Self Planet & People

Berubah Pada Waktunya

Ivana Atmojo

@ivanaatmojo

Personal Branding Coach

Sadar tidak sadar apa yang kita lakukan saat ini bisa saja berasal dari kenangan masa kecil. Apa yang dipercaya ketika masih kanak-kanak bisa sangat memengaruhi kehidupan dewasa kita. Jika ditarik ke belakang, identitas saya sebagai seorang vegan juga berasal dari masa kecil. Sejak umur lima tahun dengan sangat polos saya sudah ingin menjadi vegan. Selain saya sangat mencintai hewan, saya juga seringkali terpapar dengan serial televisi Dewi Kwan Im yang menyiratkan bahwa hewan sengaja dibunuh untuk menjadi makanan manusia.

Mendengar keinginan anak umur lima tahun, orang tua saya tentu saja tidak langsung mendorong. Apalagi karena informasi tentang plant-based diet belum sebanyak saat ini. Mereka tidak yakin saya akan mendapatkan nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan diri saat itu jika saya tidak konsumsi makanan yang berasal dari hewan. Jadilah saya hanya makan apa yang dihidangkan tanpa mempertanyakan apapun meskipun ketika itu saya terbilang sudah menjadi vegan paruh waktu.

Hingga saat melanjutkan studi di London, saya memutuskan untuk 100% plant-powered dan tak pernah berpaling ke belakang. Sudah 14 tahun hati saya merasa sangat damai mengetahui bahwa saya tidak lagi berkontribusi atas kekejian pembunuhan binatang. Saya merasakan hal-hal yang luar biasa sebab perilaku saya akhirnya telah sejalan dengan nilai-nilai diri.

Saya menemukan cukup mudah untuk beralih sepenuhnya menjadi seorang vegan. Tidak merasa terlalu terbeban untuk melepaskan makanan yang berasal dari hewan. Sayangnya tidak semua orang merasakan hal yang sama dengan sama.. Dari label omnivora menjadi seorang vegetarian juga dari vegetarian menjadi vegan sangatlah berbeda. Banyak orang merasa kesulitan untuk menjadi vegan karena mereka tidak bisa melepaskan produk berkomponen susu seperti keju dan mentega. Melepaskan daging-dagingan mungkin mudah. Namun transisi dari vegetarian menjadi seratus persen vegan benar-benar menjadi tantangan besar bagi kebanyakan orang. Kendala lainnya adalah kebiasaan dan budaya masyarakat kita yang tidak mau tahu tentang kebenaran. Mereka sengaja menghindari kebenaran karena tidak mau ada perubahan dalam hidupnya. Perubahan yang signifikan terlihat amat menakutkan dan sebaliknya justru memilih tinggal dalam ketakutan tersebut.

Mereka sengaja menghindari kebenaran karena tidak mau ada perubahan dalam hidupnya.

Memang, tantangan tersulit dalam menjalani gaya hidup yang mindful adalah kesulitan menerima perubahan. Kita memiliki kecenderungan untuk membatasi diri kita. Ironisnya, di era yang memaparkan beragam informasi berguna kita justru memilah mana yang bisa mengubah hidup kita. Kita menghindari pengetahuan akan veganisme karena tidak berani mengubah gaya hidup, keluar dari zona nyaman dan kebiasaan. Kita memilih kenyamanan daripada pemberdayaan. Padahal dengan memahami pemahaman veganisme kita bisa belajar bagaimana menghidupi keseharian yang lebih sehat, penuh kekuatan, dan penuh kesadaran atas belas kasih. Utamanya belas kasih pada makhluk hidup lainnya yang dibunuh untuk memenuhi kenyamanan kita manusia.

Kita memilih kenyamanan daripada pemberdayaan.

Banyak orang mengira kalau tidak makan daging, badan akan menjadi lemas. Padahal banyak atlet tercepat dan terkuat adalah vegan. Kepercayaan akan “real men eat meat” terbukti hanyalah propaganda sejumlah perusahaan saja. Demi profit semata. Faktanya, manusia tidak membutuhkan protein hewani sama sekali. Mengonsumsi makanan hewani malah membawa banyak masalah kesehatan bagi manusia. Ada juga yang bilang kalau menjadi vegan berarti kita terbatas pada bahan makanan yang itu-itu saja. Padahal sebaliknya. Pengetahuan kita tentang tumbuhan akan lebih luas. Bahkan kita bisa memiliki lebih banyak pilihan dengan mencoba buah, sayur, dan tumbuhan lainnya. Kala itu pula kita akan menjadi lebih sadar betapa indahnya semesta ini dengan pilihan sumber makanan yang berlimpah tanpa perlu membuat para binatang menderita.

Tidak berhenti di sana, menjadi vegan juga merupakan langkah tepat memulai gerakan cinta lingkungan. Sehingga menjadi vegan bukan sekadar menjadi seseorang yang sehat dan kuat saja tetapi juga seseorang dengan kesadaran penuh akan sekitarnya. Kasih sayang yang kita miliki sejak lahir akan dipulihkan dan terwujud sepenuhnya. Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Semoga dengan mengetahui keindahan di balik label vegan ini dapat membuat lebih banyak orang memulai langkahnya untuk sebuah perubahan.

Kasih sayang yang kita miliki sejak lahir akan dipulihkan dan terwujud sepenuhnya.

Related Articles

Card image
Self
Bercakap Bersama Rahimah Abdulrahim: Arti Menjadi Perempuan

Histerektomi = Operasi Pengangkatan Rahim. Kebanyakan perempuan menjalani hal ini karena alasan kesehatan. Meski demikian, terbayang menuju keputusan ini tidaklah mudah. Saya bicara tentang ini karena salah satu sahabat dekat saya, Ima Abdulrahim, baru-baru ini menjalaninya.

By Marissa Anita
27 June 2020
Card image
Self
Cantik Itu Kuat

Arti kecantikan bagi setiap perempuan pasti berbeda-beda. Ketika ditanyakan apa arti cantik untuk saya, mungkin terdengar klise kalau bilang perempuan cantik dari dalam. Tapi aku percaya bahwa cantik itu memang akan terpancar dari dalam hati perempuan itu sendiri. Terlebih kalau perempuan itu punya hati yang kuat.

By Yuli Fonataba
27 June 2020
Card image
Self
Menikmati Hidup Melambat

Sebelum pandemi, waktu terasa begitu cepat. Sebelum pandemi, kami selalu bekerja kejar tayang. Produktivitas, mobilitas dan disiplin tinggi membuat kami terbiasa merespon cepat, mengeksekusi kilat. Rasanya sebuah kesenangan tersendiri untuk kami dapat menyelesaikan banyak tugas dan tantangan. Lalu sekarang saat pandemi kami seakan dipaksa merasakan liburan. Disuguhkan kenikmatan baru dari hidup melambat.

By Endah Widiastuti
27 June 2020