Circle Love & Relationship

Terjebak Hubungan Manipulatif

Inez Kristanti

@inezkristanti

Psikolog Klinis & Dosen Paruh Waktu

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

“Kamu kurang perhatian sama aku.”

“Aduh kamu yang terlalu sensitif.”

Pernah tidak saat menyatakan sebuah keberatan pada pasangan dia selalu mengelak dan sebaliknya justru memberikan input negatif yang kemudian membuat berpikir Anda memang memiliki sifat negatif tersebut? Jika ya ‒ dan sering, bisa saja Anda berada dalam sebuah hubungan gaslighting. Dalam hubungan yang tidak sehat terdapat banyak unsur kekerasan. Tidak hanya yang terlihat saja seperti kekerasan fisik atau verbal tetapi juga kekerasan emosional atau mental. Salah satu bentuk kekerasan emosional yang belum banyak didengar adalah gaslighting di mana terdapat perilaku manipulatif yang diberikan salah satu pihak yang lebih dominan.

Terminologi ini memang belum banyak yang mengetahui. Awalnya diambil dari film di tahun 40-an yang berjudul Gaslight. Kisahnya bercerita tentang pasangan suami istri yang berada dalam hubungan gaslighting di mana sang suami seringkali “mencuci otak” istrinya dengan perkataan-perkataan judgemental. Membuat si istri lama kelamaan percaya pada tuduhan-tuduhan tersebut dan menghidupi realita yang dibangun oleh suaminya.

Karena kurangnya pengetahuan tentang kekerasan emosional yang satu ini pun banyak orang tidak sadar mereka berada dalam hubungan gaslighting. Biasanya gaslighter (si pelaku) merupakan seseorang yang memiliki karisma tersendiri. Pintar membuai, membuatnya sangat didambakan sampai bisa mengatur perasaan pasangan. Secara tidak sadar sebenarnya mereka pun memiliki masalah psikis sehingga mungkin saja dia tidak menyadari telah  melakukan kekerasan emosional terhadap pasangan.

Selaras dengan hal ini, hubungan gaslighting lebih mudah terjadi karena sang korban kurang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dia adalah pribadi yang bergantung dengan pendapat orang lain sehingga mudah sekali dimanipulasi. Akibatnya dia tak lagi memiliki suara dalam hubungan. Ketika tengah dalam hubungan mungkin dampak buruk belum terlihat jelas. Akan tampak saat keduanya putus — kebanyakan sang gaslighter-lah yang akan memutuskan hubungan. Selain depresi, sang korban akan sulit memiliki hubungan baru karena telah memercayai tuduhan negatif yang ditanamkan gaslighter pada dirinya sehingga merasa tidak layak untuk orang lain.

Mempertanyakan diri sendiri. “Benar tidak ya saya begitu?”. Seseorang yang berada dalam hubungan gaslighting acap kali mempertanyakan diri sendiri akan tuduhan yang diberikan pasangan meski tidak benar. Contohnya dalam pemberian label needy.

Seseorang memang needy jika ia terlalu sering meminta pada pasangannya akan suatu hal. Tetapi jika pasangannya tersebut bukan gaslighter, dia akan membuka dialog dua arah dan menghargai pendapat kemudian memberikan argumen-argumen yang valid, membuktikan label needy yang diberikan. Sedangkan seorang gaslighter tidak akan mengolah permintaan yang disampaikan melainkan langsung ditolak dan menuduhkan label needy.

Membebankan diri sendiri dengan rasa bersalah

Label yang terus menerus ditujukan akhirnya akan diserap dan (secara tidak sadar) membebani sang korban. Hasilnya dia akan sering merasa bersalah dan meminta maaf pada pasangannya sebab sudah menerima dan menganggap label tersebut adalah benar karakternya.

Memberikan alasan berlebih untuk membela pasangan

Perasaan bersalah yang diemban pun lama kelamaan menuntun pada penyangkalan yang salah ketika pihak luar berusaha menyadarkan. Jadi sang korban akan memberikan berbagai alasan untuk membela gaslighter sehubungan dengan perasaan bersalah yang sudah menyatu dengan alam bawah sadar. Seolah-olah dia berkewajiban untuk melindungi sang gaslighter karena tidak mau dicap jelek.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, seseorang yang menerima perlakuan gaslighting oleh pasangan sulit mengidentifikasi indikasi-indikasi tersebut. Kemungkinan mereka keluar dari hubungan tersebut adalah apabila ada orang luar yang membantu mereka untuk mengenalkan terminologi gaslighting ini. Namun memang tidak mudah melihat pembelaan mutlak yang akan dilakukan oleh sang korban. Oleh sebab itu, pihak ketiga dapat mengarahkan untuk berbicara pada profesional dengan dalih pemberian opini yang objektif.

Related Articles

Card image
Circle
Pirrou's Talk: Mengendalikan Obsesi

Menurut Dr. Perpetua Neo, obsesi berawal saat kita merasa vulnerable–rentan. Obsesi berkembang ketika orang yang mencoba untuk “live in their heads” daripada “living their life”. Untuk yang sering dipanggil wibu, tidak perlu merasa beda, inferior atau tidak pede. Obsesi tidak hanya berlaku untuk wibu, loh. Selain kultur Jepang, di dunia ini banyak kok orang-orang yang terobsesi dengan hal lain. 

By Pirrou Sophie
05 November 2022
Card image
Circle
Optimalisasi Kesehatan Diri dan Lingkungan

Tumbuh besar sebagai seorang anak dari orang tua yang bekerja di bidang kesehatan secara tidak langsung menumbuhkan rasa ingin tahu saya mengenai sektor kesehatan. Ibu saya adalah seorang apoteker dan ayah saya bekerja di sebuah rumah sakit. Beberapa tahun kemudian, ayah saya juga membuat klinik kecil di rumah.

By Gigih Septianto
08 October 2022
Card image
Circle
Menikmati Waktu

Saat mendengar kata “timeline ideal” sebagai individu sebenarnya hanya sebuah cara untuk membuat hidup kita lebih tertata. Punya lini masa dalam hidup menurutku di satu sisi bisa membantu kita untuk menentukan apa yang ingin kita jalani agar tidak kewalahan akan banyak hal.

By Satine Zaneta
01 October 2022