi yang ada di dalam diri. Setelah eksplorasi tersebut dilakukan kita akan beristirahat sebentar dengan melakukan corpse pose di mana kita diberikan waktu untuk menerjemahkan pengalaman tadi serta meluapkan pikiran dan perasaan yang ada. Di akhir sesi, kita akan berada kembali dalam lingkaran untuk berbagi refleksi tentang pengalaman eksplorasi perasaan lewat kelima elemen tersebut. Di sini biasanya saya menekankan pada para partisipan agar sama-sama dapat membuat ruang yang nyaman dan aman untuk saling berbagi. Sebab ini bukan hanya tanggung jawab saya saja melainkan tanggung jawab bersama untuk membuat setiap orang yang ikut serta dapat merasa diterima dan menerima satu sama lain. 

Akan tetapi satu yang perlu diingat setiap kali kita hendak melakukan retreat, apapun bentuknya, adalah pentingnya menghadirkan niat yang kuat dari dalam diri untuk berubah. Praktisi wellbeing atau guru meditasi pada dasarnya hanya dapat memberikan arahan. Kita tidak bisa berekspektasi lebih pada mereka dan berharap sekali datang mengikuti sesinya langsung akan mengalami perubahan. Healing adalah proses yang berasal dari dua arah. Kita harus mengizinkan mereka sang praktisi untuk membantu kita mengalami proses healing tersebut. Juga harus punya komitmen dan konsistensi untuk meneruskan proses sebab seperti yang saya utarakan sebelumnya: healing process is a long life journey. Tidak ada kata usai.

Satu yang perlu diingat setiap kali kita hendak melakukan retreat, apapun bentuknya, adalah pentingnya menghadirkan niat yang kuat dari dalam diri untuk berubah.

Related Articles

Card image
Self
Secukupnya Saja

Masyarakat modern saat ini punya banyak pilihan. Setiap hari kita dihadapkan dengan beragam pilihan mulai dari pagi hari mau baca apa sampai keluar rumah mau pergi ke mal yang mana. Tanpa sadar banyaknya pilihan ini sebenarnya bisa jadi masalah. Terlalu banyak pilihan membuat kita memiliki banyak keinginan.

By Raditya Dika
15 August 2020
Card image
Self
Weak Ties: Masa Depan

Ada sebuah quote dari filsuf Seneca: Jika kamu tidak tahu mau berlayar kemana, arah angin manapun akan terasa menghambat. Saya mendengar quote ini saat pertama kali belajar tentang Foresight, atau Futures Thinking, alias...belajar berpikir tentang masa depan. Bagaimana caranya berpikir tentang masa depan, kan masa depan itu tidak bisa diprediksi?

By Kartika Anindya
08 August 2020
Card image
Self
Sejenak Mencari Bahagia

Sejatinya kita pasti ingin hidup bahagia. Rasanya tidak ada orang yang sengaja menyakiti dirinya agar tidak bahagia. Tapi menurut saya terkadang kita ingin hidup bahagia tanpa sebelumnya mengetahui benar apa yang membuat kita bahagia. Pencarian kebahagiaan itu sendiri sepertinya tidak akan berhenti dalam satu masa hidup. Seiring berjalannya waktu, makna bahagia yang kita percaya bisa berubah.

By Aulia Meidiska
08 August 2020