Self Lifehacks

Berdamai dengan Takut dan Luka

Jika mengingat kembali sosok Noui kecil, ia adalah seorang anak dengan imajinasi tinggi, banyak ketakutan tapi keingintahuannya juga tinggi. Sebenarnya waktu kecil aku terbilang lebih outgoing, lebih bisa mengekspresikan diri. Meski aku bisa dikatakan sebagai anak yang ceria saat kecil tapi seiring bertambahnya usia aku menyadari ternyata ada bagian dari masa kecilku yang turut memengaruhi cara aku berinteraksi dengan orang lain saat ini. Sejalan dengan perkembangan aku beranjak dewasa, aku pun mulai menyadari sepertinya ada yang salah. Tidak ada momen spesifik sebenarnya, aku pun tidak ingat jelas kapan aku mulai merasakan masalah dalam diri, seperti layaknya bola salju semua momen bergulir dan berkumpul menjadi satu. 

Dari kecil aku sadar bahwa ada sesuatu yang menghalangi aku untuk benar-benar menjadi seorang individu. Akhirnya aku pun menganalisa sebenarnya apa yang memengaruhi hal ini mulai dari masa kecil yang sudah aku lalui. Sampai kini aku jadi lebih sadar bahwa semua yang terjadi pada diriku di masa sekarang juga adalah hasil dari perjalanan yang sudah aku tempuh sedari kecil. Aku merasa sebenarnya masalah yang terjadi lebih kepada lingkungan tempat aku tinggal dan dibesarkan, lingkungan dan cara aku bereaksi pada dunia. Saat kecil rasanya aku tidak punya kompas yang tetap. Sehingga sulit rasanya bagiku mengontrol beberapa aspek dalam kehidupan. 

Kini aku jadi lebih sadar bahwa semua yang terjadi pada diriku di masa sekarang juga adalah hasil dari perjalanan yang sudah aku tempuh sedari kecil.

Aku yang sekarang kadang takut memikirkan hal-hal yang sangat membahagiakan dan akhirnya terpaksa kembali memikirkan hal yang dianggap “normal” oleh banyak orang. Normal buat aku adalah sebuah standar sosial yang ada dalam masyarakat sedari dulu. Bagaimana cara kita berkomunikasi, mengekspresikan diri, atau berteman. Jadi apa pun yang tidak terlalu berlebihan, normal. Tidak kekurangan, normal. Sekarang aku mencoba lebih pasrah dalam menghadapi ketakutan yang ada di dalam kepalaku sendiri. Masih ada, tapi masih terus berusaha aku atasi. Setiap orang punya cara sendiri untuk mengurangi rasa takut. Aku mencoba mengatasinya dengan cara yang holistik. Seperti, meditasi, berdialog dengan diri sendiri setiap malam, atau teknik napas yang sedang aku coba. Salah satu yang paling membantu buatku adalah teknik bernapas. 

Aku yang sekarang kadang takut memikirkan hal-hal yang sangat membahagiakan dan akhirnya terpaksa kembali memikirkan hal yang dianggap “normal” oleh banyak orang .Jadi apa pun yang tidak terlalu berlebihan, normal. Tidak kekurangan, normal.

Salah satu ketakutanku juga berkaitan dengan hubungan kasih sayang dengan orang lain. Menurutku sebenarnya rasa empati dan kasih sayang sudah ada dari awal manusia dilahirkan. Makna mencintai juga bukan tentang apa yang kita katakan atau kita lakukan. Kasih sayang adalah sebuah perasaan yang memang hanya butuh kita rasakan. Bahasa cinta dari aku pribadi mungkin lebih ke physical touch dan quality time, tapi setiap orang punya caranya sendiri dalam menyampaikan rasa kasih sayang kepada orang lain.

Menurutku sebenarnya rasa empati dan kasih sayang sudah ada dari awal manusia dilahirkan. Makna mencintai juga bukan tentang apa yang kita katakan atau kita lakukan. Kasih sayang adalah sebuah perasaan yang memang hanya butuh kita rasakan.

Masa kecil menurutku sebenarnya sangat amat memengaruhi kehidupan aku di masa sekarang. Terlalu banyak bahkan hingga rasanya aku terjebak dan berhenti di masa lalu. Apa yang aku lalui sekarang rasanya hanyalah potongan memori yang sudah pernah terjadi, padahal sebenarnya dua momen ini berbeda. Kalaupun aku punya kesempatan untuk bertemu diriku yang masih kecil aku hanya mau bilang, jangan takut. Hadapi saja semua yang memang harus kamu hadapi. Coba kenali diri kita sendiri, sisi anak kecil dalam diri kita yang sudah bertumbuh ini tetap akan ada selamanya. Lebih baik, jangan biarkan sisi “anak kecil” kita mengambil alih tubuh kita. Temukan cara untuk tetap menjaga rasa ingin tahu dalam diri secukupnya.

Melalui lagu “Reverie” sendiri aku tulis berdasarkan sisi anak kecil dalam diri aku. Aku ingin menyampaikan bahwa semua orang punya luka dalam dirinya masing-masing. Kalau ada orang yang sangat dekat dan kita sayangi, terkadang luka itu ikut pindah ke diri mereka. Di lagu ini aku bercerita tentang bagaimana caranya agar kita bisa memahami dan berdamai dengan luka dalam diri kita. Semoga lagu ini juga bisa disayang oleh banyak orang.

Related Articles

Card image
Self
Untuk Apa Hidup: Satu Perjalanan

Sudahkah kita menggunakan sisa hari yang kita punya dengan baik dalam satu perjalanan ini? Seberapa pun sisa hari yang kita miliki, adalah kesempatan untuk menjelajahi kehidupan ini.

By Joshua Budiman
18 June 2022
Card image
Self
Menghadapi Takut

Selamat datang di dunia kesunyian. Ini adalah sebuah kalimat yang biasa aku sebut untuk menggambarkan pengalaman perjalananku ketika masuk ke alam bawah laut. Ketika kita diving atau free diving, memang nggak ada suara apa pun. Kita hanya bisa mendengarkan suara gelembung napas kita.

By Della Dartyan
18 June 2022
Card image
Self
Belajar Mengendalikan Ekspektasi

Kadang kala kita bisa punya ekspektasi melebihi kemampuan yang kita punya, tapi aku belajar untuk mengendalikan ekspektasi di dalam kepalaku. Aku selalu berusaha untuk tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Saat aku menginginkan sesuatu yang sebenarnya aku pun sadar bahwa hal itu sulit untuk dicapai, aku akan menurunkan ekspektasi.

By Sorenza Nuryanti
18 June 2022