Self Lifehacks

Arti Sukses yang Sebenarnya

Daniel Mananta

@vjdaniel

Pembawa Acara

Fotografi Oleh: Glenn Franklin

Definisi sukses bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Tapi bagi gue kesuksesan adalah tentang keseimbangan. Tentang bagaimana kita bisa menemukan keseimbangan baik di aspek keluarga, spiritual, kesehatan, pekerjaan, maupun finansial. Saat hidup sudah mulai tidak seimbang akan ada yang kita korbankan. Misalnya begini, ada seorang ayah yang sangat kaya tapi dia tidak punya waktu untuk keluarga. Akhirnya ketika tua dia sendirian tidak ada anak-anaknya yang menemani. Kenapa? Karena anak-anaknya mencontoh dia untuk bekerja mati-matian sampai akhirnya di saat dewasa tidak punya waktu juga untuk ayahnya. Tapi memang arti sukses itu harus dilengkapi dengan passion. Passion di sini adalah hal yang kita bersedia lakukan bahkan jika tidak dibayar. Kesuksesan itu kemudian akan tergambar ketika passion tersebut ternyata diberikan harga oleh orang lain. Akan tetapi tetap saja passion pun harus kembali pada konsep keseimbangan tadi. Jangan sampai menuhankan passion sampai kehilangan keseimbangan di aspek lain dalam hidup.

Namun memang makna kesuksesan itu kadang bisa sulit sekali dimaknai. Terutama ketika kita terjebak dalam comparison trap yaitu jebakan membandingkan diri kita dengan orang lain. Seperti di Harvard, banyak sekali mahasiswa yang belajar di universitas tersebut merasa tidak layak berada di sana. Merasa tidak seberbakat, sepintar, atau sekaya itu untuk belajar di sana. Inilah yang disebut dengan impostor syndrome yakni sebuah penyakit psikologis yang membuat kita meragukan kemampuan diri. Tidak hanya terjadi di negeri nun jauh di sana saja. Di negara kita pun tidak kalah banyaknya orang yang merasa kurang dari orang lain. Apalagi dengan budaya rendah diri yang seakan menuntut kita untuk menjadi orang yang tidak boleh mengakui kemampuan diri sendiri. Memang mungkin ada salah satu faktor dari diri kita yang kurang dari seseorang sehingga membuat kita terlihat kalah jika membandingkan satu faktor itu saja. Seharusnya bila mau membandingkan, bandingkanlah satu kemasan diri kita karena sebenarnya pasti tetap bisa disejajarkan. Setiap orang harus menilai dan melihat ke dirinya sendiri lebih dalam untuk menemukan apa yang dia punya dan orang lain tidak.

Setiap orang harus menilai dan melihat ke dirinya sendiri lebih dalam untuk menemukan apa yang dia punya dan orang lain tidak.

Untuk memahami arti kesuksesan juga butuh proses dan kesadaran bahwa itulah momen sukses kita. Sejatinya kita tidak pernah bisa menduga apa yang direncanakan Tuhan untuk hidup kita. Gue dulu juga tidak pernah berencana menjadi seorang produser. Awalnya sekadar coba-coba di film pertama yang gue produksi. Berjudul Killers, film tersebut diprakarsai oleh para sineas yang luar biasa di mana gue percaya film tersebut bisa menghasilkan sesuatu. Benar saja, Killers masuk ke Sundance Film Festival sampai dibeli oleh korporasi dari Amerika Serikat dan Inggris. Lucunya, ketika mempublikasikan film Killers, tanpa berpikir gue sempat mengucap untuk memproduksi film yang lebih umum, yang bisa dinikmati segala usia, bersifat kekeluargaan, dan bertema olahraga. Bagaikan takdir (walau dalam waktu yang cukup panjang) delapan tahun kemudian gue pun merealisasikannya dalam film Susi Susanti: Love All. Cukup lama memang untuk mewujudkannya tapi kenapa gue tetap gigih padahal tidak jadi produser gue tetap punya pekerjaan?

Ketika menjadi presenter atau aktor, gue hanya membaca dan menghapalkan sebuah naskah yang dituliskan sang sutradara. Gue cuma menjalani tugas untuk melakoni suatu peran, menyampaikan pesan sutradara pada masyarakat. Berbeda saat menjadi seorang produser. Gue membuat sesuatu dari nol. Bagaikan sebuah kanvas putih, gue menorehkan warna dengan berbagai pesan yang ingin disampaikan. Gue terlibat dalam proses kreatifnya, bisa memberikan pengaruh, dan menyebarkan kebahagiaan yang semuanya dikemas dalam bentuk sebuah produk hiburan. Apalagi ketika gue tahu film yang gue produksi memiliki nilai lebih untuk membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi. Dalam film Susi Susanti: Love All, banyak sekali nilai perjuangan, pesan moral dan sosial yang bisa disebarkan dan inilah momentum yang tepat untuk gue bisa berkontribusi membawa nama Indonesia ke ranah yang lebih luas, untuk menceritakan bagaimana Indonesia itu sebenarnya.

Film ini membuka ruang diskusi untuk menginterpretasi arti kesuksesan secara luas. Gue berharap masyarakat bisa melakukan refleksi pada pemahaman sukses itu sendiri dari karakter Susi Susanti. Mendiskusikan apakah seseorang seperti Susi Susanti dikatakan sukses saat mendapatkan medali emas atau apakah dia justru dikatakan sukses ketika menggantung raketnya dan memutuskan untuk berkeluarga? Gue menyebut beliau adalah seorang world’s class Indonesian. Adalah seseorang yang menampilkan kemasan “lokal” namun interiornya berstandar internasional. Saat berusia 14 tahun saja beliau sudah menjadi junior world’s champion. Terbayang tidak seorang perempuan dari Tasikmalaya bisa mengalahkan mereka yang dari Cina, Korea, bahkan Swedia. Di masa banyak orang yang bilang kita orang Indonesia memiliki mental dijajah seorang Susi Susanti justru tidak merasa demikian. Gue ingat sekali waktu beliau cerita bagaimana melawan orang barat lalu bilang dalam hati, “Yah, gue kasih dia score dua aja, deh.” Keyakinannya yang begitu kuat di mana beliau tahu dia lincah, dia jago main badminton, membuatnya tidak terintimidasi oleh mereka yang mungkin tampilannya mengintimidasi. Inilah salah satu faktor mengapa gue ingin sekali memproduksi film yang menceritakan kisah kehidupan seorang Susi Susanti. Gue menemukan kesamaan dengan beliau. Gue merasa kemampuan dan selera gue bisa disejajarkan dengan orang Barat. Yang membuat orang Indonesia kalah adalah kepercayaan diri. Orang luar terbiasa untuk melakukan pencitraan yang seringkali membuat orang Indonesia merasa terintimidasi. Di sini saat kita tidak rendah hati, saat kita berusaha untuk menunjukkan apa yang kita bisa pasti sudah dicemooh orang lain, utamanya para warganet.

Yang membuat orang Indonesia kalah adalah kepercayaan diri. Orang luar terbiasa untuk melakukan pencitraan yang seringkali membuat orang Indonesia merasa terintimidasi.

Tidak hanya berhenti di sana. Film ini juga sarat akan pesan nasionalisme. Tentang bagaimana sebenarnya mencintai bangsa ini. Cinta sebenarnya adalah pilihan dan dalam membuktikannya tidak perlu dengan banyak omong bilang. Perbuatanlah yang bisa membuktikannya. Act on it.  Kita punya pilihan untuk mencintai bangsa dengan pekerjaan yang sedang kita geluti sekarang. Apapun pekerjaannya asal tujuan besarnya adalah untuk menjadikan Indonesia tempat yang lebih baik berarti kita membuktikan rasa cinta kepada negara ini. Jadi atasan kita bukan lagi Bapak A atau Ibu B, tapi Indonesia. Kami juga berharap masyarakat dapat melihat relevansi antara tragedi yang terjadi pada masa Susi Susanti dulu dengan kondisi sekarang. Isu keberagaman yang menyudutkan kaum minoritas, isu anarkis dan perpecahan yang membuat kita kehilangan rasa cinta pada negara. Kami berharap film ini dapat menyebarkan rasa cinta pada sesama terutama pada siapapun yang berwarga negara Indonesia. Baik dia yang berketurunan Tionghoa, Papua, Batak, jika mereka warga negara Indonesia, mereka adalah orang Indonesia dan mereka mereka memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai bangsa ini.

Terlepas dari kisah hidup seorang Susi Susanti yang sungguh inspiratif, gue pun mendapatkan pelajaran yang amat berharga dari beliau. Tentang berserah. Beliau adalah seseorang yang sangat spiritual, yang sangat mendengarkan kata hatinya dan berserah pada waktunya Tuhan. Kemudian setelah menyelesaikan film ini, gue merefleksikan ke delapan tahun lalu ketika pertama kali bertemu beliau. Setelah banyak mendengarkan cerita kehidupan dan pencapaiannya gue bilang, “Ci, aku pengen banget bikin film tentang Ci Susi (Susanti).” Beliau setuju, menjawab, “Boleh, aku percayain semua sama Daniel, ya.” Lalu perjalanannya pun ternyata tidak semudah itu. Selama proses mewujudkan harapan gue memproduksi film Susi Susanti, ternyata banyak pihak yang juga mendekati beliau dan menawarkan untuk membuatkan film. Tapi beliau selalu bilang pada mereka untuk datang ke gue apapun yang berhubungan soal film beliau. Padahal kami belum ada tanda tangan kontrak atau perjanjian apapun. Empat atau lima tahun kemudian barulah akhirnya gue mendapat pencerahan dan mulai proses lebih serius sampai tiba periode publikasi. Seakan semesta berkonspirasi, belakangan muncul isu tentang bulutangkis yang menguak di masyarakat. Satu Indonesia sedang banyak membicarakan bulutangkis lagi. Seakan membuat film ini jadi amat relevan. Sampai kemarin saat kami mempublikasikan trailer, gue bilang, “Ci, terima kasih sekali ya sudah memberikan kepercayaan besar. Akhirnya kita bisa selesai dan rilis juga.” Beliau pun menjawab, “Iya ya, memang waktunya Tuhan waktu yang paling sempurna.” Kata-kata beliau ini kemudian melekat sampai akhirnya membuat gue menghidupi kepercayaan untuk berserah sama waktunya Tuhan karena waktu-Nya adalah yang paling sempurna.

Gue menghidupi kepercayaan untuk berserah sama waktunya Tuhan karena waktu-Nya adalah yang paling sempurna.

Related Articles

Card image
Self
Mengurai Keterikatan

Manusia seringkali ingin terikat dengan hal-hal yang berupa material karena sebagai manusia, kita cenderung tidak mau atau menghindari diri dari risiko. Termasuk risiko tertinggal yang menghadirkan FOMO (Fear Of Missing Out). Ketika kita terlalu terikat dengan benda, kita sebenarnya sedang mengurangi kepercayaan diri karena cenderung tidak bisa mandiri tanpa benda tersebut. Akhirnya, jadi bergantung dengan benda tersebut.

By Cynthia S. Lestari
12 June 2021
Card image
Self
Cinta Lebih Dari Sekadar Kata

Cinta adalah sesederhana menghadirkan kasih, mengimani kehadirannya sebagai energi untuk kita beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah sebuah tindakan di mana bisa dirasakan semua orang, sekalipun ia tidak bisa melihat atau tidak bisa menulis. Jadi sebenarnya, cinta melebihi kata-kata dan definisinya.

By ASHKAN
12 June 2021
Card image
Self
Setiap Momen Berharga

Kalau kita tidak bisa menikmati waktu, kita bisa tiba-tiba melupakan apa yang terjadi begitu saja. Dan jika kita tidak mencintai apa yang dilakukan saat ini, lalu apa yang sebenarnya sedang kita lakukan?

By noui
05 June 2021