Self Lifehacks

Beranjak Dewasa

Profesi adalah salah satu faktor yang membentuk identitas diri kita. Dari pekerjaan, kita bisa mengenal diri lebih dalam karena banyak pelajaran yang didapatkan selama bekerja. Misalnya aku sebagai penyanyi. Aku belajar banyak tentang komitmen, menjadi open minded, menghargai orang lain, dan belajar untuk terus berusaha melakukan semuanya dengan kerja keras, ikhlas dan berdoa. Aku mengalami begitu banyak hal sejak mulai berkarier di umur 7 tahun. Di usia yang masih kecil, aku merasakan penolakan dari sana sini mulai dari label rekaman hingga manajemen. Sampai akhirnya aku bisa mengeluarkan album bahkan membuat konser. Tapi karena dari awal aku sudah berkomitmen untuk menjadi seorang penyanyi, aku bekerja keras untuk terus berupaya dan tidak pantang mundur. 

Menjadi seorang penyanyi adalah yang aku inginkan, tanpa paksaan dari orang lain. Jadi aku menerima segala konsekuensinya. Aku harus pintar-pintar membagi waktu antara sekolah, pergaulan, dan bekerja. Beruntungnya sejauh ini aku merasa begitu menikmati semuanya. Tidak ada perasaan kehilangan sesuatu atau adanya tekanan. Seringnya, tekanan itu bukan datang dari dalam diri atau orang-orang sekitarku melainkan dari hal-hal yang berasal dari luar. 

Ada kalanya aku merasa seperti tidak diperbolehkan menjadi diri sendiri. Terutama ketika masa transformasiku dari anak-anak ke remaja. Tidak mudah untuk mengubah pandangan publik tentang aku yang tadinya penyanyi cilik lalu beranjak menjadi seorang penyanyi remaja. Aku merasa banyak orang yang tidak bisa menerima aku yang sekarang karena mereka berharap memiliki ekspektasi lebih padaku. Ada yang merasa aku “memaksakan” untuk tampil dewasa sehingga apa seolah-olah aku seperti tidak bisa jadi berekspresi seperti yang aku inginkan. 

Namun, aku tidak mau fokus pada mereka yang memberikan komentar negatif. Aku ingin fokus pada mereka yang memberikan respon positif tentang perubahan identitasku dari anak-anak menjadi remaja ini. Beruntungnya, sedikit demi sedikit aku sudah mulai melihat adanya perubahan dengan orang-orang yang berpikiran terbuka dan menerima diriku yang sekarang. Misalnya dari cara mereka merespon postingan media sosialku. Ada perubahan dari cara merespon mereka ketika aku remaja sekarang. Belakangan aku juga sangat senang diundang ke beberapa acara yang bukan lagi untuk anak-anak. Meskipun belum semua orang bisa menerima transformasiku, tapi sudah banyak yang menyadari bahwa aku beranjak dewasa. Aku bersyukur di lingkungan terdekat pun, mereka tidak menganggapku anak kecil. Rasanya seperti diberi kepercayaan bahwa aku bisa. 

Berkata begini, menurutku sisi anak-anak yang ada dalam diri juga harus tetap aku pertahankan. Sisi anak-anak yang tidak berpikir berlebihan seperti orang-orang dewasa, sisi yang mudah menikmati hidup, tidak membawa semua kesulitan jadi beban hidup, sisi yang bisa menjadi dirinya sendiri. Kita semua perlu untuk tetap mempertahankan sisi anak-anak itu agar hidup tetap seimbang. Agar bisa tetap menikmati hidup layaknya ketika masih anak-anak.

Kita semua perlu untuk tetap mempertahankan sisi anak-anak  agar hidup tetap seimbang. Agar bisa tetap menikmati hidup layaknya ketika masih anak-anak.

Di sisi lain jika membicarakan soal menjadi dewasa, menurutku seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia harus menyadari porsi diri di setiap lapisan lingkungan, berpikir kritis tentang apa yang terjadi, dan bergerak menuju keseimbangan di mana ia sadar akan pentingnya kestabilan mental dan pikiran. Aku beruntung memiliki orang tua yang selalu membuatku dan adik berpikir kritis. Banyak sekali wejangan dari mereka untuk aku yang beranjak dewasa ini. Mereka selalu bilang jangan sampai aku merugikan orang lain atau diri sendiri, aku juga harus melakukan semuanya dengan hati dan kerja keras. Apapun yang ingin dilakukan baiknya dipikirkan matang-matang dan jangan membuat keputusan di saat emosi tidak stabil. Pada akhirnya, aku harus memahami apa yang baik atau buruk untuk diri sendiri. 

Menurutku seseorang yang dewasa adalah seseorang yang tidak memikirkan dirinya sendiri.

Aku juga selalu ingat ajaran kakek-nenek yang bilang bahwa kalau ada masalah besar sebaiknya dibuat kecil dan masalah kecil dibuat tidak ada. Menurut mereka, masalah besar terjadi karena kita sering mengesampingkan masalah-masalah kecil. Jadi sebenarnya setiap masalah harus diselesaikan dengan bijaksana, salah satunya dengan membicarakan masalah dengan orang yang bersangkutan dan membuka komunikasi dua arah. Apabila masalah itu sudah “mengecil” janganlah dianggap masalah lagi. 

Bicara soal kedewasaan, aku percaya itu bisa tumbuh dari mana saja. Dari hubungan kita dengan orang tua, saudara, adik, teman, sahabat, pasangan, bahkan dari sebuah masalah. Dari pasangan, contohnya. Tiap hubungan pasti melibatkan dua orang dan kita tidak bisa selalu berhubungan dengan seseorang yang sudah pasti sesuai dengan keinginan kita. Kita baru bisa berjalan bersama jika kita tumbuh bersama dengan tidak membatasi kebutuhan pribadi masing-masing. 

Di sanalah kedewasaan bisa tumbuh yaitu bagaimana kita bisa menjaga hubungan dengan pasangan dan dengan orang lain di setiap aspek hidup. Kita harus tahu porsi dan skala prioritas dalam mengatur waktu maupun dalam menurunkan ego. Kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dimana pun dan kapan pun dan upaya untuk menjadi diri yang lebih baik adalah upaya untuk menjadi dewasa. Hal-hal seperti ini juga yang diajarkan kedua orang tuaku. Mereka seringkali mengingatkan agar aku tidak menjadi orang yang egois, mementingkan diri sendiri, dan bisa mengatur waktu dengan baik antara pacar, keluarga, teman dan karier. 

Kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dimana pun dan kapan pun dan upaya untuk menjadi diri yang lebih baik adalah upaya untuk menjadi dewasa.

Related Articles

Card image
Self
Tinggal Dalam Pluralisme

Keberagaman berpotensi memiliki dampak negatif dan positif. Pertama, membuat masyarakat yang tinggal dalam keberagaman memiliki toleransi tinggi. Tapi di satu sisi lain bisa membuat sebagian menjadi etnosentris, atau masyarakat yang cenderung memiliki sikap dan pandangan yang berpangkal pada budayanya sendiri.

By Wisnu Ikhsantama
17 April 2021
Card image
Self
Menilai Kesalahan

Takaran kesalahan setiap orang pasti berbeda-beda. Akan tetapi, menurutku pribadi kesalahan bisa diartikan jika kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain atau diri sendiri. Sebuah tindakan yang melewati batas-batas aturan tertentu.

By Ghaniyya Ghazi
17 April 2021
Card image
Self
Microflow: Menikmati Hal-Hal Sederhana

Saat masa pandemi ini, banyak orang mengeluh betapa bosannya mereka. Banyak aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menonton drakor berseri, membaca buku, bahkan memiliki hobi baru. Bisa jadi aktivitas tersebut memang menghilangkan kejenuhan kita, di satu sisi bisa jadi hal tersebut hanya pengalihan sementara. Bagaimana sebenarnya berdamai dengan situasi seperti ini? 

By Dr. Clara Moningka
17 April 2021