Circle Planet & People

Merayakan Sepi

Pandemi memberikan efek yang tentunya berbeda bagi setiap individu. Kesepian menjadi salah satu perasaan yang kerap mengiringi selama masa pembatasan sosial terjadi. Mulai dari PSBB hingga kemudian berganti nama menjadi PPKM, sebagian orang masih bergelut untuk bisa mengatasi rasa sepi tersebut. Dead Bachelors, duo yang beranggotakan Narendra Pawaka dan Mario Pratama, menggambarkan proses perjalanan berdamai dengan sepi melalui karya baru yang dihadirkan.

Greatmind (GM): Di masa pandemi ini menurut kalian apakah sejauh ini jadi lebih produktif atau justru sebaliknya?

Narendra Pawaka (NP): Selama PPKM ini sebenarnya kita sudah rilis dua single yaitu "It’s You" dan "Two Bottles of Wine". InsyaAllah juga nanti di bulan November kita akan merilis EP ketiga kita yang berjudul "New Favorite Song".

Mario Pratama (MP): Selama masa PPKM ini kita jadi memaksa diri untuk lebih produktif tepatnya. Kita nggak bisa diam saja sebagai musisi. Dilematis sebenarnya, kita tahu bahwa memang sedang tidak ada panggung, tapi kalau kita nggak melakukan apapun kita akan tenggelam. Mau pilih yang mana? Pasrah saja menunggu pandemi selesai atau mulai bergerak bikin sesuatu. Nah, kita milih untuk mulai bikin sesuatu dan menyibukan diri sendiri.

GM: Setiap orang merasakan kesepian yang berbeda-beda selama pandemi, dari skala 1-10 menurut kalian seberapa berat rasa sepi secara pribadi?

NP: Sebenarnya kita berdua agak beda, nih. Gue menikah seminggu sebelum covid akhirnya menyebar di Indonesia dan akhirnya semua harus ditutup. Jadi gue bersyukur banget bisa menikah sebelum pandemi, akhirnya gue dan pasangan gue, Twinda, menghabiskan waktu satu setengah tahun untuk mengenal satu sama lain. Jadi mungkin di awal bisa dikatakan rasa sepi yang gue rasakan di angka nol.

MP: Ini berbeda banget sama yang gue rasakan, kalau Eda (Naraka Pawaka) bisa menikmati masa pandemi, gua beneran sendirian. Saat ini sebenarnya gue tidak merasa kesepian, tapi gue bahkan sepertinya pernah merasa sepi hingga skala 10. Tapi gue rasa kalau gue nggak melewati fase itu, mungkin nggak akan ada single "Two Bottles of Wine" ini, sih. Tapi gue merasa gue memang harus melewati fase ini.  Di momen ketika umur gue 27 tahun hidup gue agak berantakan. Tapi gue rasa memang gue harus sepi dulu nih, karena gu melihat pattern yang tidak sehat sehabis putus. Gue merasa kesepian dan gua mencari orang lain supaya gue nggak sendirian ternyata ada pattern yang kurang oke, dan akhirnya jadi selalu gagal dalam hubungan. Untungnya ada momen PPKM yang mengharuskan gue untuk berteman dengan diri sendiri dan berdamai dengan kesepian. Gue tahu ini nggak mengenakkan tapi di sisi lain rasanya ini memang proses yang harus gue lewatin. Syukurnya gue sudah keluar dari kesepian itu.

GM: Bagi sebagian orang justru terkadang bertemu pasangan terus menerus bisa menjadi masalah, nih. Nah bagaimana cara Narendra agar bisa tetap menjalin hubungan yang sehat?

NP: Gue dan Twinda ternyata sama-sama suka baca. Kalau di tahun pertama kita saling berbagai tentang diri sendiri, tahun kedua kita berbagi hobi. Ternyata pasangan gue juga anak rumahan dengan hobi yang sama yaitu baca buku. Jadi kita tetap punya waktu sendiri-sendiri di siang hari, nah di malam hari kita bisa ngobrol saat makan malam dan membangkitkan kerinduan masing-masing. Kita semua butuh waktu memang. Ada pembahasan menarik dari salah satu buku yang gue baca, loneliness is depression, kalau lo udah bisa berdamai dengan diri sendiri rasa sepi ini kemudian akan berubah menjadi sebuah award yang bernama alonesess. Loneliness is depression, aloness is joy. Gue dapat dari buku “What Are You Doing in Your Life” karya J. Khrisnamurti. Gue sadar selama hidup kita, kita sudah kesepian ya tapi akhirnya kita bisa menemukan kebahagiaan dari kesendirian kita.

Loneliness is depression, kalau lo sudah bisa berdamai dengan diri sendiri rasa sepi ini kemudian akan berubah menjadi sebuah award yang bernama alonesess. Loneliness is depression, aloness is joy.

GM: Mungkin di lingkungan sekitar kalian adakah mungkin teman dekat yang ternyata sulit menerima rasa sepi ini?

NP: Kita punya podcast yang namanya Duo Budjang podcast. Akhirnya saat kita sempat terkena covid dan harus rehat 1 bulan tanpa episode baru akhirnya ada tiga bulan podcast itu tidak ada isinya sama sekali. Pada momen itu, kita menghilang tanpa obrolan apa pun. Entah apakah ini sehat tiga bulan tidak berbicara? Atau mutual respect-nya sudah sangat tinggi dan kita sudah saling mengerti satu sama lain. 

MP: Tiga bulan itu tentu tidak baik-baik saja, ya. Di sekitar gue juga gue yakin ada banyak orang yang kesepian, karena ini tatanan dunia baru ya jadi kita dipaksa untuk tidak kemana-mana. Ada beberapa yang kesepian karena putus setelah itu dia lupa bagaimana menjadi teman untuk dirinya sendiri. Itu pun terjadi pada gue sebenarnya, di mana akhirnya tiga bulan itu gue berbenah sebenernya arah hidup gue mau kemana.

GM: Kalian sendiri tipe yang seperti apa dalam berteman, apakah inisiatif untuk menghubungi duluan atau sebaliknya?

NP: Kita punya tipe yang berbeda dalam me-reach out teman. Mario mungkin lebih aktif, kita berdua juga punya momen menghilangnya masing-masing. Gue sudah kerja bareng sama Mario sejak tahun 2017, bahkan sepertinya gue lebih sering ketemu sama Mario daripada Twinda. Saat kita kena covid kita juga sama sekali nggak kontakan satu sama lain. Kalau pada titik tertentu gua tahu akan ketemu, yaudah nanti saja gue omongin. 

MP: Setelah bisa merasa stabil dan tenang akhirnya gue belajar untuk mengatasi permasalahan diri gua sendiri dulu, baru akhirnya gue reach out orang lain. Jadi harus ada batasan yang harus kita respect. Lagu "Two Bottles of Wine" itu pengalaman gue pribadi saat merasa sepi. Ternyata gua nggak baik-baik aja nih saat sendirian, menemukan partner juga nggak hanya soal hubungan romantis. Partner kerja juga penting untuk bisa saling memahami karakteristik bersosial satu sama lain. 

Menemukan partner juga nggak hanya soal hubungan romantis. Partner kerja juga penting untuk bisa saling memahami karakteristik bersosial satu sama lain. 

GM: Melalui lagu "Two Bottles of Wine" ini sebenernya apa yang ingin kalian sampaikan kepada para pendengar?

MP:  Awalnya gue nggak ada keinginan untuk orang lain merasakan sesuatu, gue hanya ingin menyalurkan apa yang gue rasakan dalam lagu, tanpa terlalu peduli dengan pemikiran orang lain. Pada akhirnya gue ingin berbagi kalau ternyata kita nggak pernah sesendirian itu. Kita yang merasa akhirnya kita yang membuat kita sesepi itu. Kalau kita merasa sepi mungkin kita yang mengizinkan itu untuk terjadi. Gue akhirnya memberanikan untuk keluar dari belenggu kesepian itu. Padahal lo masih punya mungkin keluarga, saudara, orangtua yang sebenarnya bisa lo reach out. Mari kita rayakan kesepian kita dengan kita menerima dan berdamai dengan diri sendiri, lalu cerita kita bagikan dengan yang lain.

NP: Kita punya pemahaman yang berbeda sebenarnya mengenai lagu ini. Buat gue, lagu ini seperti ada dua orang yang berteman akrab sejak SMA, dan pada titik tertentu kita harus ada di jalan masing-masing. Sampai akhirnya kita bertemu lagi. Kalau dalam bahasa musisi, ini sebuah lagu di mana kita merayakan kesepian menjadi sebuah karya. Mungkin gue nggak banyak ngobrol, nggak nyapa duluan tapi gua tahu dia orang yang penting dalam hidup gue dan tertuang dalam lagu ini.

Pada akhirnya gue pengen berbagi kalau ternyata kita nggak pernah sesendirian itu. Kalau kita merasa sepi mungkin kita yang mengijinkan itu untuk terjadi.

GM: Adakah tips personal dari kalian dalam mengatasi rasa sepi?

NP: Kita butuh escapism, dalam artian gue tahu gue ada di ruangan ini sendiri, tapi gue butuh lagu, podcast, atau suara lain yang menemani di ruangan ini. Kalau kita merasakan itu, itu adalah bentuk dari kesepian. Kalau lo udah bisa tenang di keadaan yang benar-benar hening berati you already feel content with your self at that moment. Salah satu cara dengan berdoa. Kalau belum puas, kita cari cara lain, dan masing-masing orang tentu berbeda.

MP: Kalau gue caranya ngobrol. Menurut gue soal kesepian bukan soal kuantitas tapi kualitas. Apakah kamu punya teman yang bisa diajak deep talk, itu membantu dan kalau memang lagi nggak ada siapa-siapa gue nulis untuk bisa menjadi teman bagi diri gue sendiri. Jangan gengsi karena sebenarnya kita tidak benar-benar sendiri. Jangan gengsi untuk tanya kabar, karena siapa tahu itu juga bisa membantu orang lain, termasuk orangtua kita. Jangan juga merasa bahwa kita melalui semua masalah sendirian, tidak masalah jika kita memang membutuhkan orang lain.

Jangan gengsi karena sebenarnya kita tidak benar-benar sendiri. Jangan gengsi untuk tanya kabar, karena siapa tahu itu juga bisa membantu orang lain, termasuk orangtua kita.

Related Articles

Card image
Circle
Perbedaan Bukan Halangan

Kita perlu akui bahwa di Indonesia, hubungan beda agama masih menjadi masalah besar. Kalau kita tidak mampu menyelesaikan masalahnya, saling kompromi saat berproses, pasti ada sesuatu yang terjadi di depan.  Kami berdua sama-sama yakin dan percaya bahwa memang agama itu sebuah hal yang diturunkan di bumi untuk hal-hal yang positif. Tidak mungkin kemudian kita berdua ribut, ujungnya karena agama.

By Della Dartyan
04 December 2021
Card image
Circle
Perjalanan Melalui Kegagalan

Perasaan gagal dan ragu akan diri sendiri memang menjadi salah satu permasalahan yang sedang dihadapi oleh banyak orang, terlebih generasi Millennial dan Gen Z. Bagi mereka yang mungkin sudah memasuki tahun ke-5 atau 6 perjalanan karir mereka, mulai timbul pertanyaan apakah memang ini pilihan yang tepat untuk masa depan?. Merasa bahwa dirinya tidak berkembang, ditambah dengan segala potongan informasi semu yang terpampang di media sosial.

By Greatmind X Festival Pulih
27 November 2021
Card image
Circle
Keraguan Untuk Kembali Jatuh Cinta

Sebuah penelitian mengatakan bahwa komponen dari rasa cinta adalah rasa saling membutuhkan, saling percaya, optimisme, serta kegembiraan tetapi di sisi lain juga berhubungan dengan perasaan depresi, gelisah, serta kehilangan fokus dan sulit untuk berkonsentrasi. Fakta ini bisa terasa sangat kontradiktif. Jatuh cinta memang sering kali membuat kita bingung sebenarnya bagaimana kita menghadapi perasaan positif dan negatif yang datang bersamaan.

By Sivia Azizah
20 November 2021