Self Lifehacks

Berani Membuka Diri

Vidi Aldiano

@vidialdiano

Musisi

Fotografi Oleh: Nafhan Nurul

Sebuah budaya memang untuk kita berhati-hati dalam angkat bicara mengenai suatu informasi. Apalagi jika informasi tersebut dapat melukiskan sebuah gambaran khusus tentang kepribadian kita yang mungkin saja berpengaruh pada karir. Sebagai seorang figur publik tentu saja ini yang saya percaya. Menjaga baik-baik apa yang akan saya ungkapkan di depan khalayak adalah salah satu tugas. Ini yang saya percaya selama ini sehingga ternyata hal tersebut memberikan pengaruh pada kehidupan pribadi. Saya menjadi seseorang yang enggan terbuka, membicarakan sesuatu yang personal dengan orang lain bahkan orang-orang terdekat.

Hanya saja semua itu berubah kala saya mengalami peristiwa harus berakhir di UGD (Unit Gawat Darurat) karena Kecemasan Akut yang saya diderita. Ternyata selama ini saya mengindahkan gejala-gejala penyakit tersebut. Saya tidak pernah menganggap serius masa-masa saya sering mengalami sesak napas dan merasa sedih berlebihan. Saya pikir hanya lelah. Awalnya memang tidak pernah berdampak pada fisik sehingga tidak pernah mengganggu pekerjaan. Namun ketika pada akhirnya fisik pun merasakan gangguannya inilah yang menjadi tanda bahwa ada yang salah dengan kondisi jiwa.

Jujur, awalnya saya sangat skeptis pengakuan saya tentang penyakit anxiety ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Seperti yang kita tahu banyak orang di Indonesia masih memandang sebelah mata aspek psikologi. Banyak orang yang menyudutkan mereka yang menderita penyakit kejiwaan. Tapi ternyata tidak. Semenjak terbuka akan kesulitan saya ini justru semakin banyak orang yang memberikan respon positif. Terutama orang-orang terdekat saya. Ternyata mereka yang berada dalam lingkaran saya pun pernah merasakan pengalaman yang sama. Tapi karena masalah tersebut sangat personal dan tidak biasa dibicarakan kami pun luput mendiskusikannya.

Selain pengaruh lingkungan tinggal di tengah hiruk pikuk kota sebenarnya banyak sekali penyebab seseorang mendapati dirinya berada dalam kecemasan berlebihan. Salah satunya adalah ketika kita sudah mengalami gejalanya kita tidak langsung mencari bantuan profesional. Fenomena yang terjadi banyak generasi muda yang sudah sadar akan masalah ini namun mereka mendiagnosa diri sendiri hanya lewat literasi saja. Padahal dengan demikian mereka justru bisa menambah permasalahan. Justru bahaya bukan jika sebenarnya seseorang hanya mengidap satu jenis penyakit namun dia menduga memiliki tiga jenis penyakit lainnya kemudian menambah pikiran negatif karena menduga dirinya memiliki penyakit kejiwaan sebanyak itu? Itulah mengapa penting juga untuk kita segera mencari pertolongan profesional apabila memang merasakan gejalanya.

Penting untuk kita segera mencari pertolongan profesional apabila memang merasakan gejala penyakit kejiwaan.

Setelah kita mengetahui bahwa memang kita memiliki permasalahan tersebut sebenarnya banyak cara untuk mengatasinya. Tidak hanya menenggak obat atau berbicara pada para praktisi saja. Utamanya, kita harus memahami bahwa yang paling bisa menyembuhkan diri adalah diri kita sendiri. Yang lain hanyalah medium. Saya sendiri menggunakan metode berdialog dengan diri sendiri di mana saya berusaha berdamai dengan masalah dan berusaha memaafkan diri sendiri. Tapi tetap yang harus kita ingat adalah setiap orang punya perjalanannya sendiri sehingga apa yang baik untuk saya belum tentu baik untuk orang lain. Meskipun begitu penting sekali untuk kita mengakui kalau kita punya masalah. Itulah langkah awal untuk sembuh. Luangkan waktu untuk berada dalam satu ruang sendirian lalu akuilah pada diri sendiri bahwa kita menyadari ada masalah.

Utamanya, kita harus memahami bahwa yang paling bisa menyembuhkan diri adalah diri kita sendiri.

Sesaat menyadari adanya masalah saya pun baru tahu bahwa banyak sekali orang yang tidak bisa menceritakan masalahnya pada orang lain. Tidak semua orang ternyata memiliki teman atau orang yang bisa dipercaya untuk mendengar dan menerima kita satu paket dengan masalah yang sedang dihadapi. Ini pula yang menyadarkan saya betapa pentingnya terbuka pada orang lain. Sekarang ini banyak cara untuk meluapkan keruwetan yang mengganjal dalam hati dan pikiran. Segelintir komunitas yang menawarkan untuk mendengarkan cerita kita secara cuma-cuma pun sudah bermunculan. Kita bisa merasa lebih lega setelah mengungkapkan kegundahan hati meski mereka adalah orang asing yang tak kita kenal. Kemudian saat mendengarkan cerita mereka pun kita akan merasakan proses penyembuhan karena ternyata mendengarkan dapat menciptakan refleksi diri.

Penting sekali untuk kita mengakui kalau kita punya masalah. Itulah langkah awal untuk sembuh.

Setiap orang memiliki skala yang berbeda dalam merasakan satu masalah. Itulah yang perlu diingat. Kita tidak bisa membandingkan bagaimana orang lain merasakan masalah kita begitupun sebaliknya. Mungkin permasalahan saya terlihat kecil di mata orang lain tetapi bagi saya sangat besar. Ini juga bukan berarti selama ini saya tidak bahagia. Banyak orang yang selalu terlihat bahagia namun ternyata mengalami depresi karena satu persen saja ketidakbahagiaan hadir di hidup kita 99 persen kebahagiaan yang dirasakan bisa saja sirna. Sehingga kita tidak bisa mengukur seseorang itu jauh lebih bahagia atau tidak dari orang lainnya.

Setiap orang memiliki skala yang berbeda dalam merasakan satu masalah.

Untuk keluar dari kemelut kecemasan kita harus memahami seberapa besar keinginan kita untuk menjadi lebih baik. Nantinya akan hadir penawar-penawar terbaik untuk sembuh. Sekarang ini saya berusaha untuk lebih menghidupi masa sekarang. Dulu saya lebih banyak disibukkan dengan apa yang belum terjadi. Stres dengan masa depan dan terkadang terkubur dalam masa lalu. Kini saya lebih mendengarkan tubuh saya sendiri. Jika tubuh saya merasa sedang lelah dan memang harus meminum obat ya saya harus melakukannya. Tidak memaksakan kehendak. Berusaha sebisa mungkin tidak menyangkal kebutuhan diri. Sehingga definisi kebahagiaan bagi saya pun berubah. Merasa bahagia itu adalah masa di mana kita merasa cukup dengan apa yang dimiliki sekarang, bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Itu juga yang membuat saya lebih menghargai diri saya sendiri.

Untuk keluar dari kemelut kecemasan kita harus memahami seberapa besar keinginan kita untuk menjadi lebih baik.

Related Articles

Card image
Self
Tantangan Meregulasi Emosi

Pada dasarnya bukan emosi yang membuat kita melalui turbulensi perasaan melainkan cara kita menafsirkan emosi sehingga kita merasa tidak sanggup menoleransi emosi yang dirasakan. Intensitas emosi yang kita rasakan bisa dipengaruhi berbagai hal seperti trauma masa kecil atau kondisi fisik yang sedang memburuk. Kondisi-kondisi ini dapat memperparah situasi, ditambah dengan regulasi emosi yang belum optimal.

By David Irianto
11 September 2021
Card image
Self
Mengapresiasi Setiap Kehadiran

Memang lebih rumit rasanya untuk bisa menghabiskan waktu bersama orang terdekat terutama teman dan sahabat belakangan ini. Aku sendiri sebisa mungkin berusaha untuk tetap menjalin hubungan dengan menanyakan kabar teman-temanku melalui aplikasi chat ataupun video call. Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa rindu berkumpul bersama teman-teman memang semakin terasa terutama saat masa PPKM mulai diberlakukan. 

By Amindana Chinika
11 September 2021
Card image
Self
Musik Sebagai Medium Bercerita

Apapun yang kita lalui dalam hidup entah itu sangat menyiksa atau sangat membahagiakan, melalui musik kita selalu dapat menyajikannya menjadi sesuatu yang indah. Musik mampu menghantarkan kejadian yang sangat buruk sekalipun menjadi sesuatu karya yang menawan. Sekelam apa pun pengalaman yang kita rasakan, aku percaya itu tetap bisa disampaikan dari perspektif yang artistik. 

By FLØRE
11 September 2021