Self Work & Money

Bekerja Seimbang

Fotografi Oleh: Aliyya Asra

Berbicara mengenai desain yang baik, kita terlebih dahulu harus melihat konteks dan tujuan dari desain tersebut. Tidak ada parameter yang tetap dan ia akan selalu berubah-ubah sesuai dengan konteksnya. Apabila sebuah desain memiliki tujuan komersial, maka desain yang dibuat harus mampu menjadi “komersial”, baik dari bahasanya maupun cara penyampaiannya. Di sisi lain, apabila tujuan dari sebuah desain adalah untuk keperluan publikasi atau editorial, apa yang disebut “baik”, tentu perlu dinilai dari susunan konten, sudut pandang berbicara, tata letak, dan aspek-aspek desain yang lainnya. Lain halnya dengan desain sebuah pameran, yang biasanya memiliki kecenderungan untuk menjadi lebih ekspresif, agar mampu “menarik perhatian”, baik secara eksplisit maupun implisit. Secara umum, setiap desain harus sesuai dengan konteks dimana desain itu berada. Ia harus dapat berkomunikasi, berpandangan, dan berekspresi sesuai pada ruangnya.

Terkait dengan proses kreatif di balik sebuah desain, sebagai pemilik dan pengarah kreatif dari desain studio Each Other Company, kami selalu memulainya dari research dan pembelajaran kasus. Langkah research dan pembelajaran kasus ini perlu dilaksanakan guna memahami konteks dari suatu pekerjaan, mendapatkan insights,  yang kemudian dapat dijadikan sebagai acuan untuk pengembangan gagasan dan konsep desain, baru kemudian memasuki tahap eksekusi atau implementasi desain. Untuk pekerjaan desain yang bersifat komersial, biasanya akan ada negosiasi dengan klien atau komisioner dari pekerjaan tersebut. Di tahapan negosiasi inilah, gagasan dan hasil implementasi desain kami akan diuji “kecocokannya” terhadap tujuan klien, dan sangat wajar untuk terjadi penyesuaian atau kompromi terhadap desain itu sendiri. Dalam pekerjaan-pekerjaan desain komersial seperti ini, hal yang terpenting adalah bagaimana desainer dapat memahami konteks klien—baik produk dan pasarnya—dan bernegosiasi, baru kemudian sebuah desain dapat dipoles lebih lanjut sesuai dengan “idealisme” atau gaya sang desainer, yang sifatnya komplementer, atau harus dapat saling mengimbangi. Disitulah letak keahlian dan profesionalisme seorang desainer diuji.

Bekerja di kota besar, dengan ritme kerja yang cepat dan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki tuntutan deadline tertentu, mudah bagi kita untuk merasa penat dan overwhelmed dengan banyaknya faktor-faktor eksternal yang tidak dapat kita kontrol sendiri. Untuk tetap menjaga “keseimbangan”, ada kalanya perlu suatu kegiatan yang memang dikerjakan untuk mengimbangi pekerjaan-pekerjaan komersial tadi, sebagai pemenuhan kebutuhan diri atau sekedar keluar sejenak dari rutinitas industri dan menjaga jarak. Oleh karenanya, sebagai penyeimbang, saya pun mengembangkan beberapa proyek inisiatif, dimana saya dapat benar-benar menggali suatu pokok bahasan dengan dalam, tanpa banyaknya intervensi dari pihak luar.

Beberapa proyek internal yang berada di bawah arahan Each Other Company, antara lain adalah Further Reading, Other Review dan Mystery Cinema Club. Secara singkat, Further Reading merupakan sebuah platform penerbitan multi-format yang berfokus dan bertujuan untuk memfasilitasi diskursus desain. Di sisi lain, Other Review, merupakan kumpulan intisari yang menyoroti proses dan gagasan desain dari sejumlah figur atau entitas yang membentuk industri desain di sekitar kita. Sementara Mystery Cinema Club, memiliki konsep  pemutaran film secara “misterius”, dimana penonton tidak mengetahui film apa yang akan diputar dan dimana lokasi pemutarannya film tersebut, hingga kami mengumumkannya 1–2 hari sebelum jadwal pemutaran.

Bila ditarik benang merahnya, proyek-proyek inisiatif desain tersebut berasal dari kebutuhan kami akan apa yang dirasa masih kurang dikembangkan, namun sangat dibutuhkan dalam kaitannya dengan pengembangan disiplin ilmu (desain) dan industri, serta apa yang menjadi ketertarikan pribadi kami masing-masing. Misalnya saat kami merasa terdapat gap antara dunia pendidikan dan industri desain, kami berinisiatif untuk memulai Further Reading dan Other Review sebagai referensi atau rujukan informasi dan pengembangan pengetahuan seputar desain dan industri.

Intinya, pekerjaan produktif (komersial) dan reproduktif (inisiatif) idealnya berjalan beriringan. Apa yang saya coba lakukan adalah, mencoba membagi porsi pekerjaan komersial dan proyek-proyek inisiatif secara “seimbang”. Bila dari pekerjaan-pekerjaan komersial banyak negosiasi dan kompromi yang harus dilakukan, maka melalui proyek-proyek inisiatif inilah eksplorasi gagasan dapat lebih digali secara matang dan diekspresikan secara lebih total. Dengan cara inilah, keseimbangan antara menjalankan pekerjaan produktif (komersial) dan reproduktif (inisiatif), mungkin, dapat tercapai.

Related Articles

Card image
Self
Perbedaan dalam Kecantikan

Perempuan dan kecantikan adalah dua hal yang tidak akan pernah terpisahkan. Cantik kini bisa ditafsirkan dengan beragam cara, setiap orang bebas memiliki makna cantik yang berbeda-beda sesuai dengan hatinya. Berbeda justru jadi kekuatan terbesar kecantikan khas Indonesia yang seharusnya kita rayakan bersama.

By Greatmind x BeautyFest Asia 2024
01 June 2024
Card image
Self
Usaha Menciptakan Ruang Dengar Tanpa Batas

Aku terlahir dalam kondisi daun telinga kanan yang tidak sempurna. Semenjak aku tahu bahwa kelainan itu dinamai Microtia, aku tergerak untuk memberi penghiburan untuk orang-orang yang punya kasus lebih berat daripada aku, yaitu komunitas tuli. Hal ini aku lakukan berbarengan dengan niatku untuk membuat proyek sosial belalui bernyanyi di tahun ini.

By Idgitaf
19 May 2024
Card image
Self
Perjalanan Pendewasaan Melalui Musik

Menjalani pekerjaan yang berawal dari hobi memang bisa saja menantang. Menurutku, musik adalah salah satu medium yang mengajarkanku untuk menjadi lebih dewasa. Terutama, dari kompetisi aku belajar untuk mencari jalan keluar baru saat menemukan tantangan dalam hidup. Kecewa mungkin saja kita temui, tetapi selalu ada opsi jalan keluar kalau kita benar-benar berusaha berpikir dengan lebih jernih.

By Atya Faudina
11 May 2024