Self Lifehacks

Berjalan Penuh Kesadaran

Nadine Alexandra

@nadinealexandradewi

Aktris & Pemerhati Lingkungan Hidup

Manusia mudah sekali dipengaruhi oleh konsep baru. Ketika ada sebuah pembaharuan kita seakan tidak mau ketinggalan dan cenderung terobsesi. Seperti ketika kemajuan teknologi hadir dan mengubah pemahaman kita soal menjadi produktif. Seseorang yang dinilai produktif adalah seseorang yang sibuk, yang aktif memperlihatkan seberapa padat jadwalnya, yang ke sana kemari menghabiskan waktu dengan sejumlah kegiatan berbeda di berbagai lokasi. Padahal mungkin kesibukannya bukan untuk memenuhi kebutuhan. Mungkin secara tidak sadar hanya untuk semata-mata memenuhi ekspektasi masyarakat saja. 

Lambat laun, kita terbiasa untuk mempercepat langkah agar dapat mencapai banyak tujuan dan memenuhi kebutuhan untuk melakukan banyak hal. Tanpa sadar kita telah didoktrin bahwa untuk menghasilkan yang terbaik membutuhkan upaya dengan perjuangan keras penuh penderitaan. Tanpa sadar, setiap hari untuk memenuhi kesibukan kita berjalan tergesa-gesa tanpa memerhatikan kondisi tubuh dan membiarkan ketegangan bersemayam dalam jiwa raga. Seolah kita menyimpan bola yang mengepal dalam dada. Memikirkan ke mana tujuannya, kapan sampai di sana, apa yang akan dilakukan setelah sampai. Menyibukkan fisik dan otak kita sampai tak sadar menaruhnya dalam risiko burnout

Tanpa sadar, setiap hari untuk memenuhi kesibukan kita berjalan tergesa-gesa tanpa memerhatikan kondisi tubuh dan membiarkan ketegangan bersemayam dalam jiwa raga.

Sebenarnya tidak ada yang salah memiliki banyak kebutuhan dan keinginan untuk memenuhi segalanya. Namun tak berarti harus mengoperasikan tubuh kita dalam ketegangan dan stres sampai-sampai kita sibuk memikirkan hal-hal yang tidak esensial dalam hidup. Bukan berarti juga kita harus diam di rumah, tidak melakukan apa-apa. Hanya saja tahu kapan harus melambatkan langkah sehingga dapat menghadirkan kesadaran penuh pada hidup kita di masa ini, detik ini, menit ini. Berjalan dengan santai dan penuh kesadaran dapat membantu kita merasakan energi dalam tubuh juga menikmati lingkungan di sekitar. Kita dapat melatih pikiran dan fisik untuk lebih relaks, lebih cermat mengamati situasi tertentu. Sejatinya, perilaku yang santai dapat membantu kita lebih bijak mengambil keputusan. Kinerja otak bekerja dengan lebih baik dan efektif ketika berada dalam frekuensi yang stabil ketimbang saat berada dalam tegangan tinggi. 

Berjalan dengan santai dan penuh kesadaran dapat membantu kita merasakan energi dalam tubuh juga menikmati lingkungan di sekitar.

Kalau dipikir-pikir kebiasaan kita terburu-buru seperti mencurangi hukum alam di semesta. Alam itu butuh waktu untuk berkembang. Bunga-bunga butuh waktu untuk bermekaran indah. Lalu kenapa kita justru selalu ingin instan? Ya, kita mempercepat langkah agar dapat menghemat waktu. Apabila kita menghemat waktu untuk mengupayakan keseimbangan hidup memang tidak apa-apa. Tetapi jika kita menghemat waktu hanya untuk menambah kesibukan bukannya kita justru hanya akan membuang waktu untuk tidak menikmati apa yang sedang kita lakukan? Keinginan cepat sampai di tujuan membawa kita pada kegusaran yang memunculkan bibit masalah. Sedangkan untuk merasa bahagia, menurut saya, kita harus mulai meminimalisir berbagai aspek kehidupan.

Alam butuh waktu untuk berkembang. Lalu kenapa kita justru selalu ingin instan?

Merasa bahagia adalah pilihan. Di setiap langkah kita bisa merasa bahagia jika kita mau menyadari apa yang membuat kita bahagia tanpa melakukan aktivitas tertentu yang dipercaya dapat meningkatkan kebahagiaan. Mempercepat langkah hanya akan menjauhkan kita pada apa yang bermakna di sekitar. Menciptakan kebisingan dalam pikiran yang terus bergaung dan menyangkal adanya kenikmatan dari menghargai waktu. Sebaliknya, menerapkan mindful walking atau berjalan penuh kesadaran, penuh ketenangan dapat membantu kita merasakan kebahagiaan dari setiap kesempatan. Menikmati kehadiran pohon-pohon, keindahan langit, atau sekadar merasakan setiap hembusan napas sebagai tanda syukur masih diberikan nyawa. Pada dasarnya, bahagia adalah pilihan. Saat kita memilih untuk merasakan kebahagiaan dengan berjalan santai kita sebetulnya sedang menambahkan waktu untuk meningkatkan kebahagiaan tersebut.

Mempercepat langkah hanya akan menjauhkan kita pada apa yang bermakna di sekitar.

Related Articles

Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021
Card image
Self
Bahasa Cinta dari Ayah

Sosok bapak di mataku adalah pemegang hierarki tertinggi di keluarga. Bapak biasanya akan tetap hadir untuk keluarga di akhir pekan atau saat libur panjang. Setiap akhir pekan, ia sering mengajak kita sekeluarga untuk pergi bersama ke Six Flag atau pergi ke tempat rekreasi lainnya. Bapak punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang ke anak-anaknya.

By Adrian Khalif
27 November 2021
Card image
Self
Merancang Hari Baru

Pada titik tertentu dalam hidup mungkin kita merasa sering bingung akan pilihan kita sendiri. Berpikir kenapa, ya, kok kita bisa memiliki perspektif yang mungkin berbeda. Tidak bisa memahami diri sendiri. Sebenarnya ini bisa saja berarti kita belum benar-benar bangun dalam versi organik diri kita. Buatku penting untuk bisa mengenali diri sendiri. Kita orang yang seperti apa, butuhnya apa, inti utama dari diri kita itu apa, hal ini terasa natural tapi juga tidak senatural itu.

By Lala Bohang
20 November 2021