Self Lifehacks

Berani Jadi Diri Sendiri

Proses manusia menjadi diri sendiri tentunya akan berbeda-beda. Terkadang jalannya bisa amat berliku dan penuh perjuangan. Aku sendiri mengalami perjalanan berliku itu. Proses aku berani mengungkapkan jati diri harus melewati berbagai keraguan, dan penyangkalan yang melibatkan beribu pertanyaan. Bahkan dalam prosesnya, orang-orang terdekat seperti orang tua, juga sempat tidak menerima apa adanya aku. 

Hidup di Indonesia dengan orientasi seksual yang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya tidaklah mudah. Apalagi jika dikaitkan pada agama. Dulu aku pun merasa dihantui oleh kepercayaan dalam agama bahwa itu adalah dosa. Belum lagi aku harus dihadapkan dengan orang-orang yang tidak bisa menerima jati diriku. Beberapa teman yang tadinya sahabat dekat meninggalkanku karena mungkin mereka terkejut dan merasa belum siap menerima jati diriku. Begitu juga saat orang tuaku tahu. Tidaklah mudah untuk mereka menerimaku. Bahkan mereka pernah di fase berusaha untuk “meluruskan” jalanku. Salah satunya adalah mengajak ke terapi konversi. Tapi ternyata justru mereka yang diberikan edukasi dan dibimbing oleh psikiater karena perbedaanku ini bukanlah sebuah penyakit. 

Masa-masa “gelap” itu pun akhirnya berlalu. Lambat laun, orang tuaku tidak lagi berupaya untuk menyangkal jati diriku. Sepertinya mereka melihat bahwa sejauh aku bisa menjadi orang yang baik, tidak pernah melakukan tindak kriminal, bahkan masih menjaga komunikasi dengan mereka serta menghargainya sebagai orang tua, itulah yang terpenting. Bahkan, mama pernah bilang bahwa dia lebih takut kehilangan aku sebagai anaknya ketimbang harus berusaha “meluruskan” jati diriku sesuai yang mereka harapkan. 

Semakin hari, aku semakin meyakini bahwa “it’s okay to be you”. Di setiap agama juga sebenarnya mengajarkan kita untuk berbuat baik dan itulah yang aku pegang hingga saat ini. Yang penting aku berupaya untuk menjadi orang yang baik pada semua orang dan tidak merugikan mereka. I just want to be me. Jadi, kenapa harus memaksakan diri tidak jadi diri sendiri atau menyembunyikan diriku sendiri? 

Semakin hari, aku semakin meyakini bahwa “it’s okay to be you”.

Meskipun begitu, aku tahu masih banyak teman-teman yang mungkin mengalami hal serupa denganku dan belum berani untuk mengungkapkan jati dirinya. Aku adalah orang yang beruntung karena orang tua dan lingkungan terdekatku sudah mengetahui sehingga tidak ada yang perlu aku sembunyikan. Tapi banyak orang di luar sana yang mungkin takut terbuka karena masih ada berbagai ancaman yang mungkin didapatkan dari berbagai pihak. Mungkin sekarang yang bisa dilakukan adalah menerima diri sendiri terlebih dahulu. Mau terbuka atau tidak, itu akan tergantung dengan situasi atau kondisi nanti. Akan selalu ada konsekuensi atas segala keputusan yang kita ambil nantinya.

Mungkin sekarang yang bisa dilakukan adalah menerima diri sendiri terlebih dahulu.

Keterbukaanku ini mungkin bisa diterima oleh orang-orang terdekatku. Tapi tidak untuk banyak pihak di masyarakat. Sebagai kreator konten, aku tidak berusaha untuk mempromosikan jati diriku yang “berbeda” dengan kebanyakan orang. Aku hanya ingin dilihat sebagai seorang kreator konten memasak. Sayangnya, masih banyak yang melontarkan komentar pedas, menilai aku sebagai orang yang berdosa dan merasa tempatku bukanlah di Indonesia. Sejauh ini, aku juga telah kehilangan banyak followers di media sosial karena berani mengungkapkan jati diri. Kalau boleh jujur, ada masa aku merasa cukup terpukul. Apalagi angka-angka statistik dalam media sosial sangatlah berpengaruh pada pekerjaanku. Tapi, aku mengerti bahwa ada yang tidak bisa menerima dan tidak masalah. Aku mencoba untuk tetap menjadi diri sendiri dan YOLO (You Only Live Once). 

Biasanya, ketika mendapatkan komentar-komentar negatif, aku memberikan waktu sejenak untuk diri sendiri. Menarik diri dulu sebentar dari segala kericuhan kemudian berusaha fokus pada hal-hal positif seperti ngobrol dengan orang-orang yang ada di lingkaran terdekat, atau sekadar makan hidangan yang aku suka. Lalu diikuti dengan berusaha fokus produktif berkarya lagi. Besar harapanku, ke depannya eksistensi aku sebagai umat manusia, dan warga Indonesia yang lahir dan besar di negara ini, bisa dilihat. Di sini aku tidak pernah berniat untuk menyakiti diri sendiri. Aku hanya ingin menjadi diri sendiri dan tetap berada di negara ini karena Indonesia adalah rumahku juga. 

Related Articles

Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024
Card image
Self
Melihat Dunia Seni dari Lensa Kamera

Berawal dari sebuah hobi, akhirnya fotografi menjadi salah satu jalan karir saya hingga hari ini. Di tahun 1997 saya pernah bekerja di majalah Foto Media, sayang sekali sekarang majalah tersebut sudah berhenti terbit. Setelahnya saya juga masih bekerja di bidang fotografi, termasuk bekerja sebagai tukang cuci cetak foto hitam putih. Sampai akhirnya mulai motret sendiri sampai sekarang.

By Davy Linggar
04 May 2024