Self Work & Money

Berjalan Melewati Kehampaan

Richie Wirjan

@richiewirjan

Konsultan & Mentor Branding dan Kewirausahaan

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Dari sekian banyak jadwal yang memenuhi agenda kita setiap harinya, berapa banyak yang kita kerjakan dengan penuh makna? Seringkali saya tertegun melihat to-do-list yang saya miliki; mulai dari meeting dengan klien, brainstorming dengan internal team, siaran radio ataupun melakukan sesi sharing di beberapa acara. Sungguh saya banyak bertanya pada diri sendiri: apakah segala aktivitas ini membuat saya menjadi lebih ‘berisi’ dan maju, atau malah rutinitas ini membentuk saya seperti seekor hewan peliharaan — hamster yang terus berlari dalam sebuah roda yang hanya berputar di tempat? Kita bisa bayangkan betapa sibuknya kita dan berharap bahwa jerih payah ini bisa membawa kita ke tempat yang lebih baik. Nyatanya malah kita sebetulnya hanya sibuk sendiri dan berlari di tempat saja.

Dengan segala rutinitas yang kita miliki, memaknai atau tidak memaknai akan membentuk kita kepada tiga hal:

  1. Menjadikan kita hanya terbiasa dengan segala aktivitas yang ada.
  2. Membuat kita merasa biasa-biasa saja.
  3. Membangun kita menjadi pribadi yang luar biasa.

Sembari karir dibangun ataupun diri dibentuk, aktivitas-aktivitas saya bukannya menjadikan saya luar biasa, tetapi hanya biasa di luar. Seolah-olah sibuk namun hampa di dalam. Hidup untuk memenuhi satu agenda ke agenda yang lain, dan terkadang juga dijalani dengan penuh tuntutan jabatan ataupun tanggung jawab. Akibatnya, mungkin saat ini kita merasakan yang namanya hampa, bak zombie yang bisa terus berjalan tapi tidak punya perasaan. Dangkal sekali.

Kalau kamu saja merasa hampa, bukankah orang lain pun bisa merasakan demikian?

Istilah ‘galau’ yang erat dengan generasi milenial ataupun generasi Z, mungkin bukan hanya karena mereka belum tahu tujuan hidup, tetapi juga karena rasa hampa; sebuah rasa yang muncul karena sudah melakukan berbagai macam hal (mau itu mulai usaha sendiri, kerja di perusahaan terkemuka, jalan-jalan keliling dunia, punya barang-barang branded) —  namun tetap rasanya kosong. Kapankah kita bersedia untuk mengizinkan diri berhenti dan merenungkan hal ini? Karena terlarut dengan kehampaan justru sangat berbahaya.

Prinsip di pikiran kita sederhana: kalau penuh ya dikosongkan, kalau kosong yang dipenuhi saja. Ini bahaya.

Kehampaan yang kita rasakan bisa berujung pada satu hal yang justru membawa kita semakin terlarut dalam kehampaan itu sendiri, yaitu ‘menghukum' diri kita sendiri. Menghukum dengan cara apa? Yaitu dengan mencambuk agenda kita supaya semakin padat dan lupa diri. Belum lagi rasanya menjadi semakin berat karena pikiran kita terlalu padat dan energi kita yang perlahan-lahan surut. 

Ada saat-saat dimana saya pribadi mempertanyakan: memang dengan sekian banyak keputusan yang saya ambil, hal ini membawa saya semakin naik atau semakin turun? Semakin dekat dengan keluarga atau semakin menjauh dari mereka? Dan termasuk juga untuk perusahaan yang saya bangun. Kalau jadwal saya semakin padat, apakah ini bisa membawa nilai tambah untuk perusahaan saya?

Saya sebegitu terlarutnya dengan kepadatan yang ada, tanpa menyadari bahwa yang seharusnya saya lakukan bukan mencambuk diri, tetapi baiknya berhenti sejenak. Saya mengambil ‘cuti’ untuk diri sendiri, untuk berjalan dan melihat dunia dengan perlahan. Bukan justru berlari tergesa-gesa karena takut dunia akan padam besok. Beranikan diri untuk membuat skala prioritas yang jelas — akui saja bahwa kita memang lemah dan kita tidak bisa memenuhi semua hal yang orang harapkan dari kita — sehingga kita bisa membuat pilihan yang lebih lugas. Izinkan dirimu untuk memaknai setiap agenda yang kamu pilih, dan biarkan dirimu berjalan melewati kehampaan.

Beranikan diri untuk membuat skala prioritas yang jelas — akui saja bahwa kita memang lemah dan tidak bisa memenuhi semua hal yang orang harapkan dari kita

Related Articles

Card image
Self
Ekspresi Diri dan Gaya Hidup

Saya juga setuju dengan ungkapan bahwa fashion adalah cara mengekspresikan diri. Kalau saya bertemu dengan orang, kita bisa melihat karakternya dari apa yang ia kenakan. Baju adalah salah satu medium kita bisa melihat dan “menilai” orang. Jadi bisa dikatakan bahwa baju yang kita kenakan sebenarnya bisa menjadi ungkapan bahwa kita ini adalah bagian dari komunitas tertentu. Mungkin komunitas skateboard, band, atau komunitas-komunitas lainnya. Urban Sneaker Society juga berusaha menggabungkan banyak komunitas agar bisa bertemu satu-sama lain.

By Jeffry Jouw
04 December 2021
Card image
Self
Berjalan Untuk Berubah

Masing-masing manusia punya perjalanan yang berbeda-beda. Katanya, dalam perjalanan itu yang paling penting bukan destinasinya, melainkan proses dan cerita yang terjadi sepanjang perjalanan. Katanya juga, cerita dalam perjalanan lah yang menjadikan siapa kita sekarang ini. Tapi yang pasti, melalui perjalanan kita berubah dan bertumbuh.

By Greatmind x Festival Film 100% Manusia
04 December 2021
Card image
Self
Memaknai Perempuan Berdaya

Banyak pembahasan mengenai cara menyeimbangkan peran sebagai ibu yang juga pekerja, tapi kita terkadang lupa bahwa kita juga adalah individu yang punya identitas sendiri. Saya bukan hanya ibu dari si A, istri dari si B, atau karyawan kantor C. Saya juga adalah seorang individu yang memiliki minat dan keinginan tersendiri. Terkadang saya tetap butuh meluangkan waktu untuk diri sendiri, mungkin dengan olahraga, baking, menonton drama Korea, atau hobi-hobi lainnya.

By Ellyana Mayasari
27 November 2021