Circle Love & Relationship

Antara Ibu dan Anak Perempuannya

Nurul Idzni

@nurulidzni__

Penulis & Pengusaha Kreatif

Hubungan antara ibu dan anak perempuannya boleh dibilang adalah salah satu bentuk hubungan yang cukup menantang. Bahkan, dalam sebuah penelitian, dikatakan lebih menantang daripada hubungan ayah dengan anak perempuannya, ibu dan anak laki-lakinya, atau ayah pada anak laki-lakinya. Mulai dari masa kecil di mana biasanya anak perempuan sangat dekat dan mengidolakan sang ibu, masa remaja yang diwarnai perbedaan pendapat, hingga pelan-pelan menjadi kembali satu nilai saat akhirnya si anak perempuan dewasa dan memiliki anak sendiri. Meski pola yang terjadi tidak selalu demikian, saya yakin, setiap anak perempuan tentu memiliki cerita berbeda dengan ibu mereka, yang pasti sangat dipenuhi warna.

Banyaknya hubungan ibu dan anak perempuannya dari waktu ke waktu, sangat berkaitan dengan kemampuan ibu untuk tumbuh dan berubah dalam hubungan.

Sebagai anak pertama dari empat bersaudara perempuan dengan usia dan karakter berbeda, saya melihat sendiri bagaimana tricky-nya ibu untuk dapat mengakomodir kebutuhan kami semua. Peg Streep, seorang penulis yang banyak menulis mengenai hubungan anak perempuan dan ibunya, berpendapat, “Banyaknya hubungan ibu dan anak perempuannya dari waktu ke waktu, sangat berkaitan dengan kemampuan ibu untuk tumbuh dan berubah dalam hubungan.” Ia juga menambahkan, bila ibu tidak dapat berubah sesuai dengan kebutuhan anak perempuannya pada usia tertentu, maka umumnya hubungan mereka menjadi lebih sulit. Ya, dan saya menganggap ibu saya hingga sejauh ini berhasil melakukannya, paling tidak untuk diri saya sendiri. Tapi tentunya, saya baru dapat mengatakan hal demikian saat usia saya kini sudah lewat dari seperempat abad. Sebelumnya? Oh, tentu saja sangat berseberangan.

Dulu saat saya masih kecil, saya termasuk anak pemalu dan sangat menempel pada ibu. Ibu adalah segalanya, deh, pokoknya. Masuk usia sekolah, saya menganggap ibu adalah pribadi yang sangat galak. She’s a real tiger mother dengan segala aturan dan kedisiplinan yang ia terapkan pada anak-anaknya. Ketika remaja, boleh dibilang adalah masa-masa paling penuh tensi antara saya dan ibu. Sering berbeda pendapat, sering bertengkar, sering menangis, sering melakukan pemberontakan, dan lain sebagainya. Pada masa ini, pernah tidak sengaja saya membaca tulisan Mbak Petty Fatimah tentang hubungan anak perempuan dan ibunya. Beginilah kutipannya:

Saat remaja anak perempuan biasanya sulit akur dengan ibunya. Karena ibu terlalu cerewet, pengatur, dan selalu mau tahu urusan 'rahasia'. Menyebalkan. Lalu kita bilang pada diri sendiri, pokoknya jangan sampai kita seperti dia nantinya. Kenyataannya, makin kita besar, makin kita mirip dengan ibu.

Deg! Spontan, saat saya membaca kalimat terakhir tersebut, saya membatin penuh ketidaksetujuan. Saya tidak mau menjadi seperti ibu yang menurut saya galak dan keras pada saat itu. Saya ingin menjadi sosok sebaliknya yang lebih lembut dan membebaskan, yang menurut penilaian saya di usia remaja, adalah karakter ibu ideal. Saya belum sadar, bila saat itu, saya tengah menaruh ekspektasi pada ibu. Dan seperti ekspektasi pada umumnya, bila apa yang terjadi atau yang kita temui sebenarnya ternyata tidak sesuai yang diinginkan, kita pun akan cenderung kecewa, menolak atau tidak menyukainya. Begitu pun sebaliknya. Seorang ibu, seperti sewajarnya orangtua lainnya, pasti memiliki ekspektasi dan harapan akan anaknya, yang menurut pandangan mereka, adalah yang terbaik bagi si anak. Sayangnya, kadang-kadang, anak dan ibu, sama-sama tidak terbuka mengenai apa yang ingin mereka tuju, harapkan, sukai, dan tidak sukai. Mereka pun kadang-kadang tidak terbuka untuk menerima perbedaan pendapat, nilai, dan keputusan yang dimiliki masing-masing, karena sama-sama sudah terlanjur memiliki ekspektasi yang terpatri di benaknya. Saya pun baru menyadari hal ini sekarang sejujurnya, saat berusaha mengevaluasi, mengapa ya dahulu saya bisa banyak ribut dengan ibu.

Saya belum sadar, saya tengah menaruh ekspektasi pada ibu. Dan seperti ekspektasi pada umumnya, bila apa yang kita temui sebenarnya ternyata tidak sesuai yang diinginkan, kita pun akan cenderung kecewa, menolak atau tidak menyukainya.

Dalam bentuk hubungan apapun, memang sudah hal yang lumrah bila kita memiliki suatu ekspektasi dengan siapapun yang kita jalin relasinya. Dengan rekan kerja, mungkin kita berharap ia akan dapat membantu dan meringankan beban kita dalam mencapai target pekerjaan. Dengan kekasih, bisa jadi kita berharap ia akan menjadi pribadi setia yang akan selalu mendukung dan satu visi hingga akhir kelak. Dengan orangtua, umumnya kita ingin mereka agar dapat selalu ada, mendukung, dan membuat diri kita aman. Tapi, setiap orang tentu memiliki kapasitasnya masing-masing. Dan tidak ada hubungan yang seratus persen berjalan sempurna. Jadi, alih-alih memaksakan orang lain untuk memahami diri kita, mengapa tidak kita mencoba memposisikan diri kita menjadi lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan orang lain? Karena, sedekat atau seberpengaruh apapun kita, tetap, kita tidak akan bisa mengubah siapapun kecuali diri kita sendiri.

Setiap orang memiliki kapasitasnya masing-masing. Dan tidak ada hubungan yang seratus persen sempurna. Jadi, alih-alih memaksakan orang lain untuk memahami diri kita, mengapa tidak kita mencoba memposisikan diri kita menjadi lebih fleksibel dalam menyesuaikan diri ?

Menurut seorang psikolog dan penulis buku, Roni Cohen-Sandler, keluhan utama yang dimiliki anak perempuan tentang ibu mereka adalah, ibu terlalu berusaha menjadi ‘orangtua’ bagi mereka, terlalu kritis, serta banyak menuntut. Sebaliknya, dari perspektif ibu, mereka mengeluh bila anak perempuan cenderung tidak mendengarkan mereka, membuat pilihan yang buruk, dan tidak punya waktu untuk mereka.

Bila sebelumnya di atas disebutkan oleh Peg Streep bahwa dalam hubungan yang sehat seorang ibu perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan anak perempuannya, dalam kacamata saya, seorang anak perempuan pun juga perlu menyesuaikan diri dengan ibu mereka yang juga tumbuh dan berkembang. Kita sering menganggap ibu adalah sekedar orangtua saja. Kita kadang lupa bila ia jugalah seorang individu yang telah melalui banyak hal dan memiliki impiannya sendiri yang tengah ia kejar. Secara tidak sadar, anak perempuan pun akan tumbuh menjadi seperti ibunya, terlepas bagaimana kondisi hubungan mereka. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Julian De Silva, anak perempuan kemungkinan besar akan mulai berhenti memberontak dan mengadopsi sikap serta selera yang sama seperti ibu mereka dalam beberapa tahun pertama setelah memiliki anak pertama mereka, atau sekitar usia 33 tahun. Dalam penelitian lainnya, disebutkan juga bahwa struktur otak dan sifat psikologis ibu akan menurun pada anak perempuannya. Oleh karenanya, kalau boleh, saya ingin menertawakan diri di masa lalu, untuk apa ya dulu saya agak memberontak. Ujung-ujungnya pun, saya setuju dan mengerti bila semua itu untuk kebaikan saya sendiri.

Kita sering menganggap ibu adalah sekedar orangtua saja. Kita kadang lupa bila ia jugalah seorang individu yang telah melalui banyak hal dan memiliki impiannya sendiri yang tengah ia kejar.

Ya, walaupun kini saya mulai akur dengan ibu, tapi tetap tidak menutup kemungkinan kita kembali memiliki perbedaan pendapat. Dan, setiap kali hal ini terjadi, apa yang akan saya lakukan untuk melakukan negosiasi adalah, pertama, mencoba menempatkan diri di posisi ibu, untuk memperkirakan alasan ia memiliki suatu pandangan atau keputusan tertentu. Kedua, bila ternyata saya belum dapat memperkirakan alasan di baliknya, saya akan mencoba menanyakannya secara langsung dan berusaha mendengar serta memahami pendapatnya. Ketiga, saya akan terbuka mengenai apa saya inginkan pada ibu, beserta alasan-alasan yang mengikuti. Dulu, saat saya masih pemalu serta belum mampu ‘berargumen’ dengan baik dan lancar, saya selalu menulis apa yang ingin saya utarakan pada secarik kertas, dan membiarkan ibu membacanya sendiri. Ibu akan menanggapi secara lisan, namun kemudian saya kembali membalasnya melalui tulisan. Terakhir, mulailah masuk ke tahap negosiasi dimana kita biasanya setuju pada satu kesepakatan yang menurut kita sama-sama enak untuk kedua pihak. Mencoba terbuka dan bernegosiasi dengan ibu memang kadang-kadang cukup sulit, dan mungkin tidak serta merta bisa dilakukan di sekali waktu. Namun, bagaimana pun juga, ia adalah ibu kita, yang menyayangi dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya – walaupun mungkin kita belum menyadarinya.

 

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Menemukan Makna dan Pentingnya Pelestarian Budaya

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kadang kita lupa bahwa pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kembali ke akar budaya yang selama ini sudah ada, menghidupi kembali filosofi Tri Hita Karana, di mana kita menciptakan keselarasan antara alam, manusia, dan pencipta. Filosofi inilah yang coba dihidupkan Nuanu.

By Ida Ayu Astari Prada
25 May 2024
Card image
Circle
Kembali Merangkai Sebuah Keluarga

Selama aku tumbuh besar, aku tidak pernah merasa pantas untuk disayang. Mungkin karena aku tidak pernah merasakan kasih sayang hangat dari kedua orang tua saat kecil. Sejauh ingatan yang bisa aku kenang, sosok yang selalu hadir semasa aku kecil hingga remaja adalah Popo dan Kung-Kung.

By Greatmind
24 November 2023
Card image
Circle
Pernah Deep Talk Sama Orang Tua?

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali lo ngobrol bareng ibu atau bapak? Bukan, bukan hanya sekedar bertanya sudah makan atau belum lalu kemudian selesai, melainkan perbincangan yang lebih mendalam mengenai apa yang sedang lo kerjakan atau usahakan.

By Greatmind x Folkative
26 August 2023