Circle Love & Relationship

Bercakap Bersama Annisa dan Daniel: Pernikahan Campuran

Tidak sedikit orang yang punya persepsi pernikahan campuran itu ribet karena sejumlah hal: beda kebangsaan, beda kultur, beda agama, beda cara pandang, beda ini dan itu lainnya. Semua ini memang punya potensi mengundang tegang dan konflik dalam sebuah hubungan. Tapi nyatanya tidak harus selalu demikian.

Anis Annisa Maryam dan Daniel Ziv. Di permukaan, mungkin mereka kelihatannya sangat berbeda. Selain beda warga negara, mereka lahir dari keluarga dengan agama yang berbeda. Saya bercakap bersama Annisa dan Daniel tentang nikah beda agama dan pentingnya persamaan cara pandang hidup dalam melanggengkan pernikahan.

Marissa Anita (M): Bagaimana ceritanya kalian bisa bersama? 

Daniel Ziv (D): Kami dikenalkan oleh Sherina Munaf. Sherina teman dekat kami berdua. Dia tahu saat itu kami baru putus dengan pasangan masing-masing dan kami terbuka untuk bertemu orang baru. Kita bertemu dengan cara kuno. Nggak pakai Tinder atau Twitter. Kenalan langsung. Saat itu aku tinggal di Bali, Annisa tinggal di Bandung. Sherina mencomblangi kami berdua lewat Instagram. Di situlah kami mulai saling kirim pesan.

Annisa Maryam (A): Kita saling DM (direct message).

D: Beberapa minggu kemudian aku ke Jakarta. Kita ketemuan di Jakarta dan langsung kencan.

A: And the rest is history (dan kisah seterusnya adalah hidup kami bersama sekarang). Jujur, waktu aku pertama kali dengar nama Daniel, aku bilang ke Sherina, aku baru keluar dari hubungan serius tapi agak toxic (tidak sehat). Aku harus lebih hati-hati dalam memulai hubungan baru.

Aku ingat kita diskusi pasangan ideal itu yang emang equal (setara); punya visi yang sama, believe in the same things, punya nilai-nilai hidup yang sama. Nama Daniel muncul. Sherina cerita tentang Daniel, hasil kerja kreatifnya, dan dia tinggal di Bali dan lain sebagainya. Tentu aku tertarik.

Nggak lama kemudian, aku, Sherina dan beberapa teman lain pergi ke Bali. Aku berharap ketemu Daniel di sana tapi sayangnya Daniel saat itu sedang jalan-jalan di Amerika Selatan. Kita nggak ketemu. Sherina bisa melihat aku saat itu kecewa

D: Jual mahal ceritanya ha ha ha (bercanda).

A: Setelah kejadian ini, kami mulai ngobrol lewat IG.

M: Pembicaraan pertama kalian apa waktu itu? Apa yang bikin kalian merasa hubungan ini bisa dijajaki lebih lanjut?

D: Kita nyambung secara intelektual dan personal. Aku di Bali, Annisa di Bandung masih ambil kuliah S2. Menariknya, hubungan yang agak jarak jauh di minggu-minggu awal cocok buat kita. Karena ini ‘memaksa’ kita untuk saling telepon, video call, dan mengirim pesan. Kita ngobrol di telepon hampir setiap malam. Kita video call bisa sejam tiap malam. Kita saling kirim pesan panjang-panjang. Menurutku ini cara yang cukup baik untuk mengenal seseorang. Jadi sebelum kita akhirnya ketemu langsung di Jakarta, kita sudah punya interaksi dan hubungan yang cukup dalam. 

Setelah kita ketemu, ada periode di mana aku harus pergi ke Amerika Serikat dan tinggal di sanaselama lima bulan untuk ikut fellowship di Universitas Yale. Meski kita terpisah sebegitu lama, kita tetap ngobrol setiap hari lewat telepon — bisa teleponan lama satu atau dua kali sehari.

M: Apa yang dibicarakan waktu itu?

D & A: Semuanya!

A: Aku sama Daniel tuh nyambung banget. Nggak cuma punya nilai-nilai hidup yang sama, kita juga overlap dalam hampir semua aspek lain seperti politik, pemikiran-pemikiran seputar agama dan kepercayaan, kultur pop, traveling, makanan, hidup tanpa anak dan lainnya.

Sampai aku sempat mikir, “Is this for real?” (Ini beneran kita segini cocoknya?). Awalnya ini terasa aneh buatku. Di mana dengan mantan-mantanku sebelumnya, aku harus menyesuaikan diri ke mereka. Sementara dengan Daniel, ketika kita ngobrol, ketika aku bersama dia, aku merasa lebih menjadi diri sendiri.

Di awal umur dua puluhan, aku mulai sadar aku orangnya kayak gimana — apa nilai-nilai hidup dan keyakinan yang aku pegang. Aku ingat bilang ke orang tua, “Bapak dan ibu sudah tidak bisa lagi memaksa aku untuk beribadah sesuai keyakinan bapak dan ibu. Karena itu bukan apa yang aku yakini.”

Waktu aku mau masuk jurusan seni rupa di ITB, keluarga, teman dan komunitasku tanya kenapa nggak coba jurusan lain. Aku nggak mau karena aku sudah punya visi untuk diriku sendiri. Aku mau belajar seni dan nggak ada seorang pun yang bisa mengubah itu.

Aku memang keras kepala dengan apa yang aku mau. Mungkin karena keras kepalanya aku, setiap aku ketemu orang dan aku suka dan mau pacaran, selalu bentrok. Misalnya ada satu mantan aku yang nggak suka aku terlalu banyak baca buku.

M: Ha? (menganga).

A: Ha ha ha. Ya kan? Karena dia ngerasa dicuekin. Kalau aku lagi baca buku, aku memang ‘ngilang’ (tenggelam dalam buku). Aku punya kebiasaan baca buku sebelum tidur. Mantan nggak suka dan aku harus adjust (menyesuaikan diri dengan keinginan dia). Jadinya aku merasa, kok aku ga bisa jadi diri sendiri di hubungan ini?

Ada juga hal lain. Mantan aku orangnya lumayan taat dengan agamanya. Setiap aku main ke rumah dia, aku harus beribadah dengan cara dia. Jadi aku akhirnya harus berpura-pura beribadah sesuai keyakinan dia.

M: Waktu sama Daniel, suami kamu sekarang seperti apa?

A: Kalau sama mantan-mantan yang dulu, rasanya kayak nyetir di Jakarta, udah terbiasa macet, jadi harus berhenti-berhenti. Sama Daniel, rasanya kayak di jalan tol dan nggak ada mobil lain, kayak fung-fung-fung (Annisa menyuarakan mobil yang bebas berlari).

M: Ha ha ha. Daniel?

D: Iya. Semua yang dia jelaskan adalah bagian dari kenapa aku tertarik sama dia, membuat aku nyaman sama dia, dan membuat percaya kita compatible (cocok).

Dalam arti, justru karena dia menolak ekspektasi masyarakat atau keluarga atau orang tua — bukan karena dia rebel (pemberontak), tapi karena dia kenal dirinya sendiri, punya ideologi, prinsip dan nilai-nilai hidup dia sendiri. Di jaman sekarang, orang seperti ini jarang karena banyaknya tekanan sosial. Bukan hanya di Indonesia, di negara lain juga. Tekanan untuk mengikuti ekspektasi masyarakat, kota, lingkungan sekitar, teman-teman.

Annisa selalu imun dari tekanan-tekanan ini. Dia tidak akan membuat sebuah keputusan besar dalam hidupnya hanya berdasarkan alasan demi menyenangkan orang tua saja. 

M: Mari bicara juga tentang apa yang terlihat jelas. Kalian berdua adalah pasangan menikah campuran. Seberapa campuran kalian berdua?

D: Secara obyektif, aku bule atau kaukasia. Annisa berdarah Asia. Aku terlahir Yahudi. Annisa terlahir Muslim. Secara umur kami juga berbeda. Aku dua puluh tahun lebih dewasa dari Annisa.

Kalau kita melihat dari luarnya saja, dari “label-label” ini, ya kita memang mixed marriage (pernikahan campuran). Tapi sesungguhnya aku sendiri punya masalah dengan istilah “pernikahan campuran” karena buatku sebetulnya yang ada hanya “pernikahan” saja. Aku menikah satu kali dan dengan satu perempuan.

A: Uh-um (ekspresi setuju).

D: Buatku ini bukan pernikahan campuran sama sekali. Buatku, Annisa istriku, aku cinta dia, kita sangat rukun. Tentu, tidak ada pernikahan yang sempurna. Tapi buatku, pernikahanku dengan Annisa terasa sempurna.

Kata “campuran” hanya label yang lagi-lagi masyarakat kita pakai ke kami karena etnis atau agama — label yang menempel pada kami ketika kami lahir.

A: Aku ingat waktu kencan ke-dua kita, Daniel tanya apakah aku pernah pacaran sama cowok yang beda agama, atau orang asing. Aku bilang, “Ya, aku pernah kencan sama orang Indonesia yang non-muslim atau orang asing. Tapi nggak ada yang pernah aku bawa ke rumah, nggak pernah serius sampai dikenalin ke orang tua.” Daniel tanya, “Kenapa?”. Aku bilang, “Ya repot kali. Ngapain? Nanti malah jadi berantem. Buat apa? Ujung-ujungnya paling aku bakal nikah sama yang seagama. Atau emang nggak nikah aja, ya udah.”

Daniel bilang, “OK, that’s depressing (itu menyedihkan).” Aku tanya balik kenapa menyedihkan. Daniel jawab, “Kalau orang kayak kamu, anak muda yang punya semua pemikiran liberal dan progresif, berkata seperti itu, pada dasarnya kamu sudah menyerah dari awal. Meski kamu ketemu seseorang yang cocok sama kamu, karena beda latar belakang kepercayaan nggak akan jadi serius. Gitu? Itu kamu sudah membatasi dirimu sendiri.”

Aku saat itu langsung kepikir, “Shit, you’re right” (Sial, kamu benar juga) Ha ha ha. Daniel menantang pemikiran-pemikiranku dari awal hubungan kita.

Menurutku banyak pasangan campuran di Indonesia yang sebenarnya punya pemikiran yang terbuka dan progresif, tapi mereka tetap nggak berani atau nggak mau repot menikahi pacar mereka yang beda agama. Pernikahan kami ini membuktikan bahwa kalau memang punya kemauan untuk menikah beda agama, ya bisa-bisa saja.

D: Alasan kenapa aku tantang pemikiran Annisa tentang nikah beda agama karena aku melihat dia sendiri sebetulnya tidak masalah dengan hal ini. Tapi karena dia sudah merasa bahwa masyarakat dan orang tua tidak akan menerima hubungan ini, dia sudah langsung menyerah dari awal. Kalau memang dari dalam lubuk hati dia, dia merasa penting menikahi laki-laki yang seagama, aku juga nggak akan tantang pemikiran dia.

M: Bagaimana akhirnya kalian bisa menikah meski beda agama?

A: Waktu itu aku umur 26. Orang tuaku sangat khawatir aku belum punya pacar. Buat keluargaku, aku itu the black sheep of the family. Aku dianggap anak aneh yang nggak bisa ditebak. Ketika mereka tahu aku punya pacar, mereka bersyukur sekali ada yang mau sama aku ha ha ha.

Ibuku cukup excited (senang sekali) ketika tahu aku lagi dekat sama seseorang. Terus aku bilang, “Ya, tapi bukan orang Indonesia. Daniel beda agama.”

Terus pelan-pelan aku cerita, “Daniel itu Yahudi”. Dan mereka kaget tapi terbuka untuk diskusi dan akhirnya menerima. Aku dan Daniel cukup beruntung karena ketakutanku bahwa orang tua akan memutus hubungan denganku tidak terjadi. Mereka adalah orang-orang berhati baik yang bisa lenient (melunak). Mereka bisa memutuskan ketika dihadapkan pilihan anak menikah dengan yang seagama, atau melihat anaknya bahagia meski menikah dengan yang beda agama. Mereka lebih memilih melihat aku bahagia daripada memaksakan prinsip mereka.

Tentu dengan berjalannya waktu, mereka jatuh cinta juga dengan Daniel dan mereka mencintai dia seperti anak sendiri sekarang.

D: Aku percaya, terkadang orang berpikir pernikahan beda agama akan jadi masalah besar padahal sebetulnya realitanya tidak selalu demikian.

Orang tua pada dasarnya mencintai anak-anak mereka. Memang ada tipe orang tua yang bisa memutus hubungan dengan anaknya hanya karena anak tidak mendengarkan omongan masyarakat.

Tapi mayoritas orang tua, ketika anak melewati batasan-batasan yang mereka telah tentukan seperti menikah dengan yang sekeyakinan. Ketika anak menikahi pacar yang beda keyakinan, orang tua tidak akan memutus hubungan dengan anak begitu saja. Mereka nggak akan mau kok kehilangan hubungan dengan anak dan cucu mereka. Orang tua itu punya kapasitas besar dalam hati mereka untuk menerima ini.

Ketika aku bertemu dengan orang tua Annisa, aku bertemu dengan orang-orang baik yang menerimaku sebagai manusia. Aku rasa saat itu mereka tidak peduli dengan apa agamaku. Mereka hanya peduli dengan fakta bahwa (1) aku menikmati ngobrol dengan mereka, (2) aku bisa berbahasa Indonesia dan (3) aku peduli dengan budaya dan negara mereka.

Kalau pada saat itu mereka ditanya apakah anak perempuan kalian harus menikahi seorang muslim, mungkin saat itu mereka akan bilang, “Absolutely”(tentu saja). Tapi waktulah yang membuat mereka melihatku hanya sebagai Daniel, laki-laki yang Annisa bawa pulang ke rumah untuk dikenalkan ke mereka. Transisi yang sangat humanis menjadi bagian dari keluarga.

M: Ok. Bagaimana dengan tanggapan keluargamu Daniel ketika kamu serius dengan Annisa?

D: Orang tuaku sudah terbiasa dengan banyak tingkahku. Pacaran sama perempuan beda agama lah, beda kebangsaan. Aku sudah menurunkan ekspektasi orang tua terhadapku sejak lama.

A: Mungkin ekspektasinya sudah minus ha ha ha

M: Ha ha ha

D: Aku sampai pada titik siapa pun yang aku bawa ke rumah untuk ketemu orang tuaku, mereka bakal merasa, “Yay! Ada yang mau sama anak kami!” Mereka hanya mau aku menemukan seseorang untuk bahagia bersama. Kalau dulu, saat aku masih umur dua puluhan, orang tuaku tentu lebih ingin memilih perempuan dengan keyakinan yang sama.

M: Karena dalam budaya Yahudi, mereka berupaya untuk membuat keluarga mereka berdarah Yahudi bukan?

D: Dan Yahudi itu matrilineal, mengikuti agama dari ibunya. Ketika punya istri Yahudi maka akan melahirkan anak anak Yahudi.  Dulu orangtuaku lebih memilih itu sebelum akhirnya mereka putus asa denganku dalam mencari pasangan. Tapi mungkin karena orang tuaku datang dari tradisi barat liberal. Mereka dari Kanada. Jadi, mereka tidak akan pernah nggak menganggapku anak hanya karena menikahi perempuan non Yahudi.

M: Seperti kalian bilang, nggak jarang pasangan di Indonesia nggak jadi nikah karena beda agama, meski mereka sebetulnya saling cinta. Tapi dampak negatif beda agama dalam perkawinan itu benar ada lho. Misal, orang tuaku beragama beda. Ibu muslim, mendiang bapak Katolik. Aku ingat mereka sering tegang dan konflik karena agama. Aku akhirnya tumbuh besar merasa bingung. Apa pemikiran kalian tentang ini?

D: Kamu benar. Salah satu alasan nggak nikah beda agama adalah takut anaknya bingung. Menurutku, dalam kehidupan suami istri, jika salah satu dari mereka menempatkan agama mereka masing-masing sesuatu yang sangat, sangat sentral dalam hidup mereka, ketika mereka berdua sangat rigid (kaku) dengan agama masing-masing dimana agama menjadi bagian dari identitas mereka dalam hidup, maka perbedaan agama bisa menjadi masalah dalam pernikahan ini.

Jika situasinya tidak demikian, banyak yang orang tua bisa ajarkan ke anak seperti bagaimana memiliki pikiran yang terbuka, demokratis, kasih sayang, kecintaan terhadap lingkungan dan lain-lain.

A: Banyak temanku yang berasal dari keluarga beda agama tapi baik baik saja karena orang tua mereka bertanggungjawab. Mereka percaya dengan agama masing masing, tapi fair (adil) dengan pasangan dan anak-anak mereka. Ada anggota keluarga yang boleh punya salib di rumah dan ada juga yang boleh sholat. Boleh mengeskpresikan diri di rumah dan bagi itu dengan anak-anak. Boleh bawa anak-anak ke misa gereja, boleh juga bawa mereka untuk lebaran. Itu fair. Anak-anak jadi bisa memilih kepercayaannya sendiri. Ketika dua orang menikah, mereka adalah tim satu sama lain, melindungi satu sama lain. 

D: Penting untuk mengingat, perspektif dari kultur dimana aku dibesarkan, pernikahan adalah persatuan suami dan istri (atau di negara lain antara suami dan suami, atau istri dengan istri). Tapi yang jelas antara dua orang. Bukan antara dua orang itu dengan mertua mereka atau keluarga besar mereka.

Pernikahan adalah keputusan yang sangat pribadi antara dua orang. Jadi buatku orang di luar itu mau ngomong apa, menerima atau tidak, bukan urusan mereka.

Kita yang setiap pagi bangun tidur di sebelah pasangan kita, bukan orang lain. Kita yang menghadapi pasangan kita di masa senang dan susah. Maka itu orang lain sebaiknya tidak memutuskan apa yang menjadi pilihan hidup kita. Kewajiban kita dalam hidup adalah hidup dengan bahagia dan melakukan apa pun yang membawa kita bahagia dan hubungan yang harmonis dalam pernikahan — hal yang sesungguhnya cukup kompleks dan penuh tantangan.

A: Sangat setuju. Pernikahan itu menciptakan kehidupan sebagai orang dewasa di mana ketika ada masalah antara dua orang, mereka berdualah yang akan memperbaikinya, bukan malah melibatkan orang lain.

Pernikahan itu menciptakan kehidupan sebagai orang dewasa di mana ketika ada masalah antara dua orang, mereka berdualah yang akan memperbaikinya, bukan malah melibatkan orang lain.

M: Adakah konflik karena perbedaan budaya antara kalian berdua? 

A: Nggak juga. Satu masalah perbedaan budaya antara kita berdua terjadi ketika Daniel masak Indomie goreng tapi dijadiin rebus. Aneh banget. 

D: (tersenyum geli mendengarkan komentar istrinya). Ini konflik berkepanjangan kami. Karena buat aku, rasanya sama saja.

M: Kalau kamu Daniel? Adakah konflik karena beda budaya?

D: Malah sebaliknya. Kami membuat kultur baru dalam rumah kami, dalam pernikahan kami. Kami punya hal-hal yang kami suka atau nggak suka. Punya becandaan, kebiasaan, rutinitas bersama. Aku rasa pernikahan makin sehat ketika kita mulai membentuk kultur internal keluarga kita sendiri. Ketika kita percaya diri dengan kultur internal kita, kultur eksternal menjadi tidak terlalu penting.

Aku bisa dengan nyaman merayakan Lebaran di sebuah KBRI misalnya. Tidak ada yang memaksa, hanya karena itu adalah bagian dari budaya Annisa.

Aku rasa pernikahan makin sehat ketika kita mulai membentuk kultur internal keluarga kita sendiri. Ketika kita percaya diri dengan kultur internal kita, kultur eksternal menjadi tidak terlalu penting.

A: (Annisa tersenyum dan mengangguk). Aku pernah menggabungkan lebaran dan makan malam Shabbat. Makan malam Shabbat berlangsung hari Jumat di mana orang Yahudi minum anggur dan berdoa. Saat itu barengan sama Lebaran. Jadi aku pesan makanan-makanan lebaran seperti opor ayam dan ketupat untuk makan malam Shabbat dengan keluarga Daniel. It was fun.

D: Ketika keluargaku mengadakan perayaan keagamaan seperti Bar Mitzvah, Annisa ikut berdoa di sinagoga. Waktu ke Bandung untuk menghadiri pernikahan adik Annisa, aku duduk bersama di pengajian bersama dengan yang lain. Nggak masalah buat kami. Meski kami tidak relijius, kami tetap rangkul budaya keluarga kami masing-masing, bukan karena dipaksa, karena kami saling menghargai saja.

M: Ok. Pun jika sudah mantap mau menikah beda agama, bagaimana caranya?

D: Intinya, jika ada pasangan beda agama yang saling cinta dan mau menikah, selalu ada cara: ke luar negeri. Paling dekat ke Singapura.

A: Nggak perlu ke luar negeri. Bali juga bisa.

D: Atau ke Singapura. Bayar tiket pesawat sekitar 50 dolar dan menikahlah di sana. Ketika kembali ke Indonesia, kamu bisa daftar sipil. Pernikahan kamu legal.

A: Kita sudah bantu berikan konsultasi informal ke banyak pasangan beda agama. Menikah tanpa harus pindah agama dan tetap terdaftar di Indonesia. Bawa surat nikah dari luar negeri ke Indonesia, diterjemahkan oleh penerjemah resmi di Indonesia, kemudian bawa ke disdukcapil. Selama salah satu pasangan punya keluarga yang tinggal dan terdaftardi Indonesia. Aku punya KK (Kartu Keluarga) di Bandung. Aku menikah di Jepang, aku bisa daftarkan pernikahanku di Bandung. Kalau nggak bisa keluar negeri, bisa cek ada beberapa daerah di Indonesia, salah satunya yang paling populer di Bali. Mereka tidak mempersulit di Bali.

D: Pernikahan di luar negeri, kalau sudah sah di luar negeri, sudah didaftar di catatan sipil Indonesia, itu di mata hukum Indonesia sah 100%. Tahu nggak ongkos pernikahan kita di Jepang untuk catatan sipil berapa? Rp 90.000! (700 yen).

M: Thanks infonya. Menurut kalian, apa kunci pernikahan campur yang langgeng?

D: Pernikahan campur atau nggak sama saja. Berbagi values (nilai-nilai hidup) yang sama, cara pandang hidup yang sama. Meski tidak sama persis, selama kita saling menghormati nilai hidup masing-masing dan paham bahwa nilai-nilai hidup ini masih compatible (sesuai) dengan kita. Kalau values-nya bentrok sudah bentrok dari awal, sepertinya percuma dijajaki juga.

A: Aku setuju. Ketika kita bahagia dalam pernikahan, itu akan kelihatan. Aku rasa kita cukup beruntung tidak terlalu banyak konflik dalam pernikahan.

Banyak pasangan yang kalau berantem dikit, langsung diumbar di media sosial atau langsung curhat sama temannya. I don’t think it is wise (aku rasa ini kurang bijak). Ketika kita menikah, yang harus kita sadari adalah sekarang kita satu tim dengan pasangan kita, atau mungkin suatu hari dengan anak kita. Masalah keluarga inti baiknya selalu diselesaikan bersama tim utama dulu sebelum dibagi ke orang lain. Aku rasa ini sangat penting.

Bagaimana kita juga bisa tetap harmonis dengan keluarga besar? Kalau kita bahagia sama pasangan, bagi itu dengan keluarga besar. Buat mereka juga merasakan cinta yang kita rasakan. Kalau lagi nginap di rumah orang tuaku, aku nggak segan cuddly (pelukan) sama Daniel, atau saling puji di depan orang tua. Nggak apa-apa kok menunjukkan kalau kita bahagia. Ngga usah PDA (Public Display Affection) gimana juga. Ketika orang tua melihat betapa bahagia dan saling kepincutnya kita dengan pasangan, siapa sih yang bakal peduli dengan perbedaan ras atau agama? Ketika orang tua mencintai anaknya dan senang melihat mereka bahagia, mereka juga akan bahagia.

Ketika kita menikah, yang harus kita sadari adalah sekarang kita satu tim dengan pasangan kita, atau mungkin suatu hari dengan anak kita. Masalah keluarga inti baiknya selalu diselesaikan bersama tim utama dulu sebelum dibagi ke orang lain.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021