Self Lifehacks

Cantik Itu Kuat

Arti kecantikan bagi setiap perempuan pasti berbeda-beda. Ketika ditanyakan apa arti cantik untuk saya, mungkin terdengar klise kalau bilang perempuan cantik dari dalam. Tapi aku percaya bahwa cantik itu memang akan terpancar dari dalam hati perempuan itu sendiri. Terlebih kalau perempuan itu punya hati yang kuat. Hati yang kuat maksudnya adalah yang bisa menerima dan menghargai dirinya sendiri. Contohnya dengan menggunakan kekurangannya sebagai senjata atau bekal dalam menjalani hidupnya. Bukan malah menutupi kekurangannya dengan sesuatu yang dianggap orang cantik. Hati yang kuat di sini juga berarti kuat dalam menjalani setiap tantangan hidup. 

Aku percaya bahwa cantik itu memang akan terpancar dari dalam hati perempuan itu sendiri. Terlebih kalau perempuan itu punya hati yang kuat.

Sebagai orang Indonesia berbicara tentang kecantikan terkadang bisa jadi rumit. Aku melihat industri kecantikan di Indonesia tanpa sadar (atau mungkin secara sadar) menggiring para perempuan untuk punya anggapan bahwa cantik itu harus putih bersih dan berambut lurus. Aku sendiri pun sempat tergiring untuk mencapai standar yang ada di masyarakat itu. Dulu selagi masih tinggal di Papua, aku tergoda untuk memiliki rambut yang lurus. Sampai-sampai meluruskan rambut dari saat duduk di kelas 6 SD hingga tamat SMA. Namun setelah keluar Papua untuk kuliah, aku baru sadar kalau kulit gelap dan rambut keriting yang aku miliki itu keunikan yang harus dipertahankan. Aku harus menerima itu sebagai anugerah dari Tuhan. Sejak saat itu aku tidak lagi pernah ingin memiliki kulit putih dan rambut lurus. Besar harapanku para pelaku bisnis kecantikan di Indonesia juga bisa pelan-pelan mengubah standar kecantikan seorang wanita dengan condong keberagaman.

Untungnya sampai saat ini aku tidak pernah menghadapi bullying secara langsung soal fisik yang berbeda atau latar belakangku sebagai orang Papua. Mungkin karena sedari dulu aku diajarkan oleh orang tua untuk jadi pribadi yang kuat dan percaya diri. Agar jadi pribadi yang tidak memberi celah kepada orang lain untuk mengolok-olok fisik atau pemikiranku. Menurutku, bullying sebenarnya bisa saja terjadi karena kita sendiri tidak bisa menerima diri kita. Sehingga tanpa disadari kita memberikan celah kepada orang lain untuk mengoreksi diri kita. Kalau biasanya ada perempuan Papua lainnya yang mungkin mendapat bullying karena fisik atau budaya yang berbeda hingga sulit diterima di lingkungan baru, aku biasanya akan bilang pada mereka, “Kita harus jadi kuat dan berani menunjukan bahwa kita mampu bersaing dengan perbedaan dan keunikan.” Ada saat di mana masukan atau kritik dari orang lain kita terima ada juga yang tidak perlu. Jadi kita harus lebih pintar-pintar memilah kritik antara mana yang membangun dan tidak.

Mungkin karena sedari dulu aku diajarkan oleh orang tua untuk jadi pribadi yang kuat dan percaya diri. Agar jadi pribadi yang tidak memberi celah kepada orang lain untuk mengolok-olok fisik atau pemikiranku.

Pemikiran inilah yang aku pegang erat-erat agar bisa selalu menerima diri. Aku percaya kita semua dilahirkan dengan anugerah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Didikan orang tua dan pergaulan sangat bisa memengaruhi tingkat kepercayaan dan kecintaan diri. Terkadang memang mungkin harus melalui proses hidupnya sendiri untuk bisa memahami cara yang paling tepat untuk mencintai diri sendiri. Tapi yang jelas itu semua kembali ke diri kita sendiri. Jika kita menjadi pribadi yang kuat, kita tahu benar apa yang cantik dari diri untuk dapat dicintai. Mungkin ini juga yang mendorongku untuk mengikuti ajang beauty pageant. Walaupun sebagian besar alasannya sebagai batu loncatan, tapi sebenarnya secara tidak langsung aku ingin menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa di dunia ini akan selalu ada hitam putih. Di mana pun kita berada. Memang terkadang sulit untuk tidak terpengaruh standar yang ada di masyarakat. Apalagi namanya manusia sulit untuk puas. Jujur aku pun demikian. Tapi sekarang ini aku sudah cukup bangga bisa berada di posisi ini dengan segala proses yang sudah dilewati. Meskipun aku tahu harus tetap terus belajar untuk jadi manusia yang lebih baik lagi.

Kita semua dilahirkan dengan anugerah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak.

Berkata begini, aku tidak bisa mewakili semua suara teman-teman dari Papua. Mungkin mereka tidak merasakan yang sama denganku. Semua tergantung dengan pengalaman yang mereka terima di masyarakat. Tapi sejauh pengamatanku, kalau masalah rambut keriting dan kulit gelap, aku pikir sudah banyak orang Indonesia yang menghargai perbedaan dan keberagaman. Di Indonesia sebenarnya semakin lama isu ras semakin tidak ada yang begitu terlihat. Justru sekarang orang kulit gelap dan berambut keriting banyak diberikan tempat untuk bisa mengekspresikan diri juga.

Related Articles

Card image
Self
Ketenangan Dalam Kesulitan

Ketenangan dan kedamaian itu bagaikan matahari. Ia selalu ada, tapi terkadang tidak nampak. Saat malam, bumi menutupinya hingga ia tidak terlihat. Begitu juga kala siang hari, ia sering tertutup awan. Akan tetapi ia tetap ada di sana, sama halnya seperti ketenangan.

By Reza Gunawan
26 September 2020
Card image
Self
On Marissa's Mind: Mindfulness

Saya pernah depresi. Lima tahun lalu, pada 2015, ada hari-hari dimana saya menangis tanpa mengerti apa alasannya. Saya juga pernah putus asa dan berpikir untuk mengakhiri semuanya. Akar derita? Trauma masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sekarang, saya masih di sini, merasa lebih baik. Untuk sampai di sini, saya melewati proses, salah satunya dengan mindfulness.

By Marissa Anita
26 September 2020
Card image
Self
Menghargai Pangan Seutuhnya

Pada dasarnya, kita harus berupaya untuk menghargai bahan pangan dan makanan karena kehidupan adalah sebuah berkah. Bumi ini memberikan kita pangan yang berkecukupan dan lengkap. Kita bisa tanam dan tumbuhkan sendiri. Bukankah ini sebuah berkah?

By Ivana Atmojo
26 September 2020