Self Lifehacks

Berubah Seiring Waktu

Setiap orang pasti menerjemahkan makna waktu dengan pemahaman yang berbeda-beda. Bagiku pribadi, waktu mengikuti momen yang sedang kita jalani. Momen apapun itu. Kita selalu berjalan beriringan dengannya. Ia bisa menjadi teman, juga bisa jadi musuh. Tapi satu yang pasti, waktu sangatlah dekat dengan kita. Ia tidak memiliki batasan, tidak pernah ada akhirnya. Jadi sebenarnya, kitalah yang harus mengatur waktu kita sendiri.  

Kita selalu berjalan beriringan waktu. Ia bisa menjadi teman, juga bisa jadi musuh.

Kini, aku sedang berjuang bersama waktu untuk mencapai hasil dari yang sedang dikerjakan saat ini. Bisa dibilang, aku sedang berteman dengan waktu dan berdamai dengannya. Tapi tentu saja aku pernah berada di masa tidak bisa berkawan dengannya. Pernah berada dalam waktu di mana aku merasakan penyesalan dan berkata, “Coba gue bisa memutar waktu. Coba kalau gue melakukan ini atau tidak bicara itu. Pasti akan dapat hasil yang berbeda.” Memang, terkadang kita sulit berdamai dengan waktu di situasi-situasi yang kurang menyenangkan. 

Memang, terkadang kita sulit berdamai dengan waktu di situasi-situasi yang kurang menyenangkan. 

Salah satu masa aku tidak bersahabat dengan waktu adalah saat aku mengawali karier ketika masih berada di band SMA. Di sana untuk pertama kalinya aku mendapatkan pengalaman bernyanyi di atas panggung meski yang menyaksikan hanya teman-teman. Bahkan sekali waktu pernah tidak ada yang menyaksikan sama sekali walau aku harus tetap bernyanyi. Kemudian saat aku mencoba menyalurkan kemampuan bernyanyi di media sosial, ternyata hal serupa terjadi. Tidak banyak orang yang mendengarkan. Kala itu, aku merasa sedih dan mempertanyakan pada waktu, “Kenapa gue mendapatkan ini? Padahal sudah bernyanyi sepenuh hati dan ini adalah sesuatu yang disuka. Kenapa hasilnya hanya begini?”.

Jujur, aku tidak bersyukur dan menghargai proses perjalananku saat itu. Sebenarnya, aku menyadari sedang berada dalam proses. Sayangnya, secara tidak sadar aku tetap mengeluh dengan berkata pada diri sendiri, “Sedih banget sih nggak ada yang nonton”. Aku pun seakan menyalahkan waktu dan menyesali mengapa tidak melatih vokal lebih awal. Kalau dari kecil sudah mulai bernyanyi pasti ketika SMA sudah tinggal melanjutkan, sudah punya pendengar. Namun, suatu saat akhirnya aku sampai pada satu titik di mana aku menyadari pentingnya bersyukur. 

Momen tersebut aku rasakan seiring berjalannya kesadaran untuk konsisten pada penciptaan karya. Aku tahu betul segala kepopuleran di media sosial akan cepat sirna kalau tidak konsisten. Akhirnya, aku mengamati kembali apa yang sudah aku dapatkan. Ternyata aku sudah banyak berkarya video di YouTube dan Instagram sehingga sebenarnya aku hanya tinggal menunggu waktu membuahkan hasil dari usahaku. Banyak orang yang ingin memiliki keberanian untuk mengunggah karya bernyanyinya di media sosial, mendapat pujian, dan mendapatkan pekerjaan dari bernyanyi di medsos. Setelah menyadari ini, aku pun mulai mengimani arti sebuah penantian di mana terdapat sebuah proses di dalamnya. 

Tahun 2020 juga memberikanku banyak pelajaran untuk bersyukur. Awalnya tentu saja seperti kebanyakan orang, aku merasa kebingungan dan berada di titik terendah hidup. Aku cukup stres dan terus mempertanyakan waktu, “Kenapa waktu gue seperti sedang berada dalam tombol pause? Padahal gue sedang berada di puncak produktivitas.” Meski sempat menyalahkan waktu, tapi kemudian aku memikirkan kembali apa yang ingin diberikan olehnya. Lambat laun aku mulai menerima dan merasa sepertinya pandemi menjadi waktuku untuk istirahat, mencapai ketenangan hidup, dan lebih banyak bersyukur. Berkali-kali aku menguatkan diri sendiri dengan bilang bahwa aku sudah melakukan yang terbaik semampuku dan aku harus ikhlas dengan apa yang akan terjadi.

Setelah belajar ikhlas, berdamai dengan keadaan, di situlah aku menemukan TikTok yang akhirnya membuatku sangat berterima kasih pada waktu. Kemudian berbagai kesempatan pun menghampiri hingga aku bisa meluncurkan single “Hal Indah Butuh Waktu Untuk Datang”. Lagu ini sangatlah berarti untukku karena berasal dari keresahan yang dialami selama masa penantian. Berangkat dari lagu ini, aku seolah menantikan keresahan lain yang bisa dituangkan dalam lagu-lagu berikutnya. Aku juga menantikan untuk tahu apakah laguku nantinya bisa jadi teman untuk orang-orang yang membutuhkan dan apakah bisa didengarkan kapan saja baik senang maupun sedih. 

Meski aku sudah sering menulis lagu, tapi aku masih memiliki banyak keraguan tentang apa yang sebenarnya aku belum tahu tentang diriku sendiri. Oleh sebab itu, aku masih mencari dan menantikan seorang Idgitaf yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Aku sedang berjalan beriringan dengan waktu, melakukan eksplorasi diri dan berproses untuk mencari rasa yang mungkin dulu tidak pernah aku pedulikan.

 

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021