Self Health & Wellness

Berjalan Alami

Olivia Sulistio

@miraclewalking.id

Humas Lokakarya Kesehatan

Ilustrasi Oleh: Rasheeda Rahma (Atreyu Moniaga Project)

Tanpa disadari, dalam hidup kita seringkali lebih memperhatikan hal-hal besar saja. Misalnya keinginan memiliki tubuh langsing. Kita akan fokus pada perubahan besar pada tubuh sampai mati-matian berupaya semaksimal mungkin mencapainya. Tapi kemudian kita lupa untuk memberikan perhatian pada hal-hal kecil yang justru lebih esensial dan amat mempengaruhi hidup. Seperti berjalan. Mungkin tidak pernah terlintas dalam benak mengapa kita harus memperhatikan cara berjalan. Selayaknya tidak ada yang salah dengan cara berjalan dan tidak ada dampak apapun dari cara berjalan kita sehari-hari. Padahal setiap hari kegiatan kita tidak bisa dipisahkan dari berjalan.

Seringnya kita berpikir berjalan hanya untuk mencapai satu tempat saja. Mungkin kita tidak pernah sadar betapa berpengaruh cara berjalan pada kondisi fisik dan mental karena kurangnya informasi yang ada. Rasa-rasanya penyakit yang datang pun bukan bersumber dari salahnya cara berjalan. Kenyataannya, setiap hari kita terbiasa untuk menyakiti tubuh dan membuatnya tidak bahagia sebab cara berjalan yang tidak alami. Hasilnya? Tidak hanya kondisi tubuh yang kurang baik melainkan juga pikiran dan emosi. Ya, apa yang ada dalam tubuh dan pikiran semua saling terkoneksi. Jadi ketika tubuh merasakan tidak adanya harmoni di beberapa bagiannya pastilah bagian lainnya akan merasakan juga. Contohnya ketika kita berjalan terburu-buru. Kita tidak sadar sedang memberikan tekanan berlebih pada lutut sehingga tidak ada lagi harmoni antara kaki dan postur tubuh. Kemudian tanpa disadari pada saat terburu-buru pikiran kita tidak fokus karena menyimpan kegelisahan tertentu yang akhirnya diliputi aura negatif.

Apa yang ada dalam tubuh dan pikiran semua saling terkoneksi. Jadi ketika tubuh merasakan tidak adanya harmoni di beberapa bagiannya pastilah bagian lainnya akan merasakan juga.

Belum lagi kala kita berjalan sambil menunduk. Terdapat riset yang membuktikan bahwa berjalan sambil menunduk dapat memunculkan lebih banyak pikiran negatif. Secara ilmiah berjalan sambil menunduk membuat kita tidak dapat berjalan secara alami sesuai postur tubuh sehingga memberikan tekanan pada bagian tengkuk. Ini menyebabkan kurangnya oksigen yang dialirkan di otak saat berjalan. Akibatnya ketenangan pikiran berkurang dan kita kurang dapat mengolah pemikiran secara jernih. Coba saja dengarkan orang-orang yang berjalan sambil menunduk. Biasanya mereka sedang mengucapkan komentar negatif baik dilontarkan secara verbal atau dalam hati. Saya bisa mengungkapkan ini juga karena banyaknya eksperimen yang dilakukan dalam lokakarya Miracle Walking. Sehingga banyak pula penemuan yang saya sadari amat berpengaruh dari cara berjalan yang tidak alami.

Berjalan alami secara singkat adalah cara berjalan yang disesuaikan dengan postur tubuh tanpa memberikan tekanan apapun.

Mungkin mendengar berjalan alami seperti kurang masuk akal. Apakah selama ini kita berjalan tidak alami? Maksudnya bagaimana? Berjalan alami secara singkat adalah cara berjalan yang disesuaikan dengan postur tubuh tanpa memberikan tekanan apapun. Lalu mengapa penting untuk diketahui? Karena sebenarnya tubuh kita dirancang sedemikian rupa lengkap dengan fitur untuk membuatnya bahagia luar dalam. Bahkan ia dapat menyembuhkan penyakit yang ada di dalamnya dengan lebih cepat jika kita tahu cara mengoptimalkan fungsinya. Sehingga jika kita berjalan secara alami, kita dapat membuat tubuh merasa bahagia tanpa perlu merasakan sakit di bagian apapun. Salah satu bagian yang bisa dioptimalkan adalah  zona refleksiologi di tiap telapak kaki yang terhubung ke berbagai bagian organ dalam tubuh hingga lapisan sel otak. Sayangnya cara berjalan yang salah sering membuat zona ini tidak berfungsi malah sebaliknya menyentuh titik yang dapat membuat tubuh terserang penyakit. Kalau saja kita tahu cara berjalan yang tepat zona tersebut dapat aktif dan mempermudah penyembuhan penyakit dalam tubuh secara alami tanpa kita harus banyak mengonsumsi obat-obatan. Ini saya rasakan sendiri. Setelah mempraktikkan cara berjalan alami sesuai dengan postur tubuh dan disesuaikan dengan cara bernapas, penyakit saya lebih mudah sembuh.

Sebenarnya tubuh kita dirancang sedemikian rupa lengkap dengan fitur untuk membuatnya bahagia luar dalam.

Lalu bagaimana kita bisa tahu cara berjalan sudah benar atau belum? Secara sederhana kita bisa merasakannya dari helaan napas. Ketika tubuh mendapat tekanan berlebihan tidak terjadi harmoni di bagian tubuh lainnya. Seperti tadi berjalan menunduk atau menekan lutut. Akhirnya pernapasan kita tidak lancar karena kurangnya penyebaran oksigen ke seluruh tubuh. Kalau kita merasakan nafas yang tersengal-sengal atau tidak bisa menarik napas dalam berarti kita tidak berjalan secara alami. Lama kelamaan apabila kita membiarkan tubuh berada dalam ketidak-bahagiaan ia akan memberikan sinyal pada hati. Kita jadi lebih mudah kesal atau marah karena tubuh dan hati seperti  sedang tidak dapat bekerja sama untuk saling membuat bahagia.

Related Articles

Card image
Self
Untuk Apa Hidup: Satu Perjalanan

Sudahkah kita menggunakan sisa hari yang kita punya dengan baik dalam satu perjalanan ini? Seberapa pun sisa hari yang kita miliki, adalah kesempatan untuk menjelajahi kehidupan ini.

By Joshua Budiman
18 June 2022
Card image
Self
Menghadapi Takut

Selamat datang di dunia kesunyian. Ini adalah sebuah kalimat yang biasa aku sebut untuk menggambarkan pengalaman perjalananku ketika masuk ke alam bawah laut. Ketika kita diving atau free diving, memang nggak ada suara apa pun. Kita hanya bisa mendengarkan suara gelembung napas kita.

By Della Dartyan
18 June 2022
Card image
Self
Belajar Mengendalikan Ekspektasi

Kadang kala kita bisa punya ekspektasi melebihi kemampuan yang kita punya, tapi aku belajar untuk mengendalikan ekspektasi di dalam kepalaku. Aku selalu berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Saat aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun sadar bahwa hal itu sulit untuk dicapai, aku akan menurunkan ekspektasi.

By Sorenza Nuryanti
18 June 2022