Circle Love & Relationship

Pernikahan Tak Sekadar Perayaan

Pernikahan seringkali dianggap menjadi sebuah tindak-lanjut akan keberhasilan sebuah hubungan percintaan. Sayangnya tidak sedikit dari mereka yang hendak menikah tahu apa tujuan mereka menikah. Bahkan banyak yang tidak tahu mengapa memilih pasangannya menjadi suami atau istrinya. Akhirnya persiapan yang mereka lakukan hanyalah tentang perayaan. Mengurus katering, gedung, dan lain sebagainya. Sedangkan persiapan mental sebelum pernikahan tidak menjadi prioritas. Padahal kesiapan mental menjelang pernikahan dapat menjadi bekal untuk para pasangan menghadapi beragam tantangan yang hadir di rumah tangga mereka nantinya. 

Kesiapan mental menjelang pernikahan dapat menjadi bekal untuk para pasangan menghadapi beragam tantangan yang hadir di rumah tangga mereka nantinya. 

Pada dasarnya kita memutuskan menikah pasti untuk bahagia. Rasanya tidak ada seorang pun yang menikah untuk tidak bahagia. Apabila merujuk pada pemahaman ini berarti kata perceraian seharusnya sudah dikesampingkan sejak memutuskan menikah. Memang semua tergantung pada nilai-nilai kehidupan yang diyakini setiap pribadi. Namun kalau sudah memiliki anak, pasangan sepertinya tidak lagi bisa berpikir pernikahan hanyalah tentang mereka berdua. Mereka harus memikirkan dampak yang mungkin dirasakan sang anak jika kata cerai terucap. Oleh sebab itu, sebaiknya sebelum menikah para pasangan sudah harus menanamkan rasa tanggung jawab terhadap institusi pernikahan itu sendiri.

Dari kasus-kasus yang datang pada saya, banyak pasangan yang pernikahannya mulai terombang-ambing di usia pernikahan yang kurang dari lima tahun. Bahkan tidak sedikit yang hanya dalam waktu beberapa bulan setelah menikah sudah merasa tidak cocok. Padahal mereka sebelumnya pacaran bertahun-tahun. Belum lagi dengan berbagai riset yang menunjukkan bahwa satu dari sepuluh perkawinan di Indonesia diakhiri dengan perceraian. Ini menunjukkan banyak orang tidak memiliki kesadaran akan tujuan mereka menikah. Selain juga tidak adanya kesadaran akan segala tantangan yang mungkin mereka hadapi di dalam pernikahan.

Sejatinya pernikahan tidaklah seperti apa yang dibayangkan ketika pacaran. Saya selalu menyarankan pada pasangan untuk mempunyai cita-cita terhadap pernikahan mereka, ingin berada di hubungan pernikahan yang seperti apa. Sudah pasti kebanyakan cita-citanya adalah untuk merasa bahagia. Tapi pertanyaannya adalah apakah semudah itu merasa bahagia dalam penikahan? Tentu saja tidak. Dalam perjalanannya pasangan akan menghadapi berbagai tantangan baik dari internal pribadinya maupun eksternal di luar dirinya. Tantangan pertama berasal dari tidak adanya kesadaran akan perbedaan nilai-nilai. Nilai-nilai bisa bersumber dari ajaran agama, kepercayaan atau tradisi budaya dan pola asuh orang tua yang membentuk kepribadian. Tentu saja perbedaan tersebut menjadi tantangan bagi pasangan karena mereka berasal dari dua orang tua dan keluarga yang berbeda.

Sejatinya pernikahan tidaklah seperti apa yang dibayangkan ketika pacaran. Saya selalu menyarankan pada pasangan untuk mempunyai cita-cita terhadap pernikahan mereka, ingin berada di hubungan pernikahan yang seperti apa.

Ketika memasuki bahtera rumah tangga perlu disadari bahwa kita tidak lagi bisa hidup dengan kepribadian yang dimiliki dari kecil. Prinsip konsep conscious marriage atau menikah secara sadar adalah partnership di mana kedua pasangan harus bisa berubah dan bertumbuh. Sehingga di dalam pernikahan mereka harus siap dan mau berubah. Tidak adanya perubahan dapat berpotensi menjadi konflik yang terus menerus berulang. Jadi sesungguhnya tidak ada istilah terima aku apa adanya. Kalau selalu berharap pasangan bisa menerima kita apa adanya padahal dia tidak berkenan lama kelamaan ia akan lelah dan menumbuhkan rangkaian masalah yang akhirnya mengakar dalam rumah tangga.

Tantangan kedua yang sering terjadi adalah masalah materi atau ekonomi termasuk finansial. Ya, masalah finansial kerap kali menjadi isu penyebab perceraian. Dibutuhkan kejujuran dan kesepakatan dalam mengelola keuangan. Apalagi kalau keduanya sama-sama memiliki penghasilan. Kalau tidak dibicarakan secara terbuka ini dapat menjadi sumber konflik. Variabel diskusinya pun banyak. Mulai dari cara mengelola keuangan, sumber penghasilan dari mana, hingga apa saja yang jadi pengeluaran entah itu asuransi atau biaya pendidikan anak. Baiknya sebelum menikah sudah dibicarakan. Walaupun kenyataannya kondisi keuangan tidak akan selalu sama. Sewaktu-waktu akan ada perubahan situasi. Namun kalau sudah terbiasa dibicarakan secara transparan dari awal pasangan dapat lebih terbiasa mencari solusi bersama nantinya.

Dibutuhkan kejujuran dan kesepakatan dalam mengelola keuangan. Apalagi kalau keduanya sama-sama memiliki penghasilan. Kalau tidak dibicarakan secara terbuka ini dapat menjadi sumber konflik.

Tantangan pernikahan yang juga sering terjadi adalah masalah keintiman. Keintiman di sini asosiasinya tidak hanya semata soal kepuasan seksual tapi soal memelihara kemesraan dan romantisme dalam hubungan itu sendiri. Kuncinya adalah keterbukaan. Tanyakan pada pasangan, “Apakah kamu bahagia menikah denganku?” atau “Kamu puas tidak dengan hubungan seksual kita?”. Pasangan jangan lagi menganggap topik seks adalah hal yang tabu dan harus bisa membicarakannya secara terbuka. Di samping itu pasangan juga harus siap dengan kenyataan bahwa akan ada perubahan secara fisik saat mereka menua. Penampilan tidak lagi muda, tidak lagi seksi atau gagah. Nantinya pun produktivitas untuk kegiatan seksual sudah pasti akan berkurang sehingga bisa memengaruhi kepuasan seksual. 

Menyadari dan memahami adanya segala tantangan adalah sebuah pengetahuan penting untuk mempersiapkan mental kedua pasangan sebelum menikah. Supaya nantinya mereka tidak terkejut dengan kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi dalam pernikahan. Biasanya kalau sudah sadar akan adanya perbedaan nilai-nilai yang menjadi tantangan utama dalam pernikahan, diikuti dengan kesanggupan untuk menerima dan berkompromi atas perbedaan tersebut, tantangan kedua dan ketiga sudah akan lebih mudah dilewati. Oleh sebab itu, penting bagi pasangan mendapatkan bimbingan persiapan pernikahan. Agar tidak hanya sibuk mempersiapkan hari pernikahan namun yang justru lebih penting lagi adalah mempersiapkan perjalanan pernikahan itu sendiri yang akan dilalui hingga akhir hayat.

Related Articles

Card image
Circle
Menempuh Hidup Baru

Kita semua pasti punya pemahaman sendiri-sendiri tentang pernikahan. Sebagian dari kita merasa setelah menikah seakan semua permasalahan dalam hubungan akan selesai. Sayangnya, pemikiran ini menurutku justru akan membuat kita menaruh ekspektasi tinggi terhadap pernikahan itu sendiri. Padahal sebenarnya kita harus melihat ke hubungan sendiri apa yang dibutuhkan di dalam hubungan.

By Faradina Mufti
21 November 2020
Card image
Circle
Mendekat ke Keluarga

Dalam satu waktu, kita pasti pernah mendengar seseorang memberikan saran untuk keluar dari zona nyaman. Namun, dalam waktu seperti sekarang ini kita justru harus bersyukur jika masih bisa berada dalam zona nyaman. Ketika pandemi bermula, aku masih tinggal sendiri setelah kurang lebih lima sampai enam tahun. Lambat laun, aku mulai merasa kesepian, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua.

By Lala Karmela
07 November 2020
Card image
Circle
Teman Pelipur Lara

Aku menyadari, ternyata kita baru akan mengingat seseorang yang amat dekat secara mendalam saat ia sudah tidak ada. Ketika papa masih ada, aku tidak pernah merasakan apapun. Kami hidup bersama sebagai keluarga tapi jarang mengingat secara mendalam kenangan antara kami, apa yang sudah kami jalani. Tapi ketika ia tidak ada, barulah semua kenangan teringat.

By Ify Alyssa
24 October 2020