Self Lifehacks

Belajar Berbagi dan Merelakan

Setiap orang punya cara pandang sendiri mengenai berbagi terhadap sesama. Menurutku pribadi semua orang sudah diberi kesempatan dan kemampuan untuk berbagi. Berbagi juga bukan hanya soal harta, misalnya dengan kita diberikan kesehatan kita bisa berbagi dengan menjadi relawan saat bencana alam terjadi. Pada akhirnya berbagi tidak hanya berbicara tentang uang tetapi juga waktu yang kita miliki dan lain sebagainya. Keinginan untuk berbagi harus datang dari hati kita, karena berbagi juga bukan hanya tentang kita dan orang yang kita bantu melainkan juga hubungan kita dengan Tuhan.

Keinginan untuk berbagi harus datang dari hati kita, karena berbagi juga bukan hanya tentang kita dan orang yang kita bantu, melainkan juga hubungan kita dengan Tuhan.

Kebiasaanku untuk ikut serta dalam aktivitas sosial sebenarnya tidak lepas dari pengaruh orang tua. Sebelum menikah mereka juga sudah rutin melakukan kegiatan sosial, otomatis akhirnya ini juga turut ditanamkan saat mereka sudah punya anak. Aku pribadi sudah diajak untuk melakukan kegiatan sosial bahkan sebelum aku mengerti apa-apa. Sedari kecil orang tuaku menanamkan bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga harus berguna bagi orang lain. Kalau kita sudah memegang prinsip ini kita sudah tahu kalau berbagi akhirnya sudah jadi bagian dari hidup. 

Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga harus berguna bagi orang lain. Kalau kita sudah memegang prinsip ini, kita sudah tahu kalau berbagi akhirnya sudah jadi bagian dari hidup. 

Terbiasa mengikuti kegiatan sosial tanpa sadar aku pun menikmati kegiatan tersebut dan akhirnya menjadi passionku. Di usia 10 tahun aku juga pernah berkeinginan untuk bisa membangun yayasan aku sendiri. Saat itu aku akhirnya baru boleh memiliki handphone dan aku melihat iklan Instagram tentang tentang orang-orang yang sakit dan akhirnya harus menjadi korban. Kala itu Mama merasa aku masih terlalu muda dan menyarankan aku untuk ikut di yayasan keluarga saja, tapi aku ingin mengelola yayasan sendiri karena aku ingin lebih aktif didalamnya. Akhirnya keinginan aku ini terwujud secara resmi di tahun ini.

Dalam waktu dekat juga aku dan yayasan yang aku kelola berencana untuk membuat seminar atau penyuluhan mengenai pernikahan dini. Berdasarkan pengalaman dan informasi yang aku dapat kemarin saat aku berkesempatan datang ke Manado bersama dengan Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ternyata di daerah pedesaan masih banyak ditemukan kasus pernikahan dini. Untuk itu aku ingin mengadakan penyuluhan di salah satu desa di Manado agar bisa setidaknya mencegah pernikahan dini bagi anak-anak di bawah umur.

Aku memang suka bernyanyi sejak kecil tapi aku sangat pemalu, sampai akhirnya aku berbincang bersama Mama. Waktu itu Mama bilang, “Shannon kamu dikasih talenta sama Tuhan dan dari talenta ini suatu hari kamu bisa bantu banyak orang,”

Mama juga cerita bawa ada banyak orang yang masih kekurangan, tidak bisa melanjutkan pendidikan karena biaya atau bahkan tidak bisa makan tiga kali sehari. Setelah mendengar cerita dari Mama dan juga berkesempatan untuk melihat langsung aku berpikir kalau memang ini alasan kenapa aku bisa menyanyi, then I will fight for it. Aku juga akhirnya mulai karir menyanyiku dari umur 9 tahun dengan menyanyikan lagu-lagu nasional. Alasan utamanya adalah karena orang tua aku tidak ingin aku menyanyikan lagu yang tidak sesuai dengan usia seperti lagu cinta, sekaligus juga menumbuhkan rasa cinta tanah air dalam diri. Di saat awal mulai menyanyi kita juga tidak pernah menyangka akan berada di titik ini, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik dan juga selalu berdoa sebelum bernyanyi.

Manusia pada dasarnya memang punya limit, kita tidak bisa berpegang pada sesuatu atau seseorang selamanya karena hanya Tuhan yang bisa melakukan hal itu.

Akhirnya bulan lalu aku mendapatkan kesempatan untuk merilis single perdana aku yang berjudul “Rela”. Lagu ciptaan Aunty Melly Goeslaw ini menceritakan rasa kehilangan kita terhadap seseorang dalam hidup yang harus pergi tanpa berpamitan. Menurutku kita semua bisa setuju bahwa merelakan bukan hal yang mudah. Tapi realitas di dunia ini baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, lemah atau kuat, pasti suatu hari kita sebagai manusia akan merasakan kehilangan. Manusia pada dasarnya memang punya limit, kita tidak bisa berpegang pada sesuatu atau seseorang selamanya karena hanya Tuhan yang bisa melakukan hal itu. Baiknya kita terima dan merelakan. Bahasa cinta terindah atas kehilangan seseorang yang kita cintai adalah merelakan.

Bahasa cinta terindah atas kehilangan seseorang yang kita cintai adalah merelakan.

Dalam proses merelakan pasti ada rasa sakit, sedih, dan lain sebagainya, tapi menurutku memang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Sebenarnya dengan menolak perasaan yang ada kita malah akan menyiksa diri kita sendiri. Kalau memang seseorang tersebut sudah tidak ada, ya memang tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Menurutku walaupun proses merelakan yang dijalani akan lama tapi itu juga demi kebaikan kita sendiri. Cara setiap orang saat mengalami kesulitan akan selalu berbeda. Setiap kali merasa down aku memastikan untuk berdoa dan membaca kitab suci, karena setiap kali berdoa aku selalu merasa lebih tenang, Ini adalah cara yang paling efektif buatku untuk bisa bangkit lagi.

Dalam proses merelakan pasti ada rasa sakit, sedih, dan lain sebagainya, tapi menurutku memang tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Sebenarnya dengan menolak perasaan yang ada kita malah akan menyiksa diri kita sendiri.

Related Articles

Card image
Self
Membentuk Rutinitas Dengan Journaling

Kita semakin terbiasa mencatat apa pun di handphone. Namun masih banyak individu yang merasa lebih nyaman untuk mencatat atau menulis di buku menggunakan pulpen. Kegiatan ini, termasuk journaling sebenarnya dapat melatih ingatan kita. Dengan menulis menggunakan tangan, otak kita dapat dengan lebih mudah mengingat apa yang dicatat.

By Greatmind X The Self Hug
15 January 2022
Card image
Self
Live Optimally: 25 Jam dalam Sehari

Sering kali 24 jam dalam sehari rasanya tidak cukup. Bisa jadi karena pekerjaan kita yang terlalu banyak, kemampuan kita yang kurang efisien untuk menggunakan waktu, atau karena kita terkadang suka memprioritaskan hal yang salah. Apa pun alasannya, it seems so hard to make friends with time.

By Rama Satya
15 January 2022
Card image
Self
Menentukan Prioritas dalam Tujuan

Salah satu ajaran dari keluargaku adalah hidup harus jelas, kita harus punya tujuan apa yang ingin dilakukan di masa depan. Kemudian tujuan tersebut dibagi untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara umum, aku merasa mulai butuh menentukan tujuan mulai dari SMA. Saat SMA kita harus mulai menentukan jurusan kuliah yang kita suka karena akan berhubungan dengan karir kita dalam jangka panjang.

By Nadhira Afifa
15 January 2022