Circle Love & Relationship

Zen Parenting: Merawat Dan Mendidik Dalam Damai

Dulu orang sering mengatakan bahwa menjadi orang tua itu susah karena tidak ada sekolahnya. Tapi saat ini, alasan tersebut tak lagi relevan, karena ilmu parenting bisa diperoleh dari berbagai sumber. Hal itu sangat kurasakan, ketika mulai menjadi ibu. Berbagai buku dan pelatihan parenting menjadi penolongku menghadapi masa-masa awal beralih peran dari seorang anak, menjadi orang tua. Sebab sejujurnya, menjadi ibu dan orang tua, adalah dunia yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku tidak tahu bahwa dalam kehamilan dan persalinan, ada banyak sekali persoalan yang harus dipelajari.

Beruntung sekali, sebelum waktu melahirkan tiba, aku berkenalan dengan konsep gentle birth dan juga doula atau pendamping persalinan. Dari para doula inilah aku mengenal apa yang disebut sebagai mindful parenting. Sebuah soal yang tidak banyak kuperoleh dari teman-teman, yang barangkali tak merasa perlu membagi pengalamannya denganku karena belum menjadi ibu. Itu pun, saat awal menjadi ibu, kondisi diriku sangat tidak zen. Tidak tenang dan damai.

Barangkali karena aku sangat kaget mengalami perubahan yang demikian drastis. Apalagi aku juga punya masalah dengan ASI (air susu ibu), sehingga aku merasa tidak aman dengan berat badan anakku ketika baru lahir. Lagi-lagi, aku sangat terbantu sekali dengan hubungan baikku dengan para doula yang terus mendukung, menyemangati dan menjadi teman berbagi yang sangat membantuku jadi lebih kuat dan tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa sangat beruntung memiliki mereka.

Saat punya masalah dengan ASI aku juga berkonsultasi dengan penyembuh holistik Reza Gunawan yang juga memberi banyak nasihat tentang bagaimana menjadi orang tua. Darinya aku mengetahui bahwa sebenarnya orang tua perlu mengenali anak sebelum bisa mendidiknya dengan baik. Kalau ada yang mengibaratkan anak sebagai kertas putih yang baik buruknya tergantung “tulisan” yang ditorehkan orang tuanya, maka orangtua perlu mengetahui jenis kertas seperti apa anaknya agar ia bisa menulis dengan baik sesuai karakter kertasnya.

Kalau kertas itu dilapisi plastik laminating, tentu ia tak akan bisa ditulisi dengan menggunakan krayon. Begitu juga, bila sang anak adalah kertas yang bisa ditulisi krayon, tetap tak bisa orangtuanya terus menulis kendati kertasnya telah penuh karena tulisan-tulisan itu akan kehilangan maknanya. Analogi ini sangat mengena di hatiku. Kita memang perlu mengenali karakter anak-anak supaya kita tahu bagaimana memberi warna yang tepat. Aku kira itu yang disebut value. Nilai.

Dari pengetahuan yang aku peroleh lewat berbagai bacaan dan pelatihan parenting, aku jadi tahu kalau setiap anak mempunyai karakter bawaan dan memang benar bahwa menurut sains, anak dibentuk dari gen kedua orangtuanya dan lingkungannya. Bahkan selama sembilan bulan dalam kandungan pun, anak ini juga ikut merasakan apa yang ibunya rasakan.

Hal ini ikut membentuk bagaimana “tekstur kertas” si anak itu kelak. Karena hal ini aku baru memaklumi kenapa kadangkala ada banyak sekali pantangan yang harus dihindari oleh perempuan hamil. Ternyata bukan semata demi kesehatan saja, tapi juga karena apa yang dialami, didengar, dirasakan ternyata akan membentuk karakter sang anak. Memang itu tidak menentukan sukses tidak atau baik tidaknya sang anak, tapi bukankah akan lebih baik bila semua dijaga?

Sehabis melahirkan dan memutuskan meninggalkan aktivitas yang aku lakukan sebelum punya anak, pernah ada satu titik di mana aku merasa sangat tidak berdaya. Merasa tidak puas dengan hidupku yang hanya mengurusi anak saja. Aku lalu membaca beberapa buku dan mengikuti beberapa kelas parenting, dan mendapat masukan yang sangat mengena tentang bagaimana kita merawat anak sesuatu dengan fitrahnya.

Dari situ aku tersadar, apa maksud Tuhan memberiku anak. Aku yang sebelum punya anak rasanya tidak pernah benar-benar dekat dengan Tuhan, tampaknya sedang diajari hal-hal dasar yang selama hidupku tidak bisa diajarkan orang lain, bahkan orangtuaku sendiri. Saat merawat anakku, aku jadi sadar bahwa aku sedang disuruh belajar memahami apa-apa yang selama ini luput untuk dipelajari. Di satu titik aku menyadari bahwa mendidik anak tanpa punya landasan ketuhanan yang baik, kita tidak akan bisa jadi orangtua yang kuat.

Dengan “hanya” menjadi ibu buat anakku, aku sedang diajari bersabar, belajar ikhlas, belajar lebih dekat dengan Tuhan karena tanpa berpegang padaNya, seorang ibu tidak akan kuat menjalani tugsanya. Saat ini, aku selalu menganggap setiap detik yang kuhabiskan untuk anak adalah ibadah dan aku memahami kalau anak itu bukan punya ibunya. Maka kalau sedang kesal dan sangat ingin mencubit dia, misalnya, aku segera mengembalikan ingatan bahwa ia bukan punyaku sehingga aku tidak bisa bertindak semaunya pada dia. Dari situ, aku jadi bisa lebih menerima dan menjalaninya.

Mengetahui nilai-nilai yang ingin diterapkan dalam keluarga dan pola pengasuhan seperti apa yang ingin dipakai juga merupakan sebuah wawasan yang perlu dimiliki seorang ibu. Hal utama yang saat ini aku coba terapkan adalah memberi kepercayaan. Percaya pada kemampuan anak dan memahami apa yang dia ingin ketahui dengan segala percobaan yang dilakukannya. Aku selalu berusaha memegang teguh prinsip bahwa anak tidak ada yang salah. Terkadang dia melakukan sesuatu karena sedang bereksperimen dan ingin mengetahui apa yang belum pernah diketahuinya. Sayang sekali kalau karena kekhawatiran orangtua, seorang anak jadi tidak bisa mengeksplorasi hal yang belum diketahuinya.

Kepercayaan itulah “kuas” yang aku gunakan untuk mewarnai kertas anakku. Namun kepercayaan itu juga memang harus ditapis dan didudukkan pada tempatnya. Kalau membahayakan diri si anak, kita tetap harus menjaganya agar tak mengalami hal yang tak diinginkan. Caranya dengan memberi pijakan berupa pemberitahuan awal tentang bahaya sebuah aktivitas sebelum dia melakukannya dan bukan baru melarang ketika dia sudah melakukannya. Anak-anak umumnya mematuhi instruksi, kalau diberikan sebelum sesuatu terjadi. Kalau sudah terjadi, dan dia sudah melakukannya, akan sulit membuatnya meninggalkan aktivitas tersebut, apalagi kalau membuatnya senang.

Pemberitahuan itu akan membuat anak tahu dan waspada apa yang akan terjadi padanya dan juga belajar percaya pada orang tuanya. Misalnya ketika dia harus menjalani imunisasi. Pemberitahuan sebelumnya akan membuat anak tahu apa yang akan terjadi padanya dan mempersiapkan diri. Ini akan lebih baik ketimbang tiba-tiba dia dibawa ke dokter dan disuntik. Dia akan trauma dan menolak datang ke dokter. Ketika anak sudah punya rasa percaya, anak tidak hanya akan percaya pada orang tuanya tapi juga percaya pada dirinya sendiri dan nanti bisa pula percaya pada orang lain. Pernah ketemu kan dengan orang yang susah sekali percaya pada orang lain dan akhirnya berpengaruh pada relasinya.


Empat Kunci Penting Zen Parenting

Perkuat support system. Hal pertama dan paling utama yang perlu disiapkan dalam zen parenting adalah memperkuat support system. Bangun komunikasi yang baik dengan pasangan juga orang tua agar punya pemahaman yang sama tentang pola pendidikan anak.

Perbanyak sumber wawasan. Sekarang ini, ilmu parenting itu juga sudah bisa dengan sangat mudah didapatkan. Tidak selalu harus mengikuti seminar. Bisa dari baca buku.

Sadari bahwa orang tua bukanlah super hero. Hal yang penting ditanamkan juga adalah bahwa seorang ibu itu bukan super hero. Ibu juga butuh istirahat, butuh berbincang dengan orang lain di luar support system-nya, dan itu merupakan sesuatu yang harus disadari sebagai cara bertahan dan pertolongan pertama seorang ibu. Seorang ibu yang tidak sehat dan tidak bahagia tidak akan bisa mendampingi anak-anaknya menjadi orang yang sehat dan bahagia. Super mom itu tidak ada, karena seorang ibu juga manusia biasa. Tapi peluang masuk ke surganya lebih besar.

Jangan berinteraksi dengan anak dalam keadaan emosi. Ketika seorang ibu mengalami rasa tertekan, merasa lelah, marah dan tidak bisa mengontrol tindakannya. Dalam keadaan demikian, usahakan tidak memegang anak-anaknya. Karena anak-anak, tanpa diucapkan, sangat bisa merasakan kondisi emosi ibunya. Kalau seorang ibu merasa sudah mencapai batas kesabarannya, sebaiknya menjauh dulu, tenangkan diri dan kembali lagi saat emosinya sudah lebih baik. Dalam kondisi seperti ini, seorang ibu juga belajar ilmu negosiasi dengan anak.     

Related Articles

Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021
Card image
Circle
Beropini Sebagai Perempuan

Perempuan tak jarang mendapatkan standar yang berbeda di masyarakat. Beberapa orang masih ada yang beranggapan bahwa perempuan tidak harus punya karir yang cemerlang atau gelar pendidikan lebih tinggi dari sarjana. Padahal di zaman sekarang sepertinya perempuan sudah memiliki hak yang sama untuk memilih karir apa yang mereka inginkan atau setinggi apa tingkat pendidikan yang mereka mau tempuh.

By Greatmind X Fimela Fest 2021
20 November 2021