Circle Lifehacks

Perlukah Kita Membandingkan Diri?

Henny Wirawan

@hennywirawan

Psikoterapis

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Sejak dahulu kala manusia memiliki sifat dasar untuk membandingkan diri dengan manusia lain karena kita tidaklah hidup sendiri. Manusia berusaha untuk mencari perbedaan dirinya dengan manusia lain. Normalnya manusia bisa menerima satu sama lain. Jika ada orang lain yang berbeda dari kita, kita bisa menerima. Sebaliknya jika ada yang sama, kita bisa mensyukuri. Akan tetapi sifat dasar manusia lainnya adalah memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik. Setiap pribadi memiliki kecenderungan untuk ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tak banyak orang yang cita-citanya hidup susah. Mungkin hampir tak ada. Secara naluri, manusia hidup untuk mencari kenikmatan. Misalnya saja kita lapar maka kita akan mencari makan. Kita mencari kenikmatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ketika perut kenyang, kita merasa puas dan damai. Sejalannya waktu dengan bertambahnya kebutuhan dan keinginan, manusia pun semakin ingin yang lebih enak dan lebih baik. Apalagi kalau dari kecil sudah mendapat nutrisi untuk terus hidup yang lebih baik dan lebih tinggi. Sejalannya waktu pun manusia menciptakan persaingan sosial, berlomba jadi paling unggul karena adanya keinginan dan kebutuhan tersebut.

Setiap pribadi memiliki kecenderungan untuk ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Terciptalah isu sosial yang disebut social comparison atau perbandingan sosial. Awalnya perbandingan sosial ini tujuannya positif yakni untuk menjadi evaluasi diri. Manusia membandingkan diri dengan manusia lain untuk melakukan koreksi apa yang kurang dari dirinya sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Keberhasilan seseorang menjadi motivasi kita untuk bergerak maju. Namun yang menyimpang adalah ketika seseorang melakukan perbandingan sosial dengan tujuan untuk mengelola harga dirinya yang buruk. Orang tersebut biasanya kurang memiliki kepercayaan diri sehingga menciptakan perlombaan dengan seseorang yang status sosialnya berada di bawah untuk merasa lebih baik. Ketika bertemu dengan orang yang lebih unggul dari dia, maka orang tersebut akan mudah membangun obsesi untuk mencapai tingkat yang lebih dari orang yang unggul tersebut. 

Lama-kelamaan perbandingan sosial juga memunculkan fenomena panjat sosial. Lagi-lagi pelakunya adalah mereka yang terlalu merendahkan diri sendiri. Mereka merasa ingin seperti panutannya tapi ingin instan. Akhirnya berusaha keras untuk mencapai tingkat tersebut dengan proses yang tidak sewajarnya. Mereka memacu diri dengan melakukan kamuflase, mencari berbagai cara untuk setara meskipun belum setingkat. Sehingga disebut panjat sosial karena mereka melompati proses seharusnya. Akhirnya apa? Timbulah penyakit kecemasan. Mengapa? Karena manusia pada dasarnya tidak bisa berubah secara instan. Ketika membandingkan diri dengan seseorang yang misalnya kelas sosialnya sudah jauh di atas kita, kita terus berusaha keras untuk mendapatkan hal-hal yang orang tersebut dapatkan. Melewati proses yang mungkin mencapai tahunan. Akhirnya kita merasa cemas karena terus berpikir bagaimana untuk terus setara dengan mereka padahal kemampuan kita belum sampai di taraf tersebut.

Manusia membandingkan diri dengan manusia lain untuk melakukan koreksi apa yang kurang dari dirinya sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Di masyarakat kita akhir-akhir ini saya mengamati bahwa yang sering jadi indikasi pembanding adalah masalah penampilan. Utamanya para kaum hawa. Adanya informasi yang terpapar akan satu standar penampilan atau kecantikan membuat seseorang merasa standar tersebutlah yang perlu dikejar. Sehingga jika mereka menemukan wanita-wanita yang diberikan kata sifat “cantik”, “seksi”, mereka berlomba membandingkan diri dengan mereka kemudian mengolah keinginan hingga jadi obsesi ingin seperti mereka. Adanya keinginan menjadi unggul inilah yang mempengaruhi seseorang untuk dapat diakui sehingga mengejar sesuatu yang dianggap dapat memenuhi keinginan tersebut. Ini pula yang jadi sumber kecemasan nantinya. Upaya besar yang dilakukan demi meraih pengakuan berlebihan itu nyatanya berbahaya bagi semua manusia. Apalagi mereka yang masih mencari jati diri. Belum merasa nyaman dan mencintai dirinya sendiri. Mudah sekali untuk tergoda mengejar keinginan semu yang patokannya adalah orang lain. Bahayanya adalah ketika seseorang yang kurang percaya diri merasa dia tidak bisa memenuhi standar itu kemudian malah membatasi diri dari lingkungan sosial.

Sejatinya, kompetisi tidaklah salah. Yang salah adalah ketika kompetisi itu memiliki motif negatif. Contohnya berkompetisi berbuat kebaikan. Buat apa kita berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan orang lain hanya karena ingin diakui sebagai manusia yang baik hati? Hanya untuk disorot orang lain. Begitu juga dengan peringkat akademis. Kalau alasannya hanya karena dorongan dari luar diri, hanya karena untuk menjatuhkan orang lain atau hanya untuk menyombongkan diri, apakah benar kita akan puas? Pertanyaan inilah yang harus sering kita tanyakan pada diri sendiri. Apa tujuannya kita membandingkan diri? Apa tujuannya menang, jadi kaya, pintar, bahkan jadi cantik? Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain lebih baik membandingkan diri dengan diri sendiri yang dulu. Kita tidak akan pernah puas membandingkan diri dengan orang lain. Hanya akan cemas melulu. Boleh saja merasa kagum pada kemampuan orang lain dan ingin tahu bagaimana bisa memiliki kemampuan tersebut. Tapi tetap fokusnya adalah diri sendiri. Coba lihat diri kita sudah sampai mana. Kita bisanya apa, maunya apa, tujuan hidup kita apa. Setiap orang punya visi misi berbeda. Sehingga tidak ada gunanya membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki misi hidup berbeda, kan? Misalnya saja membandingkan kondisi diri dari lima tahun lalu. Apakah saya lebih sehat secara fisik dan mental, lebih bijak dalam mengambil keputusan dari lima tahun lalu? Dengan indikator ini kita pun tidak akan cemas bahwa ada manusia lain tapi jadi lebih dari kita. Akhirnya membandingkan diri dengan manusia lain menjadi sekadar contoh saja tapi tidak menjadikannya indikator utama. Hanya agar kita semangat bergerak maju.

Daripada sibuk membandingkan diri dengan orang lain lebih baik membandingkan diri dengan diri sendiri yang dulu.

Related Articles

Card image
Circle
Kisah Si Bos Besar

Di kantor, saya adalah seorang bos (setidaknya salah satu dari dua pemimpin dari sebuah perusahaan). Saya punya puluhan anak buah, punya banyak relasi, dan punya banyak teman yang memiliki usaha masing-masing. Tapi di rumah saya, predikat bos itu tidak berlaku lagi. Saya seperti bukan siapa-siapa. Bahkan jauh dari itu.  Ada bos yang lebih besar besar dari saya. Semua permintaannya tidak mungkin saya abaikan begitu saja.

By Santi Alaysius
08 August 2020
Card image
Circle
Hidup Harmonis Bersama Narsisis

Mari kita akui bahwa ada sebuah ruang, kecil maupun besar, dalam diri kita yang haus akan perhatian. Ada istilah “narsisisme sehat” yang merupakan bagian dari fungsi normal manusia yang diejawantahkan dalam bentuk kepercayaan diri yang didapat pada prestasi nyata. Narsisisme menjadi masalah ketika individu sibuk dengan diri sendiri, butuh kekaguman yang berlebihan dan persetujuan dari orang lain, tidak peduli dan tidak peka terhadap orang lain.

By Gupta Sitorus
01 August 2020
Card image
Circle
Cinta Tak Bersyarat

Unconditional love atau cinta tak bersyarat menentukan apakah seseorang dapat hidup jujur atau hidup penuh dengan pencitraan. Berhubung tidak ada orang yang sempurna, maka seseorang perlu meyakini bahwa meskipun tidak memenuhi ekspektasi lingkungan sosial, tetap akan ada orang yang mencintainya, dan dirinya tetap berharga.

By Haya Serena
01 August 2020