Self Lifehacks

Bijak dalam Memberi Pengaruh

Tanpa disadari, banyak perilaku dan keputusan yang kita ambil justru berawal dari “ikut-ikutan”. Pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, membuat banyak hal dapat diakses secara instan. Tidak lengkap rasanya kalau tidak tahu informasi terkini, atau tidak mencoba sesuatu yang sedang tren.

Uniknya lagi, tidak cukup hanya selebriti atau “selebgram” yang punya andil dalam menentukan apa yang ingin kita coba/konsumsi, tapi banyak juga dari kita yang justru “ter-influence” dari orang-orang terdekat (seperti keluarga, teman sepermainan, atau rekan kerja) dalam menentukan produk atau jasa yang ingin kita gunakan.

Masyarakat sekarang lebih percaya perkataan orang terdekat (keluarga atau teman) dibandingkan para selebriti dan iklan perusahaan

Senada dengan yang diutarakan oleh Philip Kotler dan Hermawan Kertajaya dalam buku Marketing 3.0 (dan ditegaskan kembali dalam Marketing 4.0), “Telah terjadi pergeseran kepercayaan masyarakat dalam memutuskan pembelian, dari yang semua vertikal menjadi horizontal.” Masyarakat sebagai konsumen lebih memercayai konsumen lain, terutama teman-teman dan keluarganya. Hal ini karena teman-teman dan keluarga itu bersifat horizontal, setara, berbeda dengan para selebriti ataupun iklan dari perusahaan yang sifatnya vertikal.

Saya jadi teringat ketika mulai ikut “bermain” TikTok. Menurut Anda, apa dan siapa yang meng-influence saya untuk “bermain” TikTok? Apakah karena artis, influencer besar, atau karena melihat orang-orang di sekitar Anda juga mulai “bermain” dan menikmati TikTok? Saya pernah melihat artis-artis besar ataupun macro influencer (social media influencer dengan followers lebih dari 100.000 orang) bermain TikTok. Karena hal tersebut, saya akan semakin aware dengan TikTok yang ternyata besar, digunakan oleh orang-orang terkenal. Tetapi, hal itu belum cukup membuat saya tertarik menggunakannya.

Singkatnya, saya tahu kalau TikTok mulai populer karena digunakan selebriti atau influencer besar, tapi hal itu tidak cukup membuat saya ingin “bermain” TikTok. Ya sebatas, cukup tahu saja.

Setelah itu, saya mulai melihat para micro influencer (social media influencer dengan followers antara 10.000 – 100.000) yang saya follow akun Instagramnya, bermain TikTok juga. Atau mungkin Anda juga mengalaminya? Misalnya, Anda yang seorang traveller, melihat traveller influencer favorit bermain TikTok juga. Anda yang pecinta fotografi atau videografi, melihat juga creator favorit Anda kok bermain TikTok juga. Begitupun dengan Anda yang suka game, wah gamers favorit bermain TikTok juga. Bahkan, Anda yang suka gym, melihat influencer fitness membagikan tips gerakan atau kesehatan di TikTok. Begitupun dengan influencer yang suka masak serta foodies kesukaan Anda.

Sampai di sini banyak diantara kita yang mulai tertarik atau penasaran dengan TikTok, walau mungkin masih sedikit. Kemudian, kita melihat teman-teman kita sendiri “bermain” TikTok. Ya, teman-teman kita, yang mungkin bukan social media influencer yang punya followers banyak, tetapi mereka teman sepermainan/lingkungan kerja kita, orang yang kita rasa mirip - horizontal - dengan kita.

Teman-teman saya-lah yang memicu saya untuk melakukan hal yang sama dengan mereka, walau awalnya sekadar coba-coba. Sejak itu, saya mulai memanfaatkan TikTok, tidak hanya sebagai sarana hiburan, tapi juga sarana bagi saya untuk berbagi informasi atau values.

Teman-teman kita, punya pengaruh yang paling kuat untuk mempengaruhi kita.  Mereka menjadi ‘influencer’ buat kita. Bisa jadi juga sebaliknya, kita yang jadi ‘influencer’ untuk mereka.

Pada dasarnya, teman-teman kita yang bisa mempengaruhi kita ini, bisa juga disebut seorang influencer, walaupun followers-nya kecil, atau yang biasa disebut dengan nano influencer, yang secara konsep berarti para influencer dengan followers berjumlah di bawah 10 ribu orang. Walau tidak sampai belasan, puluhan, atau ratusan ribu, nano influencer umumnya cenderung memiliki kedekatan yang lebih tinggi dengan para followers-nya. Mereka memiliki peran lebih besar sebagai "Advocator", mengakuisisi, meng-convert, bukan lagi di tahapan membuat orang tahu atau tertarik seperti para selebriti dan macro/micro influencer.

Kembali ke pembahasan Tiktok di atas, orang-orang yang terkena impact nano influencer tadi kemudian tanpa sadar menjadi "influencer" juga buat teman-teman di lingkungan online maupun offline setelah membagikan video TikTok mereka. Pada akhirnya, mereka yang sekolah di international school sampai Anda yang bekerja di multinational company, mereka yang tergabung di kelompok pengajian hingga Anda yang mengikuti klub basket, mereka yang suka dance sampai Anda yang suka traveling, akan mencoba ikut bermain TikTok, karena melihat orang-orang yang "setara" juga menikmatinya.

Jadi apakah kita yang punya followers sedikit bisa jadi influencer? Tentu, siapapun punya power untuk jadi influencer, so use your power wisely!

Followers saya di social media memang tidak, atau mungkin belum, besar, tapi saya termasuk orang yang percaya bahwa kita memiliki pengaruh buat orang lain, setidaknya untuk teman-teman kita sendiri. Sangat menyenangkan ketika saya bisa membagikan/menyebarkan apa yang saya percaya ke orang lain. Bukan mustahil kalau apa yang saya bagikan justru bisa bermanfaat untuk mereka. Baik dari informasi yang saya bagikan, maupun produk/jasa yang saya rekomendasikan.

Walau sempat malas, kini saya tidak lagi peduli dengan ledekan “cieee influencer” akibat sok-sok mempromosikan brand atau value yang saya percaya. Toh, kita semua memang (bisa jadi) influencer. Pertanyaannya, tinggal seberapa besar pengaruhnya, kan? Dan apakah pengaruh yang kita berikan cukup punya manfaat atau justru merugikan? Yang terpenting selalu diingat, ketika kita punya “power” sebagai influencer, ada tanggung jawab yang perlu kita penuhi dan ada kepercayaan yang perlu kita jaga.

Alangkah lebih baik jika kita tetap bijak dalam mengolah dan membagikan informasi demi terciptanya #HealthierDigitalEcosystem.

Related Articles

Card image
Self
Manusia Makhluk Egois

Kita itu egois. Manusia pada dasarnya memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda, ada yang baik hati, ramah, penyayang dan ada juga yang pemarah, kasar, dan egois. Orang yang egois pada umumnya adalah orang yang sulit untuk dihadapi dan diajak berkomunikasi. Sadarkah kita bahwa sebenarnya setiap orang memiliki sisi egosi, hanya kadarnya saja yang beragam. Ada yang halus ada juga yang dominan.

By Ardy Wu
09 October 2021
Card image
Self
Memahami Beragam Dimensi Dalam Diri

Diri kita sebenarnya adalah gabungan dari banyak hal. Self concept sangat bersifat multidimensional. Diri kita bukan hanya sebatas aspek-aspek yang bisa kita lihat. Sebenarnya ini menenangkan, dalam artian jika kita merasa belum maksimal dalam satu dimensi, bisa jadi pada dimensi-dimensi lain lebih positif.

By David Irianto
09 October 2021
Card image
Self
Menafsirkan Penantian dan Rasa Sepi

Penafsiran rasa sepi bagi setiap orang bisa saja berbeda-beda. Spektrum rasa sepi juga sebenarnya sangat luas. Menurutku rasa sepi sangat bergantung kepada bagaimana kita memosisikan diri kita sendiri. Tanpa rasa sepi juga kita tidak akan bisa memahami apa itu rasa rindu dan tidak menghargai waktu menunggu saat kita menginginkan hal ataupun kehadiran orang yang kita butuhkan dalam hidup. Menurutku dalam kadar yang cukup, sebenarnya rasa sepi bisa dinikmati.

By Caldera
02 October 2021