Self Planet & People

Antara Pilihan, Perjalanan dan Tujuan

Diego Yanuar

@diegoyanuar

Pesepeda

Fotografi Oleh: Diego Yanuar

Sadar tidak kalau sebenarnya tak ada seorang pun di muka bumi ini yang tahu apa tujuan hidupnya. Bayangkan kalau semua orang tahu apa yang diinginkan, dunia ini pasti jadi sangat tenteram. Ya, itu gambaran semesta yang sempurna bukan kenyataan yang ada. Jika semuanya dibuat mudah manusia pasti jadi lebih jemawa dan sulit ‘berkaca’. Di sisi lain, karena kita semua tidak tahu apa yang kita mau dalam hidup, kita jadi membangun sisi ikut-ikutan. Sistem hukum, agama, dan peraturan di masyarakat menjadi titik tolak manusia dalam menjalani kehidupan mainstream sehingga kita terbiasa untuk mengikuti aturan dan apa yang dilakukan orang kebanyakan.

Banyak orang di zaman modern terlihat seperti tidak ingin kehilangan momen. Ingin ini, ingin itu, ingin menangkap semua momen yang belum dimiliki sebelumnya atau saat ini. Seolah-olah mengejar waktu, mengejar ruang, mengejar peristiwa yang istimewa. Mungkin itu disebabkan oleh adanya keharusan bertahan hidup pada diri setiap pribadi di mana terkait pula dengan keinginan untuk lebih unggul dari orang lain yang sebenarnya menuntun manusia kepada dampak evolusi. Hanya manusialah makhluk hidup yang memiliki kemampuan untuk memilih. Kita punya akses untuk memilih apakah kita mau hidup dalam banyak pilihan atau tidak. Bisa sadar bahwa sebenarnya kita tidak perlu yang berlebihan, tidak perlu banyak pilihan. Akan tetapi manusia juga satu-satunya makhluk hidup yang dapat memilih untuk tidak berada dalam pilihan untuk memilih satu pilihan tersebut.

Banyak orang di zaman modern terlihat seperti tidak ingin kehilangan momen. Ingin ini, ingin itu, ingin menangkap semua momen yang belum dimiliki sebelumnya atau saat ini.

Beranjak dewasa saya merasa selalu menempatkan diri pada zona tidak nyaman. Saya tidak betah berada di zona nyaman dan selalu berada dalam situasi yang tidak stabil, tidak ada yang pasti. Sebelum memulai perjalanan bersepeda dari Belanda ke Indonesia, saya bahkan melontarkan pernyataan: “Mau dibawa ke mana ya hidup saya?”. Saya merasa kehidupan yang monoton, keseharian yang itu-itu saja mendorong saya untuk keluar dari batas. Ketika suatu saat berada di pesawat bersama Marlies Fennema, pasangan saya yang berasal dari Belanda, kami bergurau untuk melihat negara-negara yang dilewati dari Indonesia ke Belanda lewat jalur darat. Hasrat tersebut awalnya hanya dari sekadar keingintahuan kami akan kehidupan di luar keseharian pada biasanya. Tidak ada pemikiran untuk mendapat popularitas bahkan tidak ingin membaginya pada siapapun. Meski pada akhirnya kami pun mengarahkan pengalaman untuk penggalangan donasi yang dibagikan pada manusia, tumbuhan dan hewan lewat eksibisi fotografi dari perjalanan tersebut.

Hanya tetap saja inti dari penjelajahan kami berdampak besar bagi diri kami sendiri. Bersepeda melewati 23 negara dan dua benua – dari Eropa ke Asia, membuahkan perspektif baru tentang kehidupan yang berkaitan dengan seluruh makhluk hidup di bumi: manusia, tumbuhan dan hewan. Hubungan kami yang menggabungkan dua budaya yang berbeda saja (Indonesia dan Belanda) sudah menjadi poin penting dalam ekspedisi ini dalam kaitannya dengan pemikiran kehidupan. Ditambah dengan penemuan kami terhadap budaya, adat, makanan, hingga cara setiap orang yang berbeda di setiap kota, dan negara dalam berkomunikasi dan menjalani hidup mereka. Betapa inspiratifnya kehidupan masyarakat yang sederhana di mana kebahagiaan terpancar dari mereka yang tidak memiliki banyak pilihan. Mereka hidup dalam sedikitnya pilihan dan tak perlu susah payah untuk memikirkan pencapaian pilihan lain di luar pilihan nan terbatas itu. Belum lagi pemahaman kami dalam berinteraksi dengan ruang dan waktu serta alam. Betapa seseorang sangatlah kecil di muka bumi yang amat luas ini.

Betapa seseorang sangatlah kecil di muka bumi yang amat luas ini.

Namun yang paling membuat saya dan Marlies tertegun adalah sewaktu mengunjungi negara Iran. Sebagian orang menilai Iran hanya sebagai sebuah negara konflik yang hanya didominasi gurun saja. Padahal tidak begitu. Orang-orang Iran adalah orang-orang paling ramah yang pernah kami temui sepanjang perjalanan 23 negara tersebut. Faktanya adalah negara Iran merupakan salah satu peradaban tertua di dunia, melahirkan pribadi yang memiliki sisi seni yang amat kuat dan penuh dengan nilai filsafat yang tinggi. Orang asing yang masuk ke negara mereka dianggap sebagai utusan Tuhan sehingga harus diperlakukan dengan sangat baik. Bahkan ketika mengunjungi rumah salah satu orang Iran dan memuji rumahnya yang indah dia justru memuji kembali saya berkata, “Tidak, matamu-lah yang indah sehingga kamu melihat rumah saya menjadi indah.”

Setiap kisah yang bersemayam dalam diri inilah yang membuat saya dan Marlies menilai banyak hal dalam hidup jadi amat berbeda. Menilai diri kami berbeda dan spesial. Tapi bukan berarti menilai diri kami lebih dari orang lain. Bukan. Justru berpandangan bahwa setiap orang bisa saja merasa berbeda, jadi lebih istimewa jika mereka berhenti membandingkan diri mereka dengan orang lain. Karena semua momen yang ada di dunia sudah tersedia sedemikian rupa untuk kita sendiri. Kita tidak perlu susah-susah mengejar momen tersebut. Masing-masing pribadi memiliki momen sendiri dan semua orang istimewa jika tahu bagaimana cara menikmati momen dan pilihannya tersebut.

Setiap orang bisa saja merasa berbeda, jadi lebih istimewa jika mereka berhenti membandingkan diri mereka dengan orang lain.

Related Articles

Card image
Self
Hidup Bukan Perkara Kalah-Menang

Kian modern dunia, kian kita memberikan banyak label dan pengertian label tersebut. Seperti pada kata kalah dan menang. Kita tak akan pernah tahu seperti apa rasanya menang jika tak mengerti pemahaman menang, bukan? Begitu pun sebaliknya. Namun, meski tahu arti kalah-menang, kita seringkali memberikan penerjemahan yang terlalu negatif pada kata kalah.

By Greatmind
20 April 2019
Card image
Self
Makna Sebuah Hidangan

Saat saya mulai bosan dengan segala bentuk makanan yang terkesan mewah dan kompleks, saya pun mulai merasa terganggu melihat foto-foto makanan di sosial media. Tersentak melihat betapa dangkalnya persepsi manusia terhadap makanan. Seolah, kebanyakan orang lupa keberadaan makanan itu sebenarnya untuk apa.

By Arimbi Nimpuno
20 April 2019
Card image
Self
Cinta Yang Memabukkan

Cinta bisa membuat seseorang merespon hal-hal palsu dengan cara seolah benar-benar terjadi. Emosi dibiarkan menguasai pikiran dan jiwa. Dengan kata lain, terkadang cinta bisa membuat orang menjadi ‘gila’.

By Greatmind
20 April 2019